CrispyVeritas

Arab Saudi Izinkan Wilayah Udaranya Dimasuki Pesawat Israel

Dalam ketidaksukaan Saudi terhadap Iran, Saudi kini berupaya menarik investasi asing untuk mendanai rencana diversifikasi ekonomi Visi 2030 Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman, yang mendorong Saudi kian dekat kepada Israel.

JERNIH— Pada Rabu (2/9) lalu Arab Saudi akhirnya mengizinkan penerbangan Uni Emirat Arab (UEA) ke semua negara, termasuk penerbangan UEA-Israel, yang melintasi wilayah udara Kerajaan Arab Saudi.

Pernyataan tersebut, sebagaimana ditulis kantor berita Agence France-Presse (AFP),  muncul setelah penerbangan komersial langsung pertama dari Tel Aviv ke Abu Dhabi pada Senin (31/8), yang melewati wilayah udara Saudi. Penerbangan itu menandai  kembali normalnya hubungan Israel-UEA.

Keputusan Saudi itu juga menandai kerja sama Arab Saudi dengan Israel, bahkan setelah negara itu menolak untuk secara terbuka mengikuti keputusan UEA dalam membuka hubungan diplomatik dengan negara Yahudi tersebut.

Kantor berita Saudi mengatakan, Saudi telah menerima permintaan UEA untuk mengizinkan penggunaan wilayah udaranya untuk penerbangan menuju ke UEA dan berangkat dari sana ke semua negara.

Di lain tempat, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu tak sungkan untuk menyatakan kegirangannya akan perkembangan tersebut. Netanyahu menegaskan, penerbangan komersial pertama bersejarah pesawat Israel langsung ke UEA melintasi Arab Saudi pada Senin itu, tidak akan menjadi yang terakhir. “Sekarang terjadi terobosan luar biasa lainnya. Penerbangan akan lebih murah dan lebih pendek. Itu akan mengarah pada pariwisata yang kuat dan mengembangkan ekonomi kita,” kata Netanyahu dalam pernyataan tertulis, tak lama setelah pengumuman resmi Kerajaan Saudi.

Sebelumnya Arab Saudi menegaskan bahwa pihaknya tidak akan pernah membuka hubungan diplomatik dengan Israel, sampai negara Yahudi itu menandatangani perjanjian perdamaian yang diakui secara internasional dengan Palestina.

Dengan demikian, apa yang yang terjadi bisa dianggap sebagai melunaknya sikap Saudi terhadap Israel. “Pengumuman hari ini menandakan menghangatnya hubungan antara Kerajaan Arab Saudi dan Israel. Meski mereka masih sangat berkomitmen terhadap rakyat Palestina, langkah pertama ini adalah langkah besar dan harus dirayakan,” kata Marc Schneier, seorang rabi Yahudi Amerika kepada AFP.

Maret 2018, Air India, yang membuka penerbangan rutin pertama ke Israel, juga diizinkan melintasi wilayah udara Saudi. Sejak saat itu, kebijakan tersebut dinilai sebagai tanda perbaikan di belakang layar dalam hubungan antara Kerajaan Arab Saudi dan Israel.

Namun, Arab Saudi, penentu ekonomi terbesar di dunia Arab dan rumah bagi tempat-tempat paling suci dunia Islam, menghadapi perhitungan politik yang lebih sensitif daripada UEA.

Pengakuan resmi Israel tidak hanya akan dilihat oleh orang-orang Palestina dan pendukung mereka sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan mereka, dan hal itu juga akan merusak citra Kerajaan Saudi sebagai pemimpin dunia Islam.

Pada tahun 2002, Arab Saudi mensponsori Inisiatif Perdamaian Arab yang menyerukan penarikan penuh Israel dari wilayah Palestina yang diduduki dalam Perang Enam Hari tahun 1967 dan solusi yang adil bagi pengungsi Palestina. Imbalannya, Saudi menjanjikan perdamaian dan normalisasi penuh hubungan dengan Israel. Dalam ketidaksukaan Saudi terhadap Iran, Saudi kini berupaya menarik investasi asing untuk mendanai rencana diversifikasi ekonomi Visi 2030 Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman, yang mendorong Saudi kian dekat kepada Israel. [ ]

Back to top button