Crispy

Armenia Diduga Lakukan Kejahatan Perang di Nagorno-Karabakh

“Laporan ini akan menjadi bukti dalam persidangan internasional,”kata dia. “Mereka mengubah masjid menjadi kandang babi dan menghancurkan pekuburan Muslim.”

JERNIH– Lembaga Ombudsman Turki telah menyiapkan laporan tentang dugaan kejahatan perang yang dilakukan oleh Armenia, selama enam minggu pertempuran di wilayah Nagorno-Karabakh. Laporan tersebut akan dikirim ke institusi dan organisasi terkait di Turki dan di seluruh dunia.

Hal tersebut terungkap berdasarkan informasi yang diberikan Kepala Ombudsman Turki, Seref Malkoc, kepada kantor berita pemerintah, Anadolu Agency.

Seref Malkoc mengatakan, mereka memeriksa permukiman sipil yang terkena rudal selama kunjungan lapangan ke Azerbaijan, serta wilayah yang diduduki Armenia. “Sengaja menargetkan pemukiman sipil yang jauh dari garis depan adalah kejahatan terhadap kemanusiaan,”ujar Malkoc kepada Anadolu Agency. “Ini tidak sesuai dengan hak-hak fundamental yang ditetapkan dalam Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia, dan Konvensi Jenewa.”

Malkov mengatakan, laporan itu juga mencakup bagaimana senjata dan bom terlarang digunakan, dan bagaimana sekolah, tempat ibadah, rumah dihancurkan. “Laporan ini akan menjadi bukti dalam persidangan internasional,”kata dia. “Mereka mengubah masjid menjadi kandang babi dan menghancurkan pekuburan Muslim.”

Armenia menduduki Nagorno-Karabakh (juga dikenal sebagai Karabakh Atas) wilayah yang diakui sebagai bagian dari Azerbaijan, pada 1990-an. Bentrokan baru terkait perselisihan itu meletus pada 27 September, dan berlanjut sampai gencatan senjata yang ditengahi Rusia ditandatangani pada 10 November.

Tentara Armenia melancarkan serangan terhadap warga sipil dan pasukan Azerbaijan, dan melanggar tiga perjanjian gencatan senjata kemanusiaan selama konflik 44 hari tersebut, media Turki mencatat.

Azerbaijan membebaskan beberapa kota dan hampir 300 pemukiman dan desa dari pendudukan di tengah pertempuran sengit. Gencatan senjata ini (yang diawasi oleh Rusia dan Turki) dipandang sebagai kemenangan Azerbaijan. Berdasarkan kesepakatan itu, orang-orang Armenia menyerahkan sebagian wilayah yang mereka tempati selama beberapa dekade ke Azerbaijan.

Sementara di Armenia, kekelahan itu telah memantik kekecewaan dan unjuk rasa massal. Pengunjuk rasa Armenia telah menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan, karena “menerima kekalahan”. “Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan negara itu telah mengundurkan diri,” tulis Anadolu Agency. [Anadolu Agency]

Back to top button