Crispy

Aung San Suu Kyi akan Diadili Karena Memiliki Walkie-Talkie Ilegal

  • Tidak ada lagi gerakan masa di jalan-jalan.
  • Pendukung Aung San Suu Kyi memindahkan aksi ke media sosial.
  • Sebuah grup medsos bernama Pembangkangan Sosial, pengenaan pita merah, dan salam tiga jari semakin masif.

JERNIH –– Aung San Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar, akan diseret ke pengadilan dengan tuduhan memiliki walkie-talkie impor dan melanggara protokol Covid-19.

Polisi mengatakan walkie-talkie ditemukan saat penggeledahan di rumah Suu Kyi di Yangon, tempat dia dikurung sejak kudeta militer, Senin lalu.

Pelanggaran protokol Covid-19 dilakukan putri Jenderal Aung San, pahlawan kemerdekaan Myanmar, saat menjabat tangan orang-orang dekatnya.

Suu Kyi, yang tidak kelihatan sejak tentara menahannya, berpotensi dijatuhi hukuman maksimal dua tahun jika dinyatakan bersalah.

Win Myint, presiden terguling Myanmar, juga menghadapi dakwaan melanggar protokol Covid-19 karena menciptakan kerumunan pemilih saat kampanye.

Perlawanan NLD

Tuduhan itu muncul setelah Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) mulai melancarkan perlawanan terhadap militer. Pendukung Suu Kyi dari kalangan dokter, misalnya, menggelar aksi mogok dan pembangkangan sosial.

Dokter-dokter itu melibatkan tenaga medis dan staf rumah sakit. Mereka menolak menangani pasien non-darurat, dan hanya bekerja jika benar-benar pasien butuh pertolongan datang.

Mereka mengenakan pita merah dan penghormatan tiga jari, seperti gerakan protes dalam film Hunger Games. Gerakan serupa juga digunakan aktivis demokrasi di Thailand.

Tentara masih berpatroli di jalan-jalan, panzer nongkrong di sudut-sudut jalan, tapi tidak ada indikasi gerakan masa. Yang ada adalah sejumlah pendukung militer secara sporadis lalu-lalang di jalan-jalan.

Aktivis mengumumkan kampanye di grup Facebook, disebut Gerakan Pembangkangan Sipil, pada Rabu 3 Februari sore. Gerakan ini menghimpun 150 ribu pengikut dalam 24 jam.

“Tujuan gerakan ini adalah menyampaikan pesan bahwa kami hanya menerima pemerintah yang kami pilih,” kata Aung San Min, kepala rumah sakit di Distrik Gangaw.

Bentuk pembangkangan lain, dilakukan masyarakat biasa, adalah menabuh panci dan wajah di depan pintu rumah atau di jendela lantai.

Di jalan-jalan, pengemudi menekan klason mobil tak henti-henti setiap kali melewati truk tentara.

Back to top button