Crispy

Bagaimana Menangani Limbah Terkait Covid-19 di era New Normal?

  • UNEP menyeru setiap negara agar memisahkan limbah terkait Covid-19 di tingkat rumah tangga.
  • Limbah terkait Covid-19, salah satunya masker bekas, harus disegel dan jangan diberi ke pemulung.
  • Pastikan mencuci tangan menyeluruh setelah menyegel kantong limbah terkait Covid-19.

Petaling Jaya — Penduduk kota-kota besar dunia makin sasar akan pentingnya mengenakan masker untuk mencegah penularan virus korona, tapi mereka membuang masker bekas pakai sembarangan.

Masker bekas pakai dilempar begitu saja di pinggir jalan, atau dimasukan ke tong sampah, dan tidak ada daur ulang. Sampah masker diperkirakan menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat.

Dr Theng Lee Cheong, pakar pengelolaan lingkungan dan limbah, mengatakan masker wajah yang berakhir di tempat pembuangan akhir adalah ancaman besar bagi lingkungan.

Di Malaysia, sekitar 10 juta masker dibuang setiap hari. Jumlah itu cendreung meningkat, ketika lebih banyak orang semakin sadar akan pentingnya menutup wajah.

Menjadi lebih banyak lagi ketika New Normal, atau adaptasi kebiasaan baru, menjangkau anak-anak sekolah. Artinya, anak-anak sekolah mulai belajar di kelas.

Theng mencatat masker yang digunakan di rumah sakit, klinik, dan laboratorium, dibuang ke aliran limbah medis dan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

TPA tidak memiliki fasilitas pembuangan sampah masker dengan benar. “Sebab, masker sangat tipis dan terlihat tidak memiliki kuantitas luar biasa. Padahal, dampaknya jangka panjangnya sangat besar,” kata Theng.

Sejauh ini belum ada penelitian khusus pada perspektif limbah masker wajah, karena relatif baru. Theng memperkirakan masker, karena dibuat dari kain bukan anyaman, tidak cepat rusak dan butuh waktu lama untuk terurai.

“Karena risiko kebersihan dan pandemi, masker wajah tidak boleh didaur ulang,” katanya. “Masker wajah yang telah dibuang juga tidak boleh disentuh manusia.”

Menurutnya, menempatkan sampah masker ke tempat daur ulang harus dilarang karena bisa mencemari semua bahan daur ulang. “Juga berisiko bagi pekerja yang menangani daur ulang sampah kering,” katanya.

Secara global, pecinta lingkungan menyaksikan peningkatan polusi plstik dan masker bedah. Kelompok lingkungan OceansAsia mengungkapkan pihaknya telah mengamati peningkatan sampah masker wajah di lepas pantai Hong Kong.

Joffrey Peltier, dari organisasi anal Operation Mer Propere, mengatakan mereka menemukan sampah masker, sarung tangan, dan botol sanitiser tangan di Laut Mediteranea.

Program Lingkungan PBB (UNEP) menyarankan bahwa pembuangan terbuka atau pembakar limbah medis rumah tangga dapat menyebabkan polusi serius, dan menimbulkan ancaman kesehatan manusia dan lingkungan.

UNEP mencatat saat wabah SARS melanda, banyak kota-kota di Cina memperkenalkan sistem pengumpulan terpusat, dengan limbah medis dipisahkan secara tepat.

UNEP juga menyeru semua negara untuk memisah limbah terkait Covid-19 di tingkat rumah tangga. Limbah tidak boleh dibawa pemulung.

Mereka yang menangani limbah disarankan untuk selalu mencuci tangan secara menyeluruh, setelah menyegel kantong sampah terkait Covid-19.

Back to top button