Crispy

HRW: Perdagangan Perempuan ke Cina Menyebar ke Seluruh Asia

Hongkong — Ini bukan cerita lama, tapi salah satu media di Hongkong menemukan bukti terjadinya perdagangan brutal perempuan untuk dijual ke Tiongkok sebagai pengantin.

Di Cina, populasi perempuan menurun sejak 1987. Peneliti memperkirakan Cina saat ini ‘kekurangan’ 30 sampai 40 juta perempuan — ketidak-seimbangan yang diakibatkan tradisi menganak-emaskan anak laki-laki dan kebijakan satu anak sejak 1979 sampai 2015.

Kebijakan lain yang memperburuk keadaan ini adalah pembatasan berkelanjutan terhadap reproduksi perempuan. Kesenjagan gender ini menyulitkan lelaki Cina menemukan pasangan hidup, dan memicu permintaan akan perempuan dari luar negeri.

Human Right Watch baru-baru ini merilis dokumentasi perdagangan perempuan Myanmar untuk menjadi pengantin di Cina. Setiap tahun ratusan perempuan dan anak perempuan ditipu dengan janji palsu akan dipekerjakan di Cina.

Ketika tiba di Cina, perempuan itu tidak dipekerjakan tapi di jual ke lelaki yang kebelet nikah. Yang terjadi setelah itu adalah perempuan itu diperlakukan sebagai budak seks selama bertahun-tahun.

Situs hongkongfp.com melaporkan perempuan itu dipaksa hamil secepatnya. Ada yang dipaksa menjalani terapi kesuburan. Setelah memiliki anak, suami bisa seenaknya mengusir mereka, atau dijual ke lelaki lain.

Ada yang melarikan diri, tapi tidak bisa membawa anak-anak mereka. Yang tidak bisa lari hanya bisa pasrah dijual berkali-kali.

Sejak Human Right Wath meneliti perdagangan perempuan ke Cina tiga tahun lalu, praktek serupa juga terjadi di beberapa negara Asia lain. Di Indonesia, isu ini sempat menjadi perhatian seorang wartawan surat kabar terkemuka, dan menuliskannya.

Di Kabupaten Tangerang, seorang perempuan dari sebuah desa mengajukan pembuatan paspor. Saat ditanya petugas, wanita itu mengatakan akan ke Cina untuk dinikahkan di negeri berpenduduk semiliar lebih.

Menurut Human Right Watch, setiap negara merasa perlu bertindak menghentikan perdagangan perempuan untuk dijadikan pengantin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close