Crispy

Iran Nyatakan Siap Dukung Kekuatan Bersenjata Palestina

TEHERAN—Republik Islam Iran menyatakan siap kekuatan bersenjata Palestina sebanyak mungkin untuk bangkit dan melakukan perlawanan. Iran meyakini hal itu menjadi tugas mereka.

Penegasan itu disampaikan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam sebuah pernyataan kepada Arab News, Rabu (5/2) lalu waktu setempat. Pernyataan Khamenei itu terlontar usai diumumkannya rencana perdamaian Israel-Palestina, dengan posisi Palestina yang kian disudutkan.

“Kami percaya,” kata Khamenei dalam pidatonya. “Organisasi bersenjata Palestina akan berdiri dan melanjutkan perlawanan. Pun, Republik Islam mendukung kelompok-kelompok Palestina sebagaimana tugas mereka.” Pemimpin tertinggi Iran itu melanjutkan, Iran akan mendukung mereka sebanyak mungkin. “Dukungan ini adalah keinginan sistem Islam dan bangsa Iran,” kata Khamenei dengan nada tegas.

Menurut laporan media Israel, Haaretz.com, pemimpin tertinggi Iran itu juga menambahkan bahwa Palestina harus menanggapi (rencana itu) dengan “perlawanan berani,” serta tak ragu untuk “mengusir musuh berupa kaum zionis serta AS melalui jihad.”

Menurut Khamenei pula, satu-satunya solusi untuk konflik di Timur Tengah adalah referendum yang meminta semua warga Palestina untuk memutuskan diri mereka pada solusi politik untuk negara mereka.

Sementara itu Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyebut rencana perdamaian yang digagas Trump itu sebagai “proyek impian pengembang real estat yang bangkrut” sekaligus mimpi buruk bagi seluruh wilayah dan dunia.

Trump baru-baru ini mengajukan proposal untuk mengatasi konflik yang berlangsung selama puluhan tahun sebagai inti dari ketegangan di Timur Tengah. Ia mengumumkan rencana Amerika Serikat pada bulan lalu, yang akan membentuk negara Palestina dengan kondisi pengawasan ketat. Namun ironisnya, rencana itu tetap mengizinkan Israel untuk mengambil alih permukiman Yahudi yang telah lama diperebutkan di Tepi Barat, sebagaimana ditulis Asia Times.

Para pemimpin Palestina dengan segera menolaknya karena menilai hal itu tak adil untuk mereka.  Rencana Trump ini sendiri, menurut Ayatullah Ali Khamenei, bakal merugikan Amerika. Dalam hal ini, Palestina harus menghadapi kesepakatan dengan memaksa Israel dan Amerika melalui jalan jihad.

Ketegangan meningkat antara Iran dan Amerika Serikat setelah komandan militer Iran Qassem Soleimani gugur dalam serangan pesawat tak berawak AS di Baghdad pada 3 Januari lalu. Hal itu mendorong Republik Islam Iran untuk membalas dengan serangan rudal terhadap pangkalan AS di Irak, beberapa hari kemudian.

Khameini juga mengatakan dalam sebuah kicauan Twitter, para pemimpin Arab yang mendukung rencana perdamaian Trump sebagai pemimpin yang tidak kompeten.  “Jangan melihat kehadiran beberapa kepala negara Arab yang notabene merupakan pengkhianat karena mendukung ‘Kesepakatan Abad Ini’. Mereka tidak kompeten dan tidak memiliki rasa hormat di antara bangsa mereka sendiri,” tulis Khamenei, sebagaimana ditulis Haaretz.com.

Sebagai informasi, dengan legitimasi rencana damai Timur Tengah dari Trump, Israel leluasa untuk terus memperluas cengkeramannya pada properti yang tidak memiliki sertifikat kepemilikan berdasarkan hukum internasional.  Dalam tulisannya di The Conversation, kolumnis masalah politik internasional Tony walker menyatakan,rencamna perdamaian yang digagas AS itu bukanlah ‘kesepakatan abad ini’, seperti diklaim Trump. Hal itu sejatinya undangan kepada Israel untuk menegaskan kedaulatannya atas petak-petak wilayah yang direbut dalam perang 1967.

Sebagai imbalannya, Palestina ditawari pengaturan tidak adil di mana apa yang tersisa dari wilayah di bawah kendali mereka ditandai dengan kantong-kantong pemukiman yang akan tetap tunduk pada pendudukan militer Israel. Ini tidak mewakili solusi dua negara, atau bahkan solusi setengah negara. Rencana Trump adalah resep untuk pendudukan tanpa henti terhadap Palestina, dengan sama sekali tak memberikan prospek mencapai perdamaian, sebuah negara, atau bahkan otonomi dasar yang bebas dari pendudukan militer bagi Palestina. [Haaretz/theinterpreter/ArabNews]

Back to top button