Crispy

Korsel Hangat Perdebatkan Moralitas Boneka Seks

Pemerintah tidak boleh mengganggu kehidupan pribadi masyarakat, dan penggunaan boneka seks adalah bagian dari itu.

JERNIH – Keputusan pengadilan baru-baru ini yang mendukung impor boneka seks seukuran manusia telah memicu kembali perdebatan sengit di Korea Selatan terhadap kemungkinan pengaruh buruknya terhadap masyarakat.

Sementara importir dan pendukung mengatakan boneka seks harus diperlakukan sama seperti mainan seks lainnya di rak-rak toko. Sedangkan penentang mengatakan boneka tersebut merupakan objektivitas perempuan.

Seperti dikutip dari Koreatimes, Sabtu (30/1/2021), awal bulan ini, Pengadilan Administratif Seoul membatalkan keputusan kantor bea cukai di Bandara Internasional Gimpo pada Januari 2020 yang melarang impor produk boneka asli seukuran manusia. Kantor tersebut mengatakan boneka itu akan merusak moral masyarakat, tetapi pengadilan mengatakan mainan itu untuk penggunaan pribadi dan tidak merusak moral.

Kontroversi tentang boneka seks meletus pada Juni 2019 ketika Mahkamah Agung memutuskan mendukung importir boneka lain yang menggugat badan bea cukai pemerintah karena memblokir impor mereka. Pengadilan tertinggi menyatakan bahwa pemerintah tidak boleh mengganggu kehidupan pribadi masyarakat, dan penggunaan boneka seks adalah bagian dari itu.

Otoritas bea cukai kemudian mengizinkan impor oleh perusahaan tertentu yang mengajukan gugatan, tetapi melarang impor dari perusahaan lain. Para pendukung putusan pengadilan tersebut beralasan bahwa boneka tersebut tidak lebih dari mainan seks.

“Boneka hanyalah boneka. Itu hanya cara memenuhi hasrat seksual orang,” kata seorang pekerja kantoran berusia 39 tahun di Seoul, yang hanya ingin diidentifikasi dengan nama belakangnya Hwang. “Saya pribadi tidak mengerti wanita yang menentang boneka dengan alasan bahwa mereka merusak martabat manusia.”

Sejalan dengan sikap tersebut, sebuah petisi diajukan di situs web Cheong Wa Dae, Kamis, meminta otoritas bea cukai untuk menghentikan pelarangan impor boneka tersebut. Pemohon menunjukkan bahwa semua warga negara memiliki hak privasi dan kebebasan untuk tidak dilanggar.

“Perangkat seksual seperti boneka seks seukuran manusia digunakan dalam kehidupan pribadi orang-orang dan tidak membahayakan orang lain, tetapi keputusan kantor bea cukai untuk tidak mengizinkannya jelas merupakan tindakan menyerang kebahagiaan individu tanpa alasan yang meyakinkan,” tulis pemohon. .

Tetapi perempuan dan kelompok feminis mengungkapkan keprihatinan bahwa boneka seks dapat merusak martabat perempuan dengan mempromosikan objektifikasi seksual perempuan. Beberapa perusahaan menawarkan boneka yang disesuaikan dengan wajah wanita atau gadis muda tertentu, kata mereka.

“Menggunakan boneka seks seukuran manusia itu berbahaya, karena membuat pengguna merasa bahwa semua tindakan, seperti membeli, menjual, atau mengontrol tubuh wanita adalah mungkin,” kata Seo Seung-hee, kepala Pusat Tanggap Kekerasan Seksual Cyber ​​Korea.

“Tindakan memproduksi replika tubuh perempuan dan menggunakannya sesuka hati pasti membuat orang tidak peka terhadap kekerasan terhadap perempuan,” jelas Seo.

Sejak putusan pengadilan tertinggi 2019, ada seruan yang meningkat bagi para politisi untuk menyiapkan peraturan hukum tentang boneka seks. Beberapa anggota parlemen mengusulkan undang-undang untuk menghukum produksi dan penjualan boneka yang terlihat seperti gadis muda. Tetapi Majelis Nasional gagal melanjutkan diskusi terkait.

Profesor Yun Ji-yeong dari Body and Culture Institute di Konkuk University menyatakan dalam makalahnya, “Boneka nyata, erotisme dominasi,” yang diterbitkan pada Oktober 2019, bahwa ada perbedaan antara mainan seks untuk wanita dan pria.

“Saat seorang wanita ingin fokus pada apa yang dirasakan tubuhnya saat menggunakan mainan seks, produk dewasa pria, seperti boneka seks, fokus pada pengendalian tubuh wanita,” tulis Yoon. [*]

Back to top button