Crispy

Pasien Virus Korona Meninggal, Publik Filipina Marah dan Cemas

Manila — Filipina, Minggu 2 Februari 2020, mengumumkan kematian pertama pasien virus korona di luar Cina. Publik marah dan ketakutan.

Pengumuman dilakukan saat jutaan di negeri mayoritas Katolik itu berbondong-bondong ke gereja. Penduduk, juga wartawan, mempertanyakan kebenaran jumlah korban tewas. Sebab, menurut mereka, semula pemerintah mengumumkan ada dua orang terinfeksi dan dirawat di rumah sakit.

Pejabat pemerintah kelelahan menghadapi pertanyaan publik dan wartawan, yang menyebut mereka tidak transparan. Menteri Kesehatan Filipina Francisco Duque III dibuat kelabakan dengan tuduhan tidak transparan.

“Kami berusaha meyakinkan publik bahwa tindakan yang diperlukan untuk mencegah virus krona sedang dilaksanakan,” kata Duque III. “Kami juga menerapkan semua protokol pengendalian dengan ketat, seraya merawat pasien.”

Kematian pasien virus korona di Filipina seakan mengirim gelombang kejut ke sekujur Metro Manila, kota berpenduduk 12,8 juta. Mereka marah, kecewa, dan cemas, virus keluar dari rumah sakit dan meyebar.

Di Gereja St Clement di pinggiran Manila, Pastor Lody Garcia menghabiskan sebagian homili untuk memperingatkan 800 umat paroki mengambil tindakan pencegahan ekstra agar terhindar dari infeksi. Caranya, dengan menjaga kebersihan.

“Kita harus menghindari berpegang tangan saat kita menyanyikan Doa Bapa Kami,” kata Pastor Lody kapada jemaatnya.

Banyak umat paroki datang dengan masker, tapi sebagian besar melepasnya saat burada di jalanan. Di akhir misa, doa khusus dipanjatkan untuk petugas kesehatan berada di garda depan perang melawan virus, dan pasien yang menderita.

Organisasi para uskup di Filipina memanjatkan Oratio Imperata, doa khusus yang biasa dipanjatkan saat bencana.

Filipina semula mengumumkan 30 orang yang diduga terinfeksi virus korona. Sebanyak 24 orang dinyatakan negatif. Empat lainnya masih menunggu hasil tes.

Rebutan Masker

Duque III mengatakan korban tewas virus korona adalah pasangan seorang wanita, yang infeksinya diumumkan pekan sebelumnya. Keduanya dirawat di RS San Lazaro, pusat peyakit menular di Manila, sejak 25 Januari 2020.

Korban tewas datang ke rumah sakit dengan keluhan batuk dan sakit tenggorokan, sebelum terserang demam dan pneumonia. Sempat menunjukan tanda-tanda sembuh, kondisi kesehatan pria itu tiba-tiba turun dalam 24 jam dan meninggal.

Keduanya melakukan perjalanan ke Wuhan. Sempat singgah di Hong Kong, keduanya masuk ke Filipina dan singgah di dua pulau sebelum tiba di Manila pada 21 Januari 2020.

Pejabat Filipina kini melacak semua orang yang berada dalam penerbangan bersama keduanya, serta orang-orang di hotel di Filipina yang dikunjungi.

Beberapa jam setelah kematian pasien virus korona diumumkan, penduduk Manila bergegas ke apotek dan mengosongkan rak-rak masker wajah. Presiden Filipina Rodrigo Duterte memperluas larangan masuknya pendatang dari Hong Kong, Macau, dan sekujur daratan Cina.

Sebelumnya, Duterte hanya menerapkan larangan pendatang dari Wuhan, dan kota-kota di Propinsi Hubei — episenter wabah virus korona.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close