Crispy

Virus Hasil Mutasi Covid-19 Ternyata Lebih Jinak

  • Hasil mutasi virus SARS-CoV-2 disebut D614G.
  • Menggunakan hamster, peneliti menemukan D614G lebih menular tapi tidak menimbulkan penyakit parah.
  • D614G memiliki flap di ujung protein lonjakan, yang memungkinkan antibodi merusak virus dan memusnahkannya.

Moskwa — Studi baru yang diterbitkan jurnal Science mengungkapkan strain SARS-Cov-2, virus penyebab infeksi Covid-19, yang bermutasi mampu mereplikasi lebih cepat dibanding strain asli yang menyebar di awal pandemi di Cina.

D614G, hasil mutasi SARS-Cov-2, kali pertama muncul di Eropa dan menjadi strain paling umum di dunia. Virus ini lebih mudah menular karena kemampuan protein lonjakan yang lebih besar untuk membuka sel, sehingga virus dapat memasukinya.

Protein lonjakan adalah membran virus yang bertanggung jawab masuk ke dalam sel.

Namun penelitian menemukan meski mampu menyebar lebih cepat dan mereplikasi diri sepuluh kali lipat lebih cepat dari virus asli, D614G lebih sensitif terhadap netralisasi obat antibodi dan tidak terkait dengan kasus penyakit yanglebih parah.

“D614G mengalahkan strain leluhur, mereplikasi sangat efisien dalam sel epitel hidung primer, yang merupakan tempat penting potensial untuk penularan dari orang ke orang,” kata Ralph Baric, profesor epidemiologi Universitas North Carolina di Chapel Hill dan penulis studi ini.

Fakta lainnya, D614G menyebabkan flap di ujung protein lonjakan terbuka, yang memungkinkan virus lebih mudah menginfeksi sel. Namun, dengan cara yang sama, flap memungkinkan antibodi merusak virus dengan lebih efektif.

Pengrusakan itu membuat virus lebih mungkin dinonaktifkan oleh kandidat vaksin yang saat ini dalam pengujian.

“Protein lonjakan pada virus SARS-CoV-2 asli memiliki ‘D’ pada posisi ini, dan itu digantikan ‘G’ pada virus hasil mutasi,” kata Yoshihiro Kawaoka, rekan penulis studi, dalam rilis berita.

“Beberapa makalah telah menjelaskan bahwa mutasi ini membuat protein lebih berfungsi, dan lebih efisien masuk ke dalam sel,” lanjutnya.

Para peneliti menarik kesimpulan dengan menginokulasi dua hamster dengan virus D614G dan virus SARS-CoV-2 atau virus asli. Peneliti kemudian menempatkan delapan hamster tidak terinfeksi di kandang di samping hamster terinfeksi.

Peneliti melihat virus yang bermutasi itu menular ke enam dari delapan hamster dalam dua hari, dan ke semua hamster pada hari keempat. Tidak ada penularan virus asli, atau SARS-CoV-2 dalam empat hari itu.

“Virus hasil mutasi menular lebih cepat lewat udara dibanding virus asli,” kata Kawaoka. “Ini menjelaskan mengapa virus D614G menjelaskan mengapa virus mendominasi di manusia.”

Peneliti menemukan hamster yang terinfeksi virus mutan mengalami viral load, mengalami sakit dan kehilangan sedikit berat badan. Ilmuwan menyimpulkan meski D614G menular lebih cepat, tidak menyebabkan penyakit buruk pada inang.

Kesimpulan akhir penelitian ini adalah Covid-19 adalah penyakit baru, dengan evolusi yang sepenuhnya dipahami. “SARS-CoV-2 adalah patogen manusia yang sama sekali baru, dan evolusinya masih sulit diprediksi,” kata Baric.

Untuk melindungi kesehatan masyarakat secara maksimal, kita harus terus melacak dan memahami konsekuensi mutasi baru pada tingkat keparahan penyakit, penularan, jangkauan inang, dan kerentanan terhadap imunitas yang diinduksi oleh vaksin.

Back to top button