Moron

Mantra Erotis Wanita Pemanggil Hantu dari Mesir Kuno

Mantra pengasihan atau di Indonesia disebut pelet, ternyata juga dikenal dimasa Mesir Kuno. Mantra erotis Mesir kuno tersebut terdapat dalam papirus yang telah berusia 1800 tahun dari periode Romawi dan dibuat oleh seorang wanita bernama Taromeway.

Wanita itu rupanya ingin menaklukan seorang  pria bernama Kephalas yang sulit dimiliki secara normal. Dalam lembar papirus digambarkan pula dewa berkepala srigala Anubis yang sedang merentang busur dengan panah mengarah kearah dada pria telanjang dengan kemaluan dan ‘kantung pelir’ yang besar.

Gambar Anubis memanah Kephalas yang telanjang.

Papirus yang berisi mantra seks tersebut ditemukan di daerah Fahyum Mesir, berjarak sekitar 100 km barat daya Kairo. Sejak 192 naskah kuno tersebut belum pernah diteliti, namun sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Oriental Institute Göttinger Miszellen membahas papyrus tersebut.  

Dr. Robert Ritner, ahli Egyptology, dari University of Chicago dan Foy Scalf bersama timnya kemudian mengungkap mantra erotis yang ditulis dalam hurup Demotic. Hurup tersebut berasal dari bentuk aksara hieratik utara yang digunakan di Delta Nil, antara periode Mesir akhir dan masa sebelum Koptik.

Taromehay dalam mantra tersebut secara khusus meminta kepada ‘hantu dari bangsawan pria necropolis’ untuk memberikan Kephalas  kegelisahan sepanjang waktu siang dan malam, hingga ia mencari Taromeway.

Menurut Dr. Ritner, penis dan skrotum dalam gambar tersebut merupakan simbol penekanan terhadap pria yang dijadikan target. Dan panah Anubis itu adalah semacam jimat agar Kephalas mencari Taromeway.

“Anubis bertindak tidak hanya sebagai pembalsem tetapi juga penjaga gerbang bersenjata di dunia bawah, jadi dia adalah sosok alami untuk memaksa hantu,” kata Ritner, dikutip dari Syfywire.

Mantra kuno tersebut juga berkaitan dengan zodiak,  karena bangsa Mesir kuno berpatokan pada astronomi, yang meyakini bahwa para dewa dan roh penguasa pada waktu tertentu mempengaruhi peritiwa di bumi, tergantung pada matahari dan  posisi mereka di langit.

Kalimat mantra tersebut berisi panggilan kepada Kephalas untuk melintasi rasi bintang utara Ursa Mayor sampai dia berkeliaran di jiwa Taromeway.  Bila sudah demikian maka Kaphalas akan tergila-gila mengejar Taromeway dan melupakan wanita lain di bumi.

Ritner mengatakan bahwa umumnya mantra pengikat di Mesir digunakan oleh pria untuk menundukan wanita. Namun pada kasus diatas menjadi terbalik dan tidak diketahui mengapa Taromeway begitu bernafsu terhadap Kephalas.  

Menurut Ritner, perempuan di Mesir kuno memiliki hak yang jauh lebih banyak daripada masyarakat lainnya, dan lebih sering terjadi di Timur Tengah modern.

Pada prakteknya, kemungkinan besar Kaphalas membayar seorang pendeta atau dukun untuk menulis mantra itu sekaligus melakukan ritual gaib. Dan untuk membangkitkan sang hantu, maka papirus berisi tulisan mantra disimpan dimakam yang dianggap bertuah.

“Dokumen ini berasal dari periode Romawi  dan secara sosial penduduk asli Mesir pada saat itu kurang beruntung, tetapi jelas bahwa ia (Taromeway)  memiliki kekayaan yang cukup guna menyewa seorang pendeta untuk menyusun mantra sihir. ” papar Ritner

Mengenai mantra pelet, Dr. Franco Maltomini dari University of Udine di Italia telah meneliti dua papyrus Mesir Kuno yang usianya  1700 tahun lalu, masih dari era yang sama dengan papirus Taromeway.

Satu dari papirus itu berisi mantra permohonan kepada dewa untuk membakar hati seorang wanita sampai dia mencintai sang perapal mantra. Papirus lainnya berisi mantra yang akan memaksa seorang pria untuk melakukan semua keinginan si perapal mantra.

Uniknya mantra erotis Taromeway tidak menargetkan Kephalas untuk jatuh cinta padanya. Tujuan Taromeway sangat jelas, Ia sungguh berniat hanya menginginkan hubungan seksual dengan Kephalas.  Gambar dalam papyrus adalah ungkapan tegas bahwa Taromeway hanya menginginkan kemaluan dan skrotum yang  besar itu, tanpa ada pesanan cinta. [ ]

Back to top button