Oikos

Tsingtao, Bir Jerman yang Bisa Bikin Cina Ikutan Budaya Nenggak

Kaisar Wilhelm II sebenarnya tidak terlalu pusing dengan nasib kedua misionaris. Dia hanya ingin menggunakan kasus itu untuk memeras Cina. “Akhirnya, setelah menunggu lama, kita punya satu alasan, satu kasus, untuk menekan Cina,” tulis Wilhelm II kepada menteri luar negerinya Bernhard von Bülow.

JERNIH– Akhir abad ke-19, para jendral, ahli geografi dan pengusaha Jerman sering mengamati peta Cina. Mereka ingin sekali menguasai satu kawasan pelabuhan di daratan Cina, yang dianggap punya potensi ekonomi besar. Mereka terutama tertarik dengan kawasan Teluk Jiaozhou di Provinsi Shandong.

Kaisar Wilhelm II juga tertarik dengan Jiaozhou. Kebetulan ada kasus yang bisa menjadi alasan kuat bagi Jerman untuk menuntut Cina. Tahun 1897, dua misionaris Jerman terbunuh di Cina. Setelah kejadian itu, Jerman mengirim kapal perangnya ke kawasan itu.

Para penggemar bir Tsingtao, menikmati malam, sebelum pagi menjelang dan siang datang….

Kaisar Wilhelm II sebenarnya tidak terlalu pusing dengan nasib kedua misionaris. Dia hanya ingin menggunakan kasus itu untuk memeras Cina. “Akhirnya, setelah menunggu lama, kita punya satu alasan, satu kasus, untuk menekan Cina,” tulis Wilhelm II kepada menteri luar negerinya Bernhard von Bülow. Ia pun menggertak: “Ribuan warga Cina akan gemetar, jika mereka merasakan kepalan besi Kekaisaran Jerman ditengkuknya.”

Pada 14 November 1897, dua kapal perang Jerman mendaratkan 700 serdadu di kota kecil Tsingtao, yang sekarang bernama Qingdao. Serdadu Cina yang tidak terlalu banyak jumlahnya langsung melarikan diri. Beberapa bulan kemudian, para diplomat Jerman berhasil membuat sebuah perjanjian dengan Kaisar Cina.

Dalam perjanjian itu, Cina menyewakan kawasan seluas 500 km2 kepada Jerman untuk jangka waktu 99 tahun. Jerman juga mendapat lisensi pertambangan dan pembangunan jalur kereta api. Selain itu, Jerman mendapat keringanan pajak di seluruh provinsi Shandong. Kawasan berpenduduk 30 juta orang itu menjadi semacam zona ekonomi khusus.

Teluk Jiaozhou dan kota Tsingtao dibangun menjadi daerah koloni Jerman. Sekitar 200 juta Mark disalurkan untuk membangun jalan, rumah, asrama tentara dan pelabuhan. Mulai bermunculan hotel, toko, sekolah dan universitas. Warga Cina juga diijinkan belajar di universitas Jerman. Tapi warga Cina dan Jerman tinggal secara terpisah. Penguasa kolonial lalu membangun rumah-rumah mewah gaya Eropa.

Tahun 1903, orang Jerman membangun sebuah pabrik bir bernama “Germania”. Produksinya dilakukan di bawah pengawasan kualitas yang ketat. Tahun 1906, bir Germania bahkan memenangkan penghargaan di kota München.

Tahun 1914, dengan pecahnya Perang Dunia pertama, pembangunan koloni Jerman terhenti. Jepang mengepung dan akhirnya menduduki Teluk Jiaozhou, setelah pasukan Jerman kehabisan amunisi.

Pasukan Jepang melanjutkan produksi di pabrik bir Germania, tapi mereka mengganti namanya menjadi “Tsingtao”. Beberapa tahun kemudian, warga Cina kembali ke kota itu dan meneruskan produksi bir.

Cina kemudian mengalami pergolakan sejarah. Tahun 1937, Jepang menyatakan perang terhadap Cina. Konflik ini berakhir tahun 1945. Tapi tahun 1949 pecah perang saudara, yang berakhir dengan kemenangan kaum komunis. Jutaan orang menjadi korban dalam berbagai konflik ini.

Produksi bir Tsingtao tetap bertahan. Di kota yang sekarang bernama Qingdao kini mulai dibangun kembali rumah-rumah gaya Jerman. Banyak warga Cina yang tertarik pada sejarah kekuasaan kolonial Jerman. Tsingtao sekarang merupakan produsen bir kedua terbesar di Cina, dengan pangsa pasar sekitar 15 persen. Bir Tsingtao diekspor ke lebih 50 negara. [Deutsche Welle]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close