POTPOURRI

Benarkah Pembunuh Ulung Hashashin Kaum Pengisap Candu?

JAKARTA—Sudah sejak kanak-kanak kita membaca bahwa kata ‘assassin’ atau pembunuh, awalnya mengacu kepada perilaku kaum Hashashin, para penghayat seni pembunuhan politik. Seiring pengetahuan kita akan kaum Hashashin, kita pun mendapatkan informasi akan kesukaan kaum pembunuh  ini mengisap hashih atau candu.

Sekian lama hanya informasi tersebutlah yang diketahui orang seputar kaum Hashashin. Sampai datang counter-info yang ditulis Tamim Ansary, seorang sejarawan sekaligus direktur San Francisco Writters Workshop, dalam bukunya ‘Destiny Disrupted: A History of the World through Islamic Eyes’, terbitan Public Affairs, Amerika Serikat. Menurut Ansary, kultus Hashashin—ia menolak menyebut kelompok itu sebagai sekte, adalah cabang yang memisahkan diri dari Syiah, didirikan  oleh Hassan Sabbah.

Seorang khalifah digambarkan tengah melawan upaya pembunuhan yang dilakukan seorang agen Hashashin

Awalnya, pada akhir abad 11 Syiah Ismailiyah mengalami gesekan di dalam dan bercabang dua. Yang minoritas adalah sempalan revolusioner yang marah melihat dinasti Fatimiyah yang menurut mereka terjerembab ke dalam perilaku foya-foya dalam kemegahan. Para pemimpin golongan ini kemudian mengutus seorang intel bernama Hassan Sabbah, dengan tugas merekrut pengikut.

Di Persia, Sabbah mengembangkan basis kekuasaan sendiri. Dia mengambil alih sebuah benteng yang disebut Alamut (‘sarang elang’), terletak tinggi di Pegunungan Elburz, bagian utara Iran saat ini. Tak gampang menyentuh benteng ini, karena satu-satunya jalan untuk masuk adalah jalan setapak sempit yang sukar dilalui pasukan tentara secara massal.   Di Alamut inilah Sabbah sibuk mengatur Hashashin-nya.   

Berabad-abad kemudian, Marco Polo mengatakan bahwa agen-agen pembunuh Sabbah mengisap candu (hashih) untuk mempersiapkan diri mereka melakukan pembunuhan. Karena itulah kemudian mereka disebut Hashashin, yang darinya berasal dari kata assassin (pembunuh). “Saya meragukan etimologi ini,” tulis Ansary.

Ansary mengutip penulis Lebanon Amin Malouf, yang berpendapat bahwa kata assassin sebenarnya mungkin berasal dari kata Persia yang berarti ‘dasar’. Seperti kebanyakan perpecahan keagamaan (schisma), Sabbah mengajarkan bahwa wahyu telah diubah-ubah dan ia membawa pengikutnya untuk kembali ke ‘dasar’ ke yang ‘asli’.

Kaum Hashashin dikelola sebagai sebuah perkumpulan yang sangat rahasia. Mereka tak memberikan tanda-tanda apa pun tentang identitas mereka, tak ada catatan berapa banyak mereka, di mana saja alamat dan pekerjaan mereka.

Untuk melakukan pembunuhan, kaum Hashashin merencanakannya selama berbulan-bulan, bahkan hitungan tahun. Sering kali bersiasat untuk berteman dengan korban, hingga mendapatkan kepercayaan besar justru dari sasaran yang akan mereka jadikan korban.

Di mana dalam proses panjang itu adanya tempat untuk ongkang-kaki mengisap candu? “Itu sama sekali tak masuk akal,” tulis Ansary.    

Namun meski merancang siasat dengan sangat rahasia, kaum Hashashin lebih memilih membunuh secara terbuka; sasaran mereka sebenarnya bukan hanya untuk melenyapkan orang ini itu dari kekuasaan, melainkan untuk membuat dunia tahu bahwa Hashashin bisa membunuh setiap orang, kapan saja, di mana saja laiknya iklan Coca Cola.    

Ansary menulis, para agen Hashashin yang melakukan pembunuhan buat Sabbah disebutnya ‘Fedayeen’—orang yang berkorban. Ketika mereka merencanakan pembunuhan publik, mereka tahu akan ditangkap dan dibunuh beberapa saat setelah menyelesaikan perbuatan mereka, tetapi tak sedikit pun mereka berusaha menghindari hal itu. Mereka bahkan seringkali menikam diri sendiri begitu pembunuhan yang mereka lakukan berhasil. Dengan merangkul kematian, mereka kaum Hashashin membiarkan para penguasa tahu bahwa ancaman eksekusi sekali pun tak bisa mengintimidasi mereka.

“Kaum Hashashin mengumumkan eksistensi mereka dengan serangkaian pembunuhan politik yang spektakuler,” tulis Ansary. “Mereka membunuh para pejabat Seljuk dan ulama terkenal dari kalangan Sunni. Mereka membunuh dua khalifah. Mereka sesering mungkin melakukan pembunuhan di masjid-masjid terbesar saat shalat Jumat, karena yakin itu akan menjadi tontonan dan membesarkan mereka.” Mereka laiknya kalangan ISIS di zaman ini.

Pada 1092 mereka membunuh Khalifah Nizam al-Mulk yang baru saja pensiun. Kurang sebulan kemudian mereka membantai tuannya, Sultan Malik Shah, putra Alp Arslan. Singkatnya, kaum Hashashin saat itu benar-benar menunjukkan  kesewenangan dan kejumawaan.

Tetapi bagaimanapun tibalah saat kehancuran Hashashin. Kultus itu hancur sebagaimana hancurnya Benteng Alamut oleh kekuatan Mongol pada 1256, dua tahun sebelum Hulagu menyerbu dan menghancurkan Baghdad hingga rata dengan tanah, membakar ratusan ribu buku di perpustakaan istana, dan menjarah tak hanya harta benda yang ada, tetapi juga kehormatan para wanita di sana. Setelah itu, Hashashin pun hanya sedikit dicatat sejarah. [ ]   

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close