POTPOURRI

Berkemah dengan Jarit Plus Tenda Cakra Kembar Segitiga Biru

JAKARTA– Saya pertama kali masuk sekolah di Sekolah Dasar Negeri 9, Desa Majalengka Kulon, saat berumur tujuh tahun. Tidak melalui pendidikan Taman Kanak-kanak, dan tampaknya hampir semua teman sekelas saya juga begitu. Satu dua anak yang mengecap TK biasanya tergolong anak orang kaya saat itu.

Tiga bulan kemudian Mamah—ibu saya, terpilih sebagai guru program Instruksi Presiden (Inpres) yang saat itu digalakan Presiden Soeharto. Tugasnya di SD Negeri Inpres Lapangsari, SD Inpres pertama di Kecamatan Kadipaten yang jaraknya 12 km dari Majalengka. Artinya, saya pun harus pindah sekolah. 

Namun dalam tiga bulan bersekolah itu saya sempat dikejar-kejar orang tua teman, Si Yaya, anak Jalan Emen Selamet. Artinya anak ‘kota’, bukan anak kampung yang harus berjalan melalui pematang sawah sekitar tiga km seperti saya dan teman-teman lain. Saya pontang-panting kabur ke rumah lewat pematang. Untunglah, dari kejauhan saya lihat bapak si Yaya tak mengejar. Hingga hari ini bapak saya tak pernah tahu anaknya dikejar-kejar orang tua murid lain. Entah kalau ada teman yang lapor.

Persoalannya, sehari sebelumnya saya yang jadi ketua murid (KM) di kelas memukul kepala Yaya dengan penggaris kayu—penggaris plastik belum lagi umum pada 1977 itu, hingga patah. Si Yaya menangis kejer, sampai guru kami, Bu Ijah, sempat memarahi saya. Saya sendiri saat itu heran, mengapa saya yang kena marah? Sebagai KM saya merasa si Yaya nakal, suka mengganggu siswa perempuan, ya layak saja dipukul KM seperti saya.

Saat masuk, hanya ada empat kelas di SD Inpres Lapangsari. Itu pun sebenarnya dua jenjang saja, kelas satu dan dua, masing-masing dua kelas. Namun meski baru memiliki kelas dua sebagai kelas tertinggi, entah guru-gurunya kebelet aktif atau apa, siswa-siswi SDN Lapangsari sudah ikut latihan kepramukaan. Saya masih bisa mengingat nomor gugus depan (Gudep) kami. Nomor 1165 untuk Pramuka putra dan 1166 untuk Pramuka putri. Entah kalau saat ini berubah, karena nama SD kami pun kabarnya sudah lama berubah.  

Pembina Pramukanya rata-rata para guru yang fresh dan masih bau Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Ada Kak Ros, Kak Oka, Kak Diding, dan beberapa lainnya yang kini sudah lupa. Mereka tentu saja hanya kami panggil ‘Kak’ saat latihan Pramuka. Di waktu-waktu lain, mereka guru kami yang tetap kami panggil Pak atau Bu Guru.

Setiap Jumat sore kami berlatih sebagai Pramuka Siaga. Semuanya masih Siaga Mula, belum ada Siaga Tata, apalagi Siaga Bantu. Saya ingat, barung (regu untuk Siaga) saya saat itu adalah Barung Hijau. Saya sebenarnya ingin Barung Merah, tetapi warna itu sudah dipilih Cecep Eba, kepala Barung lainnya yang sekelas.

Begitu naik kelas dua, jenjang kepramukaan pun naik. Saya dan teman-teman sekelas langsung menjadi Siaga Bantu, karena anak-anak kelas tiga sudah mulai dimasukkan sebagai Penggalang. Nah sejak Siaga Bantu itulah kami mulai mempelajari berbagai sandi. Tentu saja, belum sampai pada huruf Morse atau pun Semaphore yang lumayan bikin pusing. Saat kelas dua SD itu, dengan sebagian teman masih sangat terbata-bata membaca karena kami semua hanya satu dua yang pernah ikut TK, kami telah belajar sandi ‘AND’.

Seringkali bahkan di saat istirahat pun kami saling berkomunikasi via sandi sederhana itu. Kanda mandi  Pandra manduka Inanddo nande sandia, misalnya. Tebak apa artinya?

Tentu saja tak ada kepramukaan tanpa berkemah. Jadi sejak kelas dua SD pun kami sudah merasakan bagaimana rasanya berkemah. Meski yang pertama kali baru berkemah di lapangan sekolah kami yang hampir setengah luas lapangan sepak bola. Itu membuat kami tahu bagaimana rasanya memasak sendiri—karena kakak-kakak pembina tak membolehkan kami membawa bekal makanan siap santap. Supermie, Indomie? Saat itu belum lagi dating dan kami kenal.

Sebagai gantinya, kami diminta membawa beras, kompor minyak tanah dan peralatan memasak sederhana. Kakak kelas kami yang sudah Penggalang bahkan tak dibolehkan membawa kompor minyak. Harus membuat tungku api sederhana, berbahan potongan batu bata dengan suluh kayu bakar. Tentu saja tidak juga kami dibiarkan sendiri. Kakak-kakak Pembina membawa serta teman-teman mereka di SPG untuk membantu, terutama membantu memasak!

Saya masih ingat jenis ‘tenda’ yang kami gunakan saat itu. Jenis yang bahkan dalam mimpi pun mungkin tak akan terpikirkan anak-anak Pramuka zaman now.  Rangka kemah dibuat oleh kakak-kakak Pembina, dari bambu panjang dan tambang yang kuat. Hanya untuk penutupnya kami menggunakan kain samping kebat (jarit) yang disambung-sambungkan peniti. Dulu Ibu menyimpan foto acara Persami (Perkemahan Sabtu-Minggu) di halaman SD itu di album foto beliau. Sayang, bahkan album fotonya sendiri saat ini tak lagi saya temukan. Dengan kualitas tenda seperti itu, malam harinya, –saat angin Majalengka yang terkenal kencang berhembus, kami harus diungsikan kakak-kakak pembina ke dalam kelas!

Pada saat saya kelas lima, sudah Penggalang dan menjadi juara kejuaraan gugus depan se-kecamatan, tenda yang kami miliki naik derajat. Tetapi tentu masih jauh di bawah tenda-tenda SD kota yang saat itu sudah menyerupai tenda modern, meski bentuknya tetap tenda limas. Punya kami lebih ramai, meriah dan kadang gagah karena bergambar senjata Prabu Kresna dalam kisah Mahabarata; Cakra Nanggala. Bukan apa-apa, tapi karena kain tenda kami berbahan kain belacu bekas karung tepung terigu. Mereknya, kalau tidak Segi Tiga Biru, ya tentu saja cakra Kembar, produksi Bogasari! [dsy]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close