POTPOURRI

Ke Pangumbahan, Menengok Ujung Genteng yang Berubah

Dulu, pada 2002 itu, bersama beberapa teman-teman di Majalah TEMPO, termasuk senior kami yang telah berpulang, Pak Amarzan Lubis, —al fatihah buat almarhum—mengendap-endap, merangkak  di heningnya malam, melihat penyu-penyu besar muncul dari besarnya ombak Laut Selatan. Suara debur ombak menutup bunyi nafas kami yang berdebar dengan pengalaman baru.

JERNIH—Kecuali saat berangkat ke Ukraina, rasanya hampir seluruh perjalanan akhir pekan istri dan saya selalu tanpa perencanaan matang. “Istri dan saya” sengaja saya tuliskan, karena memang ide awal dan motivasinya seringkali datang dari dia.

Sebagaimana juga Sabtu (17/10) lalu. Pada saat memasak sarapan di dapur, usai berbelanja keperluan hari itu ke warung sayur, istri mengajak saya ke Puncak, mencari tempat berkemah. Dalam rencananya, kami bisa berangkat bertiga—dua anak lainnya yang masih di rumah berada pada usia yang sudah jarang atau bahkan tak pernah mau lagi diajak jalan bersama. Sementara anak-anak yang tengah kuliah di Bandung tentu tak bisa diajak untuk hal-hal mendadak. Jadi lebih sering kami berangkat bertiga: saya, istri dan Ghiffar, si bungsu yang baru usia TK.

Saya menolak usul berangkat ke Puncak. Untuk apa pun, apalagi berkemah di musim hujan. Saya beri istri saya bayangan bagaimana naik ke Puncak di hari Sabtu, dan turun nanti keesokan hari. Kami pernah mengalami hal itu sekitar dua tahun lalu, dan kalau saya ingat kata-kata mutiara bahwa “pengalaman adalah guru terbaik”, saya malu untuk tak menjadikan pengalaman tidak menyenangkan itu sebagai guru.

“Mendingan ke pantai, ke Ujung Genteng. Sekalian saya pun sudah hampir 20 tahun tak ke sana,” kata saya. Istri saya antusias—tampaknya bagi dia pun menikmati perjalanan ke pantai masih lebih baik dibanding sepanjang Sabtu-Minggu itu berada di rumah. Manakala dia bertanya bagaimana jalan ke sana dan berapa lama, saya bilang bahwa sepekan sebelumnya saya bertelepon dengan teman yang tinggal di kawasan Sukabumi selatan.

“Dia bilang jalannya sudah jauh lebih baik dibanding 10 tahun lalu,” jawab saya. Awalnya kami sepakat untuk berangkat sekitar pukul 10, setelah semua pekerjaan di rumah beres. Namun karena ada dua orang pasien istri yang datang tiba-tiba, kami baru berangkat lepas Dhuhur, sekitar pukul 12.30.

Barangkali cara saya berikut memang mendatangkan masalah. Sejak masuk kendaraan dan siap berangkat, pesawat seluler sudah saya panteng pada aplikasi Google Maps dengan tujuan “Ujung Genteng”. Pas saya lihat lama perjalanan, tertera angka yang membuat saya terkejut: 5 jam 10 menit! Artinya, saya baru akan tiba di tempat menjelang maghrib. Semoga saja tak ada aral di perjalanan.

Saya tak tahu, apakah karena cara itu pula maka pas keluar dari tol arah Sukabumi di Cigombong, kendaraan saya justru diarahkan memasuki sebuah ruas jalan kecil, hanya muat satu mobil. Sejak memasuki jalan kecil yang pasti merupakan jalan alternatif itu sebenarnya hati saya sudah was-was. Kuatir suatu saat bertemu kendaraan roda empat lain di depan, pas di ruas yang tak memungkinkan salah satu kendaraan menepi. Selama 20 menit pertama perjalanan lancar, meski harus berhati-hati karena sempitnya jalan, sementara sepeda motor berseliweran searah dan berlawanan arah.

Sampai suatu saat, benar saja, saya berpapasan dengan sebuah elf yang melaju kencang dari arah berlawanan. Keder? Nggak juga. Saya percaya, sopir elf jurusan Sukabumi sih masih mengerti “alif ba ta”. Mereka tak akan seenaknya nekat meninggalkan dunia selagi merasa bekal untuk tinggal ‘di sana’ jauh dari cukup. Benar, 10 meter jaraknya dari kendaraan saya, elf itu melambat, bahkan menepi lebih dari yang saya kehendaki. Nuhun Kang!

Di menit ke-30-an akhirnya kami bertemu dengan jalan nasional arah Sukabumi yang selama ini saya mengerti. Mobil pun keluar jalan kecil itu, masuk jalan raya nasional.

Untuk menuju Ujung Genteng, lebih dulu kami harus lewat Pelabuhan Ratu. Ada  dua jalur menuju Pelabuhan Ratu. Jalur pertama lewat Cikidang. Dari jalan raya Sukabumi-Bogor yang kami jalani, siap-siap untuk masuk ke simpang Cikidang yang letaknya beberapa saat perjalanan sebelum memasuki daerah Cibadak. Ada patokan yang jelas terlihat: Pos TMC Elang Cikidang. Belok kanan untuk masuk ke jalan yang lebih kecil, Jalan Cikidang. Ikuti terus jalan itu, karena ujungnya adalah Pelabuhan Ratu.

Jalan ini menurut saya menyenangkan karena memangkas waktu cukup lumayan. Selain itu, karena jalannya hanya pas dua mobil bersimpangan, relatif tak ada mobil besar yang  lewat jalan ini. Hanya perlu hati-hati, karena jalur Cikidang memiliki banyak tikungan tajam, tebing dan jurang. Di sepanjang jalan ini terdapat beberapa pusat pemanduan olahraga rafting. Salah satunya, kalau saya tak salah baca adalah “Arus Liar”.          

Jalur kedua yang bisa dipilih menuju Pelabuhan Ratu adalah jalur Cikembar. Kalau jalur ini yang dipilih, teruslah melaju kea rah Cibadak. Setelah Pasar Cibadak, baru masuk ke Simpang Ratu. Persimpangan ini mengarah ke Pelabuhan Ratu. Dari Simpang Ratu lanjutkan perjalanan ke arah Cikembar, kemudian ke Warungkiara, Bantargadung, hingga perjalanan berakhir di Pelabuhan Ratu. Jalur Cikembar memerlukan waktu perjalanan yang lebih lama karena jarak pun lebih jauh. Tapi jalur ini aman untuk kendaraan apa pun. Sayangnya, saya kurang suka berkendara di jalan yang dilintasi banyak truk dan bus.

Perjalanan lewat Cikidang menurut kami memberi bonus lumayan. Banyak panorama indah sepanjang perjalanan. Hanya tetaplah hati-hati, karena di beberapa ruas, kiri-kanan jalan adalah jurang yang cukup “nangtawing” alias sangat curam.   

Menjelang maghrib kami pun tiba di Ujung Genteng. Saya benar-benar tak mengenalinya, berdasarkan gambaran yang ada di kepala saya dari perjalanan saya ke sana, sekitar 2002 lalu. Di kiri-kanan jalanan pinggir pantai yang kami lalui, kini berdiri aneka hotel, penginapan, villa dan bungalow. Apa beda villa dan bungalow, atau pun sebenarnya keduanya sama saja, tak saya persoalkan. Meski tinggal menyusuri jalanan itu, kami merasa harus membuka-buka Google untuk memastikan mana yang bagus, menurut orang-orang yang pernah menyinggahinya. Ada dua tempat yang cukup eksotik kami lihat dari jalanan, tanpa memasukinya: Villa Ujang dan Ocean View, yang terpisah dalam jarak hanya 200-an meter.

Kami masuk ke lokasi penginapan yang lebih benderang dan terlihat lebih banyak disinggahi kendaraan: Pondok Heksa. Saat itu hanya kamar dengan rate Rp 485 ribu yang masih ada. Lainnya, baik yang bertipe lebih atas dengan fasilitas lebih baik atau yang di bawahnya dengan harga sekitar Rp 200 ribuan, sudah penuh. Kami ambil yang ada, yang cukup kami bayar hanya dengan Rp 385 ribu. Saat kami masuk kamar, fasilirasnya cukup fair lah rasanya. Hanya kemudian kami sedikit kecewa karena saluran pembilasan WC terganggu, sehingga kami harus mengguyurkan air untuk membilas. Paginya, baru kami pun tahu, kami tak dapat sarapan. Mungkin karena jenisnya seperti laiknya villa. Tapi sayangnya, di kamar pun tak ada fasilitas yang memungkinkan kami untuk—katakanlah, memasak mie instan, misalnya.

                                                **

Esoknya, saya berbaik sangka, barangkali pondok tak menyediakan sarapan karena memang begitu subuh usai, halaman dipenuhi banyak pedagang. Mulai dari tukang nasi kuning, tukang bubur ayam, bahkan tukang sayur pun ada. Jadi, selain bisa memasak sendiri di kamar-kamar bertipe villa, mungkin saja sarapan pun tak diberikan karena pihak pondok hendak berbagi rejeki dengan para pedagang tadi.  

Bahkan ketika kami berjalan-jalan menyusur pantai pun, di pinggiran jalan sebelum area pesisir, pedagang bubur ayam kami hitung lebih dari lima orang. Yang menyenangkan, ada juga beberapa nelayan dengan dua tiga renteng ikan di stang motor, menawarkan ikan-ikan segar hasil tangkapan. Ada banyak warung yang bersedia membakarkan dengan upah tertentu. Kami sedikit menyesal tidak membeli ikan dari mereka. Karena setelah jalan-jalan menyusur pantai dan menikmati udara bersih, kami pun akhirnya sarapan di warung serupa. Menikmati ikan bakar yang kami pesan tanpa bertanya lebih dulu ikan apa yang ditawarkan seharga Rp 100 ribu per kilogram dan kami tinggal makan itu. Ternyata, ikan layur yang panjang-panjang, dipotong-potong masing-masing sekitar empat jari besarnya. Bumbunya hanya kecap dengan irisan tomat, cabe rawit dan bawang merah. Enak juga makan bakar ikan yang hanya saya ketahui rasanya setelah jadi ikan asin itu.

Bila datang dengan rombongan dan membawa alat pembakaran—atau kembali, bisa juga meminta warung-warung yang ada membakarkan—pastikan Anda datang ke tempat pelelangan ikan yang jaraknya tak terlalu jauh dengan berkendara. Hanya sekitar 10 menit saja. Di sini kita bisa memilih dan membeli ikan-ikan tangkapan nelayan Ujung Genteng dengan harga yang lebih fair untuk kita nikmati.

Meski pastinya tak sepenuhnya mengerti saat saya bercerita tentang penangkaran penyu, anak saya yang usia TK—Ghiffar, bilang ia ingin juga melihat penyu. Maka setelah sarapan, mandi dan chek-out, kami pun menuju Pantai Pangumbahan, tempat penangkaran penyu berada.

Alhamdulillah, tidak seperti saat 2002 lalu, yang harus kami tempuh dengan ojek, melintasi pinggiran hutan bakau dan rawa-rawa basah, perjalanan ke Pantai Pangumbahan saat ini sudah dimungkinkan dengan kendaraan roda empat biasa. Jalanannya cukup baik, meski hanya cukup untuk satu kendaraan. Salah satu dari kami harus mau menepi bila berpapasan dengan kendaraan roda empat lain.

Sampai di Pangumbahan, hanya ada satu keluarga selain keluarga kami yang sedang berkunjung. Padahal itu hari Minggu, hari libur. Tiket masuknya murah, kalau tak salah sekitar Rp 10 ribu per orang. Harga itu sangat murah dibanding banyak cerita yang bisa didapat dari petugas yang dengan sopan akan menjawab apa pun yang kita tanyakan. Ia bahkan menawari saya mengulang pengalaman lama: melihat penyu bertelur, atau ikut melepas anak-anak penyu kecil (tukik). Sayangnya, kami harus pulang hari itu, sementara acara pelepasan anak-anak penyu dimulai pukul 17.30, menjelang maghrib.

Dulu, pada 2002 itu, bersama beberapa teman-teman di Majalah TEMPO, termasuk senior kami yang telah berpulang, Pak Amarzan Lubis, —al fatihah buat almarhum—mengendap-endap, merangkak  di heningnya malam, melihat penyu-penyu besar muncul dari besarnya ombak Laut Selatan. Suara debur ombak menutup bunyi nafas kami yang berdebar dengan pengalaman baru.

“Bapak-bapak dan Ibu-ibu baru dapat mendekati penyu tatkala atau setelah mereka bertelur. Bila mereka terganggu sebelum bertelur, kadang penyu-penyu masuk laut lagi,” kata petugas saat itu.

Benar saja, kami bisa mendekati penyu-penyu itu tanpa ragu setelah diizinkan. Ada puluhan penyu yang bertelur saat itu. Ada satu lobang yang—menurut penjaga, berisikan 50-an telur, ada pula yang berisi 120-an butir. “Paling sedikit memang satu lobang bisa berisi 50-an butir telur,” kata penjaga.

Saat itu bahkan penjaga mengizinkan bila ada di antara kami yang mau menunggangi penyu-penyu itu, sejenak. Hanya tak ada yang mengambil tawaran itu selain berfoto saat sang penyu bertelur. Saya juga tak mengambil kesempatan itu. Saya kok bisa-bisanya membayangkan seorang ibu yang harus menggendong anaknya yang sudah besar, manakala ia baru saja melahirkan seorang bayi, anaknya yang baru lahir!    

Ada yang saya syukuri saat ini. Dulu, pada 2002 itu, entah berapa kali rombongan kami ditawari telur penyu oleh penduduk yang menjualnya. Benar, sembunyi-sembunyi, namun saat itu masih cukup marak. Banyak pula tawaran untuk membeli kima—kerang raksasa yang dagingnya lezat dan rumahnya indah untuk hiasan di rumah. Di 2002 itu saya beli tiga ekor (?) kima, membelah dan mengambil dagingnya. Walau saat itu hanya digoreng dengan bumbu sederhana, alangkah enaknya!

Sekarang, semua itu tak ada lagi. Baik orang-orang yang datang dan berbisik menawarkan telur penyu, apalagi penjual kima. Artinya, kalau pun perdagangan telur penyu yang illegal itu mungkin saja masih ada, kondisinya tak seburuk sekitar 20 tahun lalu. Itu harus disyukuri, karena banyak orang bilang, rasa telur penyu itu membuat orang yang pernah mencicipinya bisa ketagihan.

Dalam perjalanan pulang dari penangkaran, kami menjumpai seorang bapak tengah memanen nira kelapa dari kebunnya. Nira-nira itu dipanen tidak dengan bumbung bamboo sebagaimana laiknya para penyadap nira di daerah saya, Majalengka. Paling tidak saya lihat si bapak menggunakan jerigen-jerigan kecil yang ditaruhnya di ujung tandan kelapa, tempat air nira keluar. Sayang, saya saat itu tak terpikir untuk berhenti, meminta kesempatan untuk menikmati nira segar yang baru saja disadap dari pohon kepala yang tumbuh di pesisir pantai. Pasti, rasanya akan nikmat dan segar. [darmawan sepriyossa]

Back to top button