POTPOURRI

Lacak Jejak Istilah ‘New Normal’

JAKARTA — Juru Bicara Pemerintah pada Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto mengatakan, istilah new normal merupakan istilah yang salah. Hal ini ia sampaikan pada Jumat (10/7/2020) di Senayan, Jakarta. Menurutnya, diksi yang tepat adalah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

Istilah new normal tidak “ujug-ujug” ada di masa pandemi ini. Frasa ini “diadopsi” dunia kesehatan dari sektor ekonomi.

Pada 30 April 2003, sebuah majalah bernama Fast Company memuat artikel berjudul “The New Normal” karya Polly LaBarre. Artikel tersebut berisi ulasan LaBarre mengenai gagasan seorang investor bidang teknologi  bernama Roger McNamee.

Dalam konteks ini, new normal diartikan sebagai bisnis dan pengelolaan keuangan “gaya baru”. Hal ini dipengaruhi oleh kemajuan teknologi saat itu di mana penggunan internet untuk bisnis semakin marak dibanding sebelumnya. 

Namun, istilah new normal dikenal secara luas baru pada tahun 2008 setelah muncul dalam artikel berjudul “Post-Subprime Economy Means Subpar Growth as New Normal is U.S.” karya Rich Miller dan Matthew Benjamin yang tayang di Bloomberg pada 18 Mei 2008.

Krisis keuangan tahun 2007 memicu pelaku sektor ekonomi industri untuk mencari “cara baru” agar dapat terus bertahan. Hal inilah yang dimaksud dengan new normal pada saat itu.

Selain di dunia ekonomi, frasa ini juga pernah “diadopsi” sektor lingkungan hidup. Pada 29 Januari 2009, media daring bernama Philadelphia Citypaper memuat artikel berjudul “Prepare for The Best” yang ditulis oleh Paul Glover.

Oleh Paul, new normal dimaknai sebagai panduan “hidup baru“ bagi warga Kota Philadelphia di masa depan ketika dunia sangat peduli terhadap isu lingkungan hidup akibat pemanasan global.

Setahun kemudian istilah ini kembali ke “muasalnya”, yakni bidang ekonomi. Ketua Pacific Investment Management Co. (PIMCO) Mohamed A El-Erian menyampaikan kuliah umum berjudul “Navigating the New Normal in Industrial Countries” pada 10 Oktober 2010. PIMCO merupakan sebuah firma yang bergerak di bidang manajemen investasi global yang berbasis di AS.

Kuliah El-Erian yang disiarkan daring ke seluruh dunia itu menggunakan pengertian new normal versi Rich Miller dan Matthew Benjamin.

Sejak saat itu, frasa tersebut umum digunakan dalam pemberitaan oleh media-media besar seperti ABC News, BBC News, The New York Times, dan lain sebagainya dalam konteks ekonomi.

Pada acara Debat Calon Presiden Amerika Serikat (AS) tahun 2012 antara Barack Obama dan Mitt Romney, new normal dijadikan salah satu “amunisi” debat prihal kebijakan ekonomi AS.

Sementara, terkait penggunaannya di era pandemi COVID-19, istilah new normal kali pertama diungkapkan oleh tim dokter dari University of Kansas Health System.

Saat itu, per 27 Mei 2020, korban meninggal akibat infeksi virus SARS-CoV-2 telah mencapai angka 350 ribu jiwa. Menurut tim dokter tersebut, dengan angka kematian sebanyak ini, COVID-19 akan mengubah tatanan kehidupan di seluruh dunia dan manusia akan memasuki fase hidup new normal.

Kontak fisik yang merupakan kelaziman dalam kehidupan sehari-hari harus dihindari demi memutus mata rantai penularan virus ini. Hal ini berdampak luas pada segala sektor.

Berbagai aturan dibuat untuk menyesuaikan diri dengan hidup di era normal baru. Salah satunya,  aturan pembatasan kapasitas angkut kendaraan umum dan tempat-tempat publik lainnya. Cara ini dianggap dapat mencegah terjadinya kerumuman yang berpotesi menjadi sarana penularan virus.

Namun, meski angka kasus positif makin meningkat, aturan-aturan terkait “normal baru” atau Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) serta protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah masih sering diabaikan oleh sebagian masyarakat di Indonesia. [ ]

Back to top button