POTPOURRI

Ukur

Murjangkung menolak dengan tegas, khas orang-orang bule! Penolakan itu serta merta membuat Sultan Agung marah .  Ia pun tak ragu, VOC dan benteng-bentengnya di Batavia harus dihancurkan, baru jalan ke untuk melakukan serbuan ke Kerajaan Banten menjadi lapang. 

Oleh : Darmawan Sepriyossa

Pengantar:

Setelah jatuhnya Kerajaan Majapahit, ratusan tahun kemudian kerajaan-kerajaan taklukan di seluruh Nusantara bangkit memupuk kekuatan. Yang paling mencorong adalah Kerajaan Mataram, pengklaim pewaris kekuasaan Majapahit. Sementara kekuatan asing yakni Portugis, Belanda dan Inggris, mulai pula datang menancapkan kuku kekuasaan mereka. Masing-masing dengan kerakusan dan kekejamannya sendiri. Pada saat itu, di Tanah Sunda muncul kekuatan yang mencoba menolak penjajahan, dipimpin seorang bernama Dipati Ukur.—

Episode-15

Setelah itu Sumedang Larang benar-benar naas. Saat Rangga Gempol menyerang Madura, datang serbuan dari Kerajaan Banten. Dipati Rangga Gede tak mampu menahan serangan pasukan Banten. Ia kalah dan melarikan diri. Kembali kekalahan itu membuat marah Sultan Agung. Disebarnya pasukan untuk mencari Rangga Gede, yang kemudian ditangkap dan ditahan di Mataram. Sejak itu wilayah Sumedang Larang pun diserahkan Sultan Agung kepada Dipati Ukur.

Pada tahun itu pula Ukur menuntaskan masa perjakanya. Ia menikah. Seorang dara putri Prabu Geusan Ulun bernama Nyai Nonon Saribanon menjadi istrinya[1]. Setelah menikah, Nyai Saribanon pun dipanggil sebagai Nyimas Ukur. Ukur memang pemuda pemalu. Sifat itu serta kesibukannya membuat Ukur disebut-sebut tak pernah mengalami masa-masa pacaran. (Barangkali karena bingung, mau nonton bioskop di mana kalau pacaran? Sementara saat itu di tatar Timbanganten belum ada Studio 21! Teuing kitu ge!—pengarang).

Pengangkatan Ukur sebagai dipati Tatar Ukur dan penguasa Kabupaten Sumedang menggantikan Dipati Rangga Gede, bukan tanpa syarat. Tetapi tanpa syarat eksplisit pun tak ada yang bisa ditawar-tawar Ukur. Tatar Ukur, demikian pula Kabupaten Sumedang, telah lama menjadi wilayah bawahan Kerajaan Mataram. Dengan atau tanpa perjanjian pun dirinya adalah penguasa bawahan Sultan Agung yang harus tunduk kepada perintah penguasa Mataram itu. Wajar, manakala ditunjuk sebagai pengganti Rangga Gede, Ukur sempat heran manakala dirinya diminta mencap jempol sebuah perjanjian.

Satu di antara banyak klausul perjanjian itu adalah kesanggupannya untuk mengerahkan bala tentara manakala Mataram menyerang pihak musuhnya. Tak ada penunjukan tegas siapa yang disebut musuh, tetapi Ukur tahu itu tak lebih dari Banten, lalu pihak Kumpeni VOC yang kini menguasai Jaya Karta yang diganti bule-bule jorok itu dengan nama Batavia, serta beberapa kerajaan kecil di Madura.

Setahu Ukur tak pernah sekali pun Sultan Agung berpikir untuk menguasai Bali, tanah yang menurut Sang Sultan penuh sihir.

(Sampai Sultan Agung meninggal, Mataram tak pernah berhadapan langsung dalam sebuah perang melawan Kerajaan (dari) Bali. Mataram hanya pernah berhadapan dengan Bali pada pemerintahan Amangkurat I, saat hendak merebut kembali Blambangan yang lepas dari tangan mereka karena bantuan Kerajaan Bali. Kerajaan yang membantu Blambangan itu bisa diusir, dan pasukan Mataram yang dipimpin Tumenggung Wiraguna bahkan sempat hendak masuk menyeberang ke Bali. Mereka akhirnya terpaksa kembali, karena Bali saat itu tengah terserang wabah penyakit. Mungkin sebangsa covid-19 di masa kini.

Sayang, pertimbangan matang dengan akal sehat yang diambil Tumenggung Wiraguna dianggap salah oleh Sultan Amangkurat I yang di kalangan ahli sejarah sering dipandang bodoh itu. Dianggap gagal menaklukan Bali, leher Wiraguna yang telah berpayah-payah mengembalikan Blambangan menjadi wilayah Mataram itu justru dipenggal atas perintah sinuhunnya sendiri. Beberapa sumber literasi sejarah mengatakan, pembunuhan tersebut memang akan dilakukan Amangkurat I, bahkan kalau pun Wiraguna sukses merebut Kerajaan Bali. Sultan tersebut memang bermaksud menghabisi para elit senior yang ada di Keraton Mataram saat itu —pengarang)     

Ukur kini menjadi penguasa sebuah dataran luas. Ke timur wilayahnya dibatasi Sungai Cipamali[2]. Di sebelah barat wilayah Ukur dibatasi Sungai Cisadane, sebelah utara berbatasan dengan wilayah Baghasasi (Bekasi), ke timur dibatasi Sungai Cilutung– wilayah Sumedang Larang yang diberikan kepada Cirebon sebagai pengganti Ratu Harisbaya.

Secara administratif wilayah Tatar Ukur terdiri dari 22 wilayah Kandaga Lante dan 18 Umbul[3]. Area itu meliputi kabupaten Bandung yang melingkup Timbanganten, Batulayang, Kahuripan, Tarogong, Curug Agung, Marunjung, wilayah Ngabei Astramanggala, Kabupaten Parakanmuncang, Selacau, wilayah Ngabei Cucuk, Manabaya, Kadungora, Kandangwesi (Bungbulang), Galunggung (Singaparna), Cihaur, Taraju, Kabupaten Sukapura, Karang, Parung, Panembong, Batuwangi, Saung Watang (Mangunreja), Daerah Ngabei Indawangsa di Taraju Suci, Cipiniha, Mandala, Nagara (Pameungpeuk), Cidamar, Parakan Tiga, Muara, Cisalak, Sukakerta dan sebagainya.

***

Batavia 1628

Batavia adalah wilayah kumuh yang dikuasai bule-bule jorok. Jangan pernah terkesima dengan uraian seorang pelaut bangsa Inggris yang menceritakan kota ini dengan segala bualan, ibarat keterpesonaan seorang anak muda Jasinga yang baru keluar dari kampungnya pertama kali tiba di Jakarta. Suki namanya. Itu cerita seabad kemudian[4]. Apalagi orang Inggris itu pun tetap saja menyatakan orang-orang Belanda penguasa Batavia saat itu sebagai orang bodoh.

Tak ada saat itu julukan sebagai Paris di Timur. Tak ada saat itu “…jalan-jalan dibuat lurus dan saling bersimpangan dengan sudut tegak lurus. Setiap jalan dibelah tepat di tengah, dengan sebuah kanal yang dindingnya berlapis dengan batu dan terhubung dengan sebuah tangga batu rendah di kedua sisi”.

Tak mungkin saat itu para pengelana melukiskan Jakarta sebagaimana John Barrow melukiskan bahwa “…di batas kota Batavia, terdapat kebun-kebun luas milik orang Belanda yang dilengkapi villa bergaya oriental. Sementara di daerah lain, ada tanah yang tadinya banyak kanal dan parit dirubah menjadi taman-taman dan villa yang dihiasi oleh jembatan gantung tempat orang Belanda bersenang-senang.”

Belum lagi ada “…jalan-jalan yang memiliki lebar antara 114-204 kaki (sekitar 34 m-62m), dan memiliki trotoar selebar 6 kaki (sekitar 1,8 m), yang dihiasi pepohonan, paling banyak dari spesies Calaba, Canarium Cummune atau dikenal dengan pohon kacang kenari dengan bunganya yang berbau harum, serta pohon asam yang bentuknya lebar, elegan, dan menjalar.”

Yang ada saat itu, bahkan hingga kedatangan Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier yang menjabat sejak 1737, adalah kota kumuh yang padat ditinggali manusia. Kota tempat bandit-bandit segala bangsa berkumpul dan bertahan hidup. Di sinilah seorang bandit besar dan pahlawan bangsanya, Arung Palakka, pernah tinggal dan menjadi raja kecil.

Batavia adalah kota yang tengah dilanda persoalan ekonomi seiring lemahnya VOC dalam persaingan perdagangan, termasuk perdagangan gula dengan Brasil[5]. Jumlah pengangguran melesat. Overpopulasi, dengan jumlah yang bermukim di dalam tembok kota saja sekitar 4.000 orang, sedangkan yang di luar benteng tidak kurang dari 10 ribu orang.

Orang-orang VOC itu jorok. Mereka minum air dari sungai, yang di pinggir sungai itu setiap pagi mereka berbaris ibarat tentara (memang mereka tentara), jongkok membuang apa yang mereka makan sehari sebelumnya. Mereka tak mengenal peturasan, karena penemuan hebat yang awalnya orang-orang bule pandang aneh itu baru dipakai di negara mereka 240-an tahun setelah mereka mendarat di Batavia.

Mereka pun minum air sungai itu begitu saja, tak sebagaimana kebiasaan rakyat pribumi yang harus susah payah menjerangnya dulu hingga mendidih. Kopi? Sebelumnya mereka tak suka. Jadi kebiasaan menjerang air pun belum pada abad ke-17 itu mereka adaptasi.

Pada tahun-tahun Ukur memerintah itu, penguasa VOC adalah Gubernur Jenderal Jan Pieterzon Coen. Orang-orang pribumi menyebutnya Murjangkung. Orang yang dipercaya VOC itu mengambil-alih Jayakarta dari Kesultanan Banten pada 1619. Sebelumnya ia dianggap sukses berdagang lada dan pala di Ambon.

Murjangkung adalah seorang pembelajar dan ulet. Ia belajar dan tahu bahwa orang-orang pribumi sangat mempercayai mitos. Atas sarannya sendiri dibuatlah mitos bahwa sebenarnya si Murjangkung ini seorang keturunan Jawa. Bahkan keturunan raja-raja Pajajaran. Konon diceritakan bahwa ibu Murjangkung adalah terah Pajajaran, kerajaan Shiwais kuno di Jawa Barat. Dia diusir suaminya, penguasa Jayakarta. Ayahnya adalah saudara Sekender (kata Jawa untuk Islandar atau Alexander yang menyimbolkan penakluk Barat. Jadi, ketika Murjangkung mengambil alih Batavia, ia hanya mengambil kembali hak-hak yang memang menjadi miliknya[6].

Saat pagi itu Murjangkung membuka jendela kamarnya, ia tahu dirinya sudah mulai berhadapan dengan hari yang buruk. Bau busuk dari sungai kecil yang penuh lumpur serta bangkai aneka binatang buangan seperti kucing dan anjing, segera menyergap lubang hidungnya.

Belum lagi ruap tahi kering yang ia lihat teronggok hanya selangkah dari jendelanya, menguar karena udara panas. Ia geram, tentara mana yang berani-berani berak di bawah jendela kamarnya? Apakah orang-orang mardijkers yang saban hari merusak kupingnya dengan bahasa setan Portugis Kreol itu? Atau orang Tiongkok, atau para budak asal Bali, atau tentara sewaan dari Ambonkah yang berak seenaknya semalam? Haram jadah, pikirnya.

Kepala Murjangkung kian jangar[7] saat ingat laporan ajudannya, Kapten Van Vessel semalam. Laporan itu mengatakan bahwa seorang telik sandi di Tanjung Bungin, di wilayah sebelah timur Baghasasi yang bernama Caravam[8] memergoki serombongan pasukan Mataram terlihat mondar-mandir di wilayah itu.

“Mereka berada sekitar seribu langkah dari gudang garam persediaan kita di Tanjung Bungin,” kata van Vessel semalam. “Mereka mengutus seseorang untuk mengamat-amati gudang itu.”

Gudang garam itu memang milik VOC, dijaga oleh sepasukan tentara Ambon bersenjata bedil dan bayonet. Selama bertahun-tahun berdiri belum ada yang mencoba-coba mengganggu. Takut kena pelor orang-orang Ambon yang tak jarang bertugas jaga dengan kepala berat, dibebani berteguk-teguk arak yang ditelan untuk melupakan kerinduan akan kampung halaman, anak-istri dan perasaan nyeri di dalam akibat terlalu sering membunuhi bangsa sendiri.

Murjangkung belum pernah datang sendiri ke wilayah itu. Namun sebagai bagian dari tugasnya, ia telah banyak membaca literatur berkenaan dengan wilayah tersebut. Sebenarnya namanya kini bukan lagi Caravam, melainkan Karawang. Nama yang jelas-jelas lebih gampang diucapkan para bumiputera.

Sebuah lembaran data yang berasal dari catatan pelaut Portugis seabad sebelumnya, yakni de Barros dan Tome Pires, menegaskan ada sebuah pelabuhan laut dan pelabuhan sungai yang ramai di wilayah itu. Pelabuhan sungai itu berada di sungai Ci Tarum, yang memisahkan wilayah Jayakarta di satu sisi dan Caravam di sisi lain. Pires menulis bahwa di pelabuhan itulah kapal-kapal dapat berlabuh dengan aman, terlindung dari ombak besar dan angin.

“Hm, ada apa orang-orang Mataram berkeliaran sampai kemari?” Murjangkung membatin. Namun ia ingat, hubungan kompeninya dengan Keraton Mataram memang tak pernah baik, dan saat ini tengah buruk-buruknya setelah insiden yang terjadi di Jepara itu. Murjangkung yakin, rombongan pasukan Mataram di Karawang pun terkait erat dengan insiden tersebut.

“Van Vessel!” teriak Murjangkung, masih dalam balutan piyama tua jahitan mamanya di Belanda, yang selalu diwanti-wanti untuk selalu dipakainya. “Minta Komandan Burgerlijke Krijgsraad[9], Kolonel Nicool Cruel kirim pasukan berkuda ke Karawang!” katanya setelah ajudannya itu datang. “Cari tahu mau apa orang-orang Mataram itu!”

***

Di Keraton Mataram, Kanjeng Susuhunan Mataram Sultan Agung Hanyokrokusumo sedang masygul. Ia merasa ada yang janggal pada peta yang ada di hadapannya. Di sebentang pulau Jawa yang tengah dicermatinya itu, ada bagian yang warnanya lain dibanding warna seluruh dataran Jawa yang lain. Warna wilayah Kerajaan Banten dan Batavia.

Ya, tidak sebagaimana daerah-daerah lain, kedua wilayah itu memang tidak berada dalam kewenangan pemerintahan Mataram. Madura juga sebenarnya. Hanya apalah arti Madura yang secara geografis pun terpisah dari bentang pulau Jawa? Artinya kalau warnanya lain pun tidak merusak gambaran penuh pulau Jawa. Ini Banten dan Batavia?

Warna area yang beda itu membuat peta yang dimintakannya kepada dua kartografer Portugis yang khusus didatangkannya untuk membuat peta kerajaannya, menjadi terlihat ganjil. Ibarat ada noda cokelat di sebuah ghamis putih. Noda, yang menurut seorang yang nyinyir bisa berkata bahwa seluas apapun Mataram, toh sebuah noda kecil saja tak mampu ia bersihkan hingga peta itu mulus. Hingga baju itu putih tak lagi bernoda.

“Kedua bangsa pengganggu ini harus Mataram bersihkan,” kata Sultan membatin. “Orang Banten dan bangsa Olanda. Dan mustahil menyerang Banten tanpa lebih dulu membuat VOC yang berpusat di Benteng Batavia, penghalang jalan menjuju Banten, tak dibuat bertekuk lutut.”

Sebenarnya, akan lebih mudah dan tidak harus mengorbankan banyak prajurit untuk menaklukan orang-orang VOC Belanda, seandainya kaum Kumpeni itu mau diajak bekerja sama. Dan itu bukan tidak dilakukan. 

Meski berat karena harus mengorbankan harga dirinya, Sultan Agung pernah mengutus utusan ke Batavia, berkirim surat langsung kepada Murjangkung. Isi surat itu relatif langsung untuk seorang bangsawan Jawa seperti dirinya: mengajak VOC bersekutu dan membantu Mataram menyerang Banten. Tetapi jawaban VOC jelas-jelas menghantam pusat harga dirinya: Murjangkung menolak dengan tegas, khas orang-orang bule! Penolakan itu serta merta membuat Sultan Agung marah .  Ia pun tak ragu, VOC dan benteng-bentengnya di Batavia harus dihancurkan, baru jalan ke untuk melakukan serbuan ke Kerajaan Banten menjadi lapang. 

Di benak Sultan, jika benteng VOC sudah rata dengan tanah, dan orang-orang Olanda itu terusir, maka perkara menyerang Banten menjadi lebih mudah. Malah, bisa jadi ada peluang untuk mempekerjakan orang-orang Olanda yang sudah jadi taklukan itu untuk membantu menyerang Banten. Sultan yakin, orang-orang Olanda itu mau melakukan apa pun untuk bisa hidup. Artinya bahkan bisa sangat harfiah!

[bersambung]


[1] Prabu Geusan Ulun mangkat sekitar tahun 1603. Jadi pernikahan itu terjadi jauh setelah mangkatnya raja Sumedang Larang itu. Ada pula versi yang mengatakan istri Dipati Ukur itu adalah putri Dalem Ukur.

[2] Dalam naskah klasik ‘Carita Parahyangan’ yang menceritakan perjalanan Bujangga Manik, tertulis Sungai Cipamali yang saat ini berada di wilayah Cilacap itu sebagai ‘tungtung Sunda’ atau ujung Sunda.

[3] Batas wilayah itu terkuak berdasarkan surat Rangga Gempol III (Pangeran Panembahan Kusumah Dinata VI), bupati Sumedang waktu itu, kepada Gubernur Jenderal Willem Van Outhoorn. Surat itu dibuat Senin, 2 Rabiul Awal tahun Je atau 4 Desember 1690 M. Termuat dalam buku harian VOC di Batavia, 31 Januari 1691 M.

[4] Sir John Barrow, seorang pelaut Inggris, singgah di Batavia pada kurun waktu 1792-1793, dalam perjalanannya menuju Chocin-Tiongkok. Laporan perjalanan itu dirangkum James R Rush dalam buku ‘Jawa Tempo Dulu’.

[5] Lihat Greg Purcell, South East Asia Since 1800, 1965:14.

[6] Lihat Bernard Hubertus Maria Vlekke dalam “Nusantara: Sejarah Indonesia”

[7] Pengar atau pusing berketerusan

[8] Kini wilayah yang dulu membentangi area Karawang, Purwakarta, sebagian Bekasi dan Subang itu bernama Karawang.

[9] Dewan Perang

Back to top button