POTPOURRI

UKUR

Ukur pun segera turun, melepaskan kaki dari sanggurdi kudanya. Kedua kuda itu diambil prajurit masing-masing, dibawa ke pinggir. Orang-orang, baik prajurit Sunda maupun orang Wetan menyibak. Sebuah medan tanding segera terbentuk seketika

Oleh : Darmawan Sepriyossa

Pengantar:

Setelah jatuhnya Kerajaan Majapahit, ratusan tahun kemudian kerajaan-kerajaan taklukan di seluruh Nusantara bangkit memupuk kekuatan. Yang paling mencorong adalah Kerajaan Mataram, pengklaim pewaris kekuasaan Majapahit. Sementara kekuatan asing yakni Portugis, Belanda dan Inggris, mulai pula datang menancapkan kuku kekuasaan mereka. Masing-masing dengan kerakusan dan kekejamannya sendiri. Pada saat itu, di Tanah Sunda muncul kekuatan yang mencoba menolak penjajahan, dipimpin seorang bernama Dipati Ukur.—

Episode—27

Sebenarnya, jauh di dasar hatinya, Senapati Ronggonoto menjerit. Bagaimana pun ia seorang prajurit yang sejak awal ditanamkan kepadanya nilai-nilai keksatriaan. Nilai-nilai kebaikan, kejujuran, kebenaran dan budi pekerti. Tentu saja, manakala ia harus membiarkan anak buahnya melakukan segala tindakan jahat, bejat dan asusila, hati kecilnya tak dapat membenarkan. Nuraninya menjerit tak terima.

Namun apa daya, memang itulah tugas yang harus ia lakukan. Sinuhun Mataram memintanya mengacaukan Tanah Sunda, menghancurkan sendi-sendi keamanan, ekonomi dan segala tatanan social, sehebat ia bisa. Entah apa yang dipikirkan oleh rajanya, sehingga tugas itu yang ia emban dengan datang ke tanah Parahyangan ini.

Sebab, kalau secara resmi, kerajaan-kerajaan kecil di Tanah Pasundan, seperti Sumedang Larang, Talaga, Cirebon, Galuh, nyaris sudah berada di bawah kekuasaan Mataram. Yang masih baha (menolak tunduk) sebenarnya bisa dikatakan hanya Banten dan Jakatra. Mungkinkah mau membuat mereka kian lemah, agar pada saatnya bisa sekalian dikuasai, tidak sebegaimana saat ini yang lebih merupakan raja-raja vassal yang takluk dengan suka rela tanpa harus diserang dan diduduki lebih dulu? Buat apa? Agar Mataram bisa lebih sewenang-wenang mengambil sebanyak mungkin hasil bumi dan hasil keringat rakyat Pasundan?

Sebenarnya, barangkali sikap tak menerima sepenuhnya itu pun tak layak menjadi pembelaan atau apologi Sang Senapati. Pertama, karena sikap itu tak menegaskan apa pun selain dua hal: sikap mendua di satu sisi, dan sikap setengah hati alias medioker di sisi lain.  Dua-duanya tak pernah atau setidaknya jarang digolongkan sebagai sikap baik, kecuali dengan alasan pembenaran yang akan sangat panjang untuk itu. Yang tak jarang karena panjang dan berbelitnya alasan, tetap saja kembali akan kembali menonjolkan sikap mendua dan setengah hati tadi.

Yang jelas dan lebih sederhana, Ronggonoto tak berani menolak tugas kotor itu karena ia tak bisa mengalahkan hawa nafsu serakah yang bergelora di dadanya. Hawa nafsu untuk mengeruk lebih dalam kekayaan yang mungkin bisa ia dapatkan karena Sri Sultan merasa terpuaskan. Ronggonoto juga masih dipenuhi hawa nafsu binatang untuk merasakan kehangatan tubuh sebanyak mungkin para perempuan Pasundan yang selama ini ia dengar legendanya. Jauh sebelum sampai ke Tanah Pasundan, dalam perjalanan ke mari pun beberapa kali ia memimpikan hal-hal yang jauh dari perangai laki-laki berbudi, yang menjadi angan-angannya.

Bagaimana pun anak-anak buahnya tahu, kalau mereka nekat menikmati buah terlarang paling mencrang di satu desa, siap-siaplah mendapatkan hukuman dari para perwira. Jadi, para perwira itu bukan lagi tak tahu apa yang dilakukan para prajurit di desa-desa yang mereka jarah, melainkan tak jarang menikmati setoran yang tak hanya raja brana, melainkan para gadis dan istri yang tengah ditinggal suaminya berperang ke Batavia.

Jadi, tahi kucing saja kalau Ronggonoto masih bicara soal hati nurani, sementara tangannya ikut berlumuran darah para warga tanpa daya.

Mengapa Ronggonoto kok mulai bicara soal nurani, kebenaran dan sikap kesatria? Entahlah, ia sendiri tak bisa menjawab dengan pasti. Yang jelas, setelah pembunuhan Nyi Mas Ukur itu, ia memang seringkali tercenung, bahkan manakala tengah berada di sekeliling anak buah dan para perwira bawahannya. Hari demi hari ia senantiasa didera pikiran yang menertawakan dirinya sendiri. Datang dari kepala, kadang dari hatinya. Begitu sering, hingga mengganggu konsentrasinya.

Lama-lama, karena tak jarang ia bicara sendiri, para perwira bawahan dan anak-nak buahnya, merasa keheranan. Bisik-bisik menjalar di pasukan, bahwa senapati kini sering bicara sendirian, tak ubahnya berdialog dengan suatu makhluk yang tak kasat mata.  

Tak ada personifikasi siapa pun dalam kata-kata penuh ejekan yang tergiang-ngiang di batinnya, yang berulang kali dalam sehari menggedor kepalanya itu. Tidak musuh utamanya, Ukur, yang bertahun-tahun belum lagi bertemu. Tidak pula yang lebih nyata di hari-hari kemarin sebelum ajal merenggutnya dari kehidupan: Nyi Mas Ukur.

“He he he… Tidakkah kau malu, Ronggonoto, berkeliaran dengan pakaian kebesaran seorang bangsawan, seolah pemangku negeri yang sedang turun ke pelosok untuk melihat keadaan rakyat; sementara kelakuanmu tak sedikit pun berbeda dari garong yang sama sekali tak kenal kesopanan?”  Sebuah suara tiba-tiba berdengung di kepala Ronggonoto.

Refleks, hal itu membuat Sang Senapati celingukan menengok kanan-kiri. Tak seorang pun di antara anak buahnya, baik prajurit maupun perwira yang tampak berbicara kepadanya. Semua asyik menyusuri jalanan desa, pulang ke markas sementara mereka di Amparan, wilayah barat Tatar Ukur. Para perwiranya tetap berkuda, tak lepas dari jalan yang terbentang di hadapan. Mereka baru saja mengobrak-abrik setidaknya lima desa, membumihanguskannya setelah menjarah barang-barang berharga yang dimiliki penduduknya. Prajuritnya kembali memuaskan nafsu binatang mereka. Kali ini, meski seorang perwira pertama membawakan ke hadapannya seorang gadis muda, Ronggonoto menolaknya. Entah mengapa, bahkan dia sendiri pun tak mengerti.

Meski jelas terganggu, rasa heran membuat Ronggonoto kembali fokus ke jalan. Kini genggaman tangannya pada kendali kuda bahkan lebih erat. Ia heran. Jelas, tadi telinganya menangkap seseorang mengejeknya. Oh ya, terdengar seperti suara seorang wanita, bahkan. Tetapi di antara wadya balanya, tak ada seorang pun prajurit perempuan.

 “Hei, Ronggonoto, mengapa Kau heran. Aku ini sahabat paling dekat denganmu, qarin yang dilahirkan bersamaan dengan dirimu. Sebenarnya seharusnya aku senang dengan kondisimu saat ini. Jauh dari kebenaran, anggang dari sifat kesatria. Kau bahkan sudah laiknya sebangsa duruwiksa. Sementara aku, memang terlahir untuk menjadi dirimu di sisi seberang. Teman hidup yang seharusnya membawa kau ke jalan kami, jalan remang, bajkan pekat. Akulah yang dulu senantiasa mengajakmu melampiaskan semua keinginan, apa pun maumu. Aku senang manakala keinginanmu tanpa batas dan tanpa kendali apa pun.” Suara itu jelas terdengar begitu dekat.

“Aku senang kalau kau selalu haus raja brana, selalu merasa kekurangan perempuan dan senantiasa mengharap cinta. Cinta, katamu. Padahal Kau sendiri tahu semua omong kosong itu. Tak akan pernah ada cinta pada hubungan dua tubuh hanya semalam dua. Kau akan selalu merasa haus dan butuh, sementara kalau pun sadar begitu semua itu terpenuh, dahagamu hanya akan meluas untuk dipuaskan. Aku tahu, sampai kapan pun rasa ingin di hati kalian bangsa manusia itu tak akan pernah terpuaskan. Dan aku senang mengajakmu begitu…”

“Tapi kini, aku sama sekali tak punya lagi rasa bangga padamu. Kau sudah tak cukup membuatku puas karena tanpa aku dorong-dorong pun, Kau mengejar sendiri semuanya. Tanpa batas.   Ini yang aku sesalkan. Kau bangsawan, orang yang mendapatkan didikan, ilmu dan budi pekerti, tetapi justru Kau tak punya seutas pun tali untuk menahanmu melakukan semua hal yang keji.” Suara itu terdiam. Hanya sebentar, karena segera lagi tergiang.

“Ini semua membuatku malu. Kau lebih rendah dan terlalu mudah, sehingga diriku diejek semua qarin yang ada di sini sebagai makhluk tak punya kerja yang makan gaji buta.”   

Ronggonoto memiringkan wajah, seolah sedang mendengarkan bunyi dari satu sisi. Kemudian dengan segera ia ganti miringnya ke arah lain, seakan arah bunyi itu kini sudah berganti.

“Kau tak perlu miring-miring begitu, Sontoloyo!” suara itu keras membentaknya. Aku bicara dari dalam jiwamu.”     

Ronggonoto terkejut. Amarahnya bangkit. Tak ada seorang pun yang boleh menyebutnya sontoloyo. Siapa pun dia!

“Siapa Kau, hah? Berani menyebutku sontoloyo?” Ia berteriak. Dengan begitu tak sengaja menyentak tali kekang kudanya, membuat binatang yang ia tunggangi itu melonjak. Untung, dirinya dan kuda itu telah berteman sekian lama. Dia tetap duduk pada pelana meski posisinya mendungak seiring badan kuda yang terangkat. Kaki menapak kuat pada sanggurdi, sehingga posisinya di kuda itu tetap menempel erat.  Para anak buahnya, terutama para perwira yang berkuda beriringan bersamanya, terkejut. Para anak buah langsung dan ajudannya bahkan ada yang berani bertanya.

“Ada apa Kanjeng Senapati?”

Mata Ronggonoto kembali mencari-cari. Kali ini sampai memutar-mutar kudanya, mencari-cari siapa yang berani bicara seenaknya pada dirinya. Tapi ia pun merasa, tak ada seorang pun di antara anak buahnya yang terlihat sempat berkata-kata. Justru kini dirinya disergap oleh sekian banyak pasang mata yang bertanya-tanya dan wajah-wajah yang keheranan.

Merasa kelihatan bodoh, Ronggonoto akhirnya kembali memutar kudanya ke arah semula, melanjutkan perjalanan. Apalagi ia lihat gerbang wilayah Amparan sudah terlihat samar di depan.

“Tak ada apa-apa. Teruskan perjalanan,” kata dia. Namun tetap saja ia merasa penasaran dengan suara yang kini lebih berani lagi mengganggunya itu.      

Meskipun tugu penanda batas wilayah Amparan sudah berada di depan, yang artinya pasukan kini siap-siap memasuki perkampungan yang dihuni banyak orang, kiri-kanan jalan masih berupa hutan-hutan kecil. Pepohonannya bukanlah pohon-pohon keras yang menjulang tinggi saling berebut sinar matahari sebagaimana di dalam rimba lebat, melainkan hanya berupa pepohonan perdu. Ada memang satu dua pohon yang cukup besar, namun umumnya rata-rata sudah mengalami sentuhan tangan manusia. Paling tidak, mungkin setahun sekali pepohonan di pinggir jalan itu dipapas agar tak menggangu jalan. Di kedua sisi jalan juga ada selokan, yang seolah menjdi pembatas jalanan yang dipakai sebagai jalur transportasi para pedagang dan masyarakat setempat itu. Selokan kecil saja, lebarnya tak akan lebih dari dua hasta.

Mendadak terdengar jerit kesakitan di depan rombongan, disusul teriakan serupa, jauh di belakang posisi Ronggonoto. Setelah itu udara dipenuhi teriakan keras yang tampak dilakukan untuk membangkitkan keberanian. Di sisi lain jerit kesakitan sekian banyak prajurit pun terdengar menyayat di sore hari menjelang magrib itu. Ronggonoto segera tersadar, pasukannya diserang.

“Bentuk formasi!” kata Ronggonoto segera memerintah anak buahnya. Teriakan komando itu bergaung bersipongang diteriakkan sambung-menyambung di sisi wadya bala Mataram, yang segera membuat pasukan yang tadinya begitu terlihat santai itu langsung berubah waspada. Bahkan wajar kalau orang yang melihat menyebut pasukan itu tampak ketakutan.

Ukur yang mengambil jarak cukup jauh dari jalanan, bersembunyi bersama kudanya Sembrani di lindungan pohon asam Jawa, segera memacu Sembrani maju menerjang. Sembrani enteng saja melompati perdu Eentotan, sejenis buah-buahan hutan, serta parit pemisah jalan tersebut. Sengaja Ukur tak mendaratkan kudanya di sisi kosong, melainkan di tengah kerumunan bala tentara Mataram. Hanya dalam hitungan detik, duhungnya yang termasyhur, Duhung Culanagara, telah meminum darah segar balatentara Wetan.

“Wuuaaaa!” jerit seorang tentara yang pangkal kehernya tertebas duhung Ukur. Jeritan yang sebenarnya hanya membuat kondisinya makin parah karena darah yang tambah membual keluar. Tubuhnya kemudian ambruk ke jalanan, kelejotan menunggu datangnya ajal.

Ukur saat itu benar-benar mengamuk. Duhungnya seolah bermata, menebas, menusuk kiri-kanan, lalu tiba tiba berputar bagai gasing di atas kepala Ukur, sebelum dua tiga detik kemudian terdengar jeritan manakala duhung itu menusuk dada, menebas batang leher, atau menancap membelah punggung.

Ulah sambat kaniaya, ilaing urang Wetan. Jangan menuding kami zalim, Kalian orang Timur. Apa yang Kalian bawa ke mari hanya kesedihan dan kerusakan. Sudah pada tempatnya bila Kalian mendapatkan balasan, bahkan di dunia ini,” teriak Ukur. Suaranya yang menggelegar seolah memberi kekuatan ekstra kepada wadya bala Sunda untuk terus menebas memburu nyawa.

Sekitar sepeminuman teh, keributan itu pun mereda. Jalanan yang tadi dipadati puluhan hingga mendekati seratusan manusia itu kini berkurang banyak. Sebagian laskar Mataram yang ketakutan lari ke berbagai arah. Banyak di antara mereka yang melemparkan tombak dan perisai saat dirasa membebani pelarian. Tak kurang-kurang yang nekat masuk rimba raya, menembus gelap yang mulai meraja. Mereka tahu, di sana bisa saja bertemu dengan Si Belang, macan lodaya kelaparan yang akan kegirangan kedatangan mangsa. Tapi itu kemungkinan, sementara bila tetap bertahan di sini dan menghadapi dendam kesumat orang Sunda, peluang untuk mati bagi mereka lebih dekat lagi.

Ronggonoto masih duduk di atas kudanya. Di sekitarnya berdiri sekitar 40-an sisa prajuritnya dalam kuda-kuda bertahan. Tameng erat dipegang menutup dada, sementara mata-mata tombak mengarah ke depan, siap menembus tubuh musuh yang datang dengan ceroboh.

Pelan, Ukur mengarahkan Sembrani mendekati Ronggonoto. Bala tentara Sunda seketika menyibak memberi jalan.    

Pada jarak sekitar lima meter dengan Ronggonoto, Ukur menemukan pria itu terlihat gusar, gundah dan resah (alias GGR—penulis). Mengapa? Bukankah seharusnya dirinya yang begitu, setelah kematian istri, kehilangan para rakyat dan abdi terbaik, belum lagi sekian kampung yang dibakar. Seharusnya, kata Ukur dalam hati, akulah yang gusar. Aneh kalau dia begitu gusar hanya karena kehilangan bala tentara, orang-orang gelap mata yang tak lagi bisa membedakan benar-salah, musuh dengan kawan. Orang-orang keji yang sebagian kini telah kabur ke dalam hutan, menunggu dimangsa si belang atau dililit sanca besar sebelum ditelan bulat-bulat sebagai pemuas lapar.

Namun tak lama Ukur melihat bahwa Senapati Mataram itu telah menemukan kembali keberaniannya. Atau mungkin kenekatannya? Sama saja. 

Sebaliknya, setelah beberapa saat dicekam ketakutan mengingat dosa-dosa yang ia perbuat, lambat-lambat terbersit rasa girang di batin Ronggonoto. Bagaimana pun, kedatangan Ukur, meski ia telah melihat sendiri bagaimana Senapati-yuda Sunda mengamuk dan membinasakan banyak prajuritnya, timbul harapan untuk menuntaskan dendamnya hingga benar-benar lunas. Mungkin bahkan ada kelebihan alias laba. Dia hanya kehilangan muka dalam arti benar-benar harfiah, kehilangan raut wajah hingga kini parasnya hanya membuat orang ngeri dan mual. Sementara Ukur telah kehilangan istri yang sangat ia cintai. Kalau ia bisa membunuh Ukur, itu adalah hal yang sangat ideal. Mungkin kepala Ukur bisa ia bawa ke Kartasura, ditukar dengan emas dan aneka raja brana.

“He he he…” Ronggonoto tak sadar terkekeh. Kemarin istrinya, katanya dalam hati. Kini Ukur sendiri yang akan ia bawa menuju mati.

“Ukur! Kau ternyata sudah bosan hidup dengan datang sendiri menemuiku,” katanya.   Tak sadar, keris andalannya teracung menunjuk-nunjuk Ukur.

“Mungkin Kau sudah rindu istrimu, ya? Ke sini, sekalian kukirim Kau ke neraka yang kini ditempati istrimu itu. Wanita tak tahu diuntung. Mau dikasih enak malah minta mati,” kata Ronggonoto tergelak.

Darah Ukur sempat mendidih mendengarnya. Apalagi saat istrinya yang sudah tiada dibawa-bawa. Namun ia sadar, kalau hanya dipanas-panasi seperti itu ia sudah kehilangan akal dan malah dipandu nafsu, apa gunanya selama ini belajar banyak di berbagai padepokan, mengeruk ilmu kanuragan dan ilmu bathin?

“Aku hanya merendahkan martabatku sendiri kalau terpancing,” pikir Ukur.

“Jangan banyak omong hanya untuk menutupi ketakutanmu, Ronggonoto,” kata Ukur, kalem. Empat ratus tahun kemudian sikap seperti itu mungkin disebut generasi turunannya sebagai ‘woles’.

“Kalau Kau masih punya terong peot, mari kita langsung saja ogol begalan pati [1]. Jangan libatkan anak buahmu dan anak buahku. Karena kalau saja aku mau, apa sudahnya menghabisi sisa-sisa anak buahmu. Kau semberono memilih wadya bala. Kau lihat, sebagian besar anak buahmu ternyata para pengecut semata.”

Sebentar Ukur diam, menakar respons yang diberikan Ronggonoto, sebelum ia kembali bicara.

“Kalau aku mati, matilah aku. Biarkan anak buahku bebas merdeka menentukan piliha mereka. Sebaliknya, kalau Kau yang modar, akan kubiarkan anak-anak buahmu kembali ke Wetan, pulang ke keluarganya.”

Ronggonoto terdiam. Bukan tak bisa menjawab, tapi ia memang malu. Tawaran itu tak lain hanya cara Ukur untuk memberi muka kepadanya. Kalau pasukan Sunda itu mau, apa salahnya terus melangsungkan perkelahian di saat perbandingan wadya bala mereka kini jauh lebih banyak dibanding prajuritnya yang tinggal 40-an orang?

Jadi, alih-alih menjawab, Ronggonoto malah merespons dengan geraman. Ia mendengus. Lalu dengan lincah melompat dari pelana kudanya, menapak tegap di tanah.

Ukur pun segera turun, melepaskan kaki dari sanggurdi kudanya. Kedua kuda itu diambil prajurit masing-masing, dibawa ke pinggir. Orang-orang, baik prajurit Sunda maupun orang Wetan menyibak. Sebuah medan tanding segera terbentuk seketika. [bersambung]


[1] Duel satu lawan satu sampai mati

Back to top button