Solilokui

“Percikan Agama Cinta” : Mari Mempertuhankan Allah dengan Sejati

Mari merenungi kehadiran engkau di sini. Kenapa engkau mengada jika kelak harus meniada—selamanya. Yakinlah, Islam itu cinta. Rindu pada kebahagiaan adalah imannya. Lantas hidup adalah ujian tentang cinta, kasih, dan sayang tak berkesudahan.

JERNIH– Saudaraku,

Berliburlah ke dalam lautan diri. Engkau akan menemukan kedalaman sukma yang terbentang luas, menembus batas-batas kebekuan. Di dalam lautan itu, engkau merontokkan kapling-kapling keakuanmu: merayakan kemanusiaan senafas dengan kesibukan. Jiwamu menari-nari bersama burung-burung yang tertawa di pohon depan rumah.

Deden Ridwan

Aku menikmati jalan-jalan di pataka diri. Aku seolah bertamasya ke alam makna tanpa batas. Aku terpana di pelukan Sang Mahacinta yang terus memancarkan afwah bagi segenap manusia-manusia kerdil semacamku. Aku sejenak tersadarkan: mengorupsi kebenaran yang tercermin dalam sikap merasa paling benar, sungguh perbuatan melampaui batas.

Aku tiba-tiba terdiam di tengah bisikan suara lirih: kehadiranku di dunia ini anugerah terbesar dan keajaiban nyata. Tak satu pun manusia di bumi ini yang pernah memesan pada Tuhan ingin memeluk Buddha, berjenis kelamin perempuan, lahir di Israel, anak Fir’aun, beristri Madonna, atau punya ayah semacam Hitler.

Maka dari itu, mari merenungi kehadiran engkau di sini. Kenapa engkau mengada jika kelak harus meniada—selamanya. Yakinlah, Islam itu cinta. Rindu pada kebahagiaan adalah imannya. Lantas hidup adalah ujian tentang cinta, kasih, dan sayang tak berkesudahan.

Terkait itu, di bulan Gus Dur ini, aku teringat pesannya yang amat menyentuh.  Gus Dur membocorkan rahasia hidupnya: “Begini. Ketika saya didatangi banyak orang yang meminta perlindungan, apakah orang itu benar atau salah, saya terima mereka semua dengan lapang dada. Karena apa? Saya selalu yakin, Allah-lah yang menggerakkan hati mereka agar mendatangi saya.”

Jika saya tolak karena mereka bersalah, itu sama saja saya menolak kehendak Allah. Perlindungan saya kepada orang-orang yang disudutkan karena kesalahannya itu, bukanlah bentuk bahwa saya melindungi kesalahannya, tapi saya melindungi kemanusiaannya.

Tak berhenti di situ. Gus Dur lebih jauh melanjutkan nasihatnya. Jika engkau membenci orang karena ia tidak bisa membaca Al-Quran, berarti yang engkau pertuhankan itu bukan Allah, tapi Al-Quran. Jika engkau memusuhi orang yang berbeda agama denganmu, berarti yang engkau pertuhankan itu bukan Allah, tapi agama. Jika engkau menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang engkau pertuhankan bukan Allah, tapi moral.

Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Pembuktian bahwa engkau mempertuhankan Allah, ya engkau harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah.”

Aku terpana dengan kata-kata dahsyat itu. Nasihat Gus Dur sungguh sangat menggetarkanku. Cara beragama wa bil khusus berislam model Gus Dur terasa begitu membumi. Mudah dipahami. Dimengerti. Dijalani. Berbanding terbalik dengan fenomena Muslim “hijrah” yang cenderung menerapkan laku beragama mereka hari ini secara ekslusif.

Aku terkaget-kaget. Hidup di dunia tapi malah kepikiran akhirat. Lantas lupa tugas utama manusia hidup di dunia. Kepengin mencintai Allah tapi membenci makhluk-Nya. Padahal, mencintai makhluk saja sudah sulit bukan main, apa pula mencintai Allah yang Maha Melampaui Segala.

I love Gus Dur. Engkau adalah mata air keteladanan yang terus mengalir: membasuh bumi dengan nilai-nilai cinta. Semoga engkau tenang di sisi-Nya, bertemu Sang Mahacinta. al-Fatihah.. [Deden Ridwan]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close