Solilokui

“Percikan Agama Cinta”: Seni Ngegas dan Ngerem dalam Menata Puzzle Kehidupan

Kesetimbalan antara keduanya adalah kunci meraih kebahagiaan otentik. Tanpa keserasian, engkau akan terjerat waktu dalam kubangan kesedihan.

JERNIH– Saudaraku,

Kegalauan itu tidaklah datang kecuali dari dua pintu: terlalu ambisi terhadap dunia, dan kekurangan dalam melakukan amal kebaikan. Hidupmu menjadi berat sebelah: asyiik-masyuk dengan kesibukan namun miskin pengabdian.

Ketika obsesi berlebihan menguasai ego, kecintaanmu pada dunia mengalir deras. Menembus batas-batas wajar. Mengebiri akal-sehat. Mengubah nurani menjadi batu-batu kerdil: melawan pesan-pesan langit. Pada titik ini, engkau akan cenderung menghalalkan segala cara demi meraih kebahagiaan semu bertopeng kepongahan dunia.

Deden Ridwan

Ketahuilah. Dalam situasi kecemasan, engkau mesti pandai ngerem untuk mengendalikan hidupmu. Karena hidup sejati hanya mungkin terjadi tatkala engkau mampu memutuskan: kapan sebaiknya harus ngegas atau ngerem secara seimbang. Kesetimbalan antara keduanya adalah kunci meraih kebahagiaan otentik. Tanpa keserasian, engkau akan terjerat waktu dalam kubangan kesedihan.

Renungkanlah. Ngegas adalah suatu tamsil ketika petualangan hidupmu melaju sangat cepat: terfokus menaklukan dunia dalam bayang-bayang kecintaan  dan kenikmatan kebendaan. Merayakan keceriaan tanpa kegetiran karena mengerdilkan rasa kepedulian.

Sedangkan ngerem adalah cara berhenti sejenak untuk memberikan makna dalam setiap pengembaraanmu. Ya, engkau mesti mengaitkan saban langkahmu dengan kekuatan cahaya supaya terhubung dengan ruh Mahacinta yang selalu menerangi lorong-lorong kegelapan.

Dengan bekal pantulan cahaya itu, engkau bisa melanjutkan penjelajahan sambil terus berupaya melayani dunia dengan tertawa. Dalam bingkai itu, perbanyaklah bekalmu dengan amal kemanusiaan supaya keselarasan hidup bersama semesta tetap terjaga.

Camkanlah. Dalam setiap perjalanan hidup, kesabaran adalah kekuatan pengingat keharmonisan: antara kemerdekaan dalam berikhtiar dengan rasa antusiasme demi merawat harapan-keyakinan. Menjadikan hidup bermanfaat sekaligus bermartabat.

Benar, kesabaran mesti dimulai dengan keteguhan iman, pengendalian diri dari godaan-hasrat dunia berlebihan, dan ketabahan pada saat-saat sulit-genting. Tuhan menguji imanmu sampai engkau mampu melewati ujian-Nya dengan penuh keikhlasan tanpa murung. Karena rahmat Tuhan acap kali turun dari langit tatkala para hamba tertawa.

Ingatlah. Mengelola hidup itu bak menata puzzle. Dari kepingan mana yang paling berarti, tidaklah sama bagi setiap orang. Bagiku, kekayaan itu penting. Cuma ia harus terus dikelola supaya memberikan keberkahan bagi khalayak. Kaya bermanfaat sekaligus bermartabat.

Saudaraku, pastilah. Hanya dengan kesabaran, keuletan, kecerdasan, engkau akan bisa menyusun puzzle dengan rapi-indah.  Namun sebaliknya, jika tanpa kesabaran, kebebasan, dan rasa antusiasme, engkau akan digilas kebrutalan dunia yang tuna makna. [Deden Ridwan]

Back to top button