Solilokui

Ibadah Haji dan Doa Cinta Tanah Air

Kecintaan kepada tanah air, patrotisme, selalu dikumandangkan oleh para jamaah haji Indonesia, pada setiap kesempatan berdo’a pada saat dan tempat mustajab di Tanah Suci. Terutama ketika ketika wukuf di Arafah. Salah satu do’a “wukuf”  cinta tanah air, berisi permohonan agar  Tanah Air Indonesia, mendapat kesuburan, kemakmuran, keamanan, kesentosaan. Dijauhkan dari bencana alam, wabah penyakit, kerusakan dan kemungkaran, dan pembunuhan

Oleh   : Usep Romli HM 

Kementerian Agama baru akan mengumumkan jadi tidaknya jamaah haji Indonesia tahun ini berangkat ke Tanah Suci, tanggal 1 Juni mendatang. Terutama sekali, menunggu kepastian dari Kerajaan Arab Saudi.

Wabah virus Covid 19 menjadi penyebab kemungkinan gagalnya penyelenggaraan haji th.1441 Hijriyah/2020 M. Padahal hakikat ibadah haji adalah memperbaharui dan mempertegas tauhid sekaligus memperbesar rasa patriotisme. Cinta tanah air.

Usep Romli HM

Tauhid berarti mengesakan Allah SWT. Meyakini tak ada sekutu bagiNya. Dalam ibadah haji, penegasan ketauhidan, telah dimulai sejak awal, melalui rangkaian  kalimat  talbiyah “labbaik allhumma labaik, labbaik la syarikalaka labbaik, innal hamda wa ni’matalaka wal mulka, la syarikalak”. Aku datang memenuhi panggilanMu, ya Allah, aku datang memenuhi panggilanMu. Tak ada sekutu bagiMu. Aku datang memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalah milikMu. Tak ada sekutu  bagiMu.

Karena itu, seiring kumandang talbiyah, jelas tegas, berhaji itu memenuhi undangan Allah semata, yang tak ada sekutu bagiNya. Hanya tunduk patuh pasrah sumerah kepadaNya. Dainunnah lillahi wahdah. Berhaji bukan untuk mendapat titel “haji” atau “hajjah”. Bukan untuk menambah gengsi di hadapan manusia. Tidak. Tapi semata-mata hanya bagi Allah, pemilik segala puji, segala nikmat dan segala kekuasaan di dunia dan akhirat. Sehingga tak ada bandingan dan  tandingan sekutu bagiNya.

Menurut beberapa kamus bahasa Arab, akar kata tauhid adalah “wahdah”. Bermakna keesaan, kesatuan dan persatuan. Maka dalam praktek nyata, agar kita berada dalam kesatuan dan persatuan yang kokoh, harus bertauhid. Percaya hanya kepada Allah semata. Tidak kepada yang lain-lain, di luar Allah SWT, baik dalam beribadah, maupun bermuamalah yang meliputi urusan kemasyarakatan, kenegaraan, ekonomi, politik, budaya, dan lain-lain yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Tidak ada  pemisahan antara ibadah “mahdlah” (ritual), dengan ibadah “ghair mahdlah” (sosial). Semua berada dalam koridor aturan Allah SWT, dan  tertuju kepada pencapain ridlaNya, Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.

Bagi setiap Muslim  beriman dan bertauhid, tidak ada istilah pemisahan, ini untuk urusan dunia dengan menggunakan aturan manusia, itu untuk urusasan akhirat, baru menggunakan aturan Allah SWT dan RasulNya. Bagi Muslim beriman dan bertauhid, urusan dunia dan akhirat, berada dalam satu tarikan nafas. Menjalankan kehidupan di dunia, tetap berpedoman kepada petunjuk Allah SWT dan RasulNya. Dan menjalankan kehidupan di akhirat, juga berpedoman kepada ketentuan-ketentuanNya yang telah dinyatakan dalam Al Quran, serta ketentuan Sunnah Rasulullah Saw.

Banyak ayat-ayat Quran, berisi perintah Allah SWT mengenai kehidupan di dunia. Antara lain, perintah saling kenal mengenal satu sama lain. Di antaranya, S.Al Hujurat ayat 13 : “Wahai manusia,Kami menciptakan kalian dari  satu jenis laki-laki dan wanita, dan menjadikan kalian berbagai bangsa  dan suku bangsa, agar kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian, adalah yang bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Waspada.”

Ayat di atas mengutarakan prinsip keberagaman yang sekarang sedang sibuk didengung-dengungkan. Sedangkan yang paling mulia di antara beragam orang itu, adalah yang bertakwa, Yaitu yang mematuhi segala perintah Allah dan meninggalkan segala laranganNya.

Pada ayat-ayat sebelumnya (ayat 11 dan 12), Allah SWT melarang manusia mengolok-olok manusia lainnya, karena siapa tahu yang diolok-olok itu lebih bagus daripada yang mengolok-olok. Juga memerintahkan agar manusia menjauhi prasangka (su’udzan), mencari-cari kesalahan orang lain (tajasus), dan mengada-ada ucapan tak benar (ghibbah).

Pada ibadah haji, Allah SWT melarang “rafats”. Mengeluarkan kata-kata tak layak, ujaran kebencian, pemancing berahi, dan sejenisnya, “fusuk” berbuat hal-hal yang menimbulkan kejengkelan orang lain, merusak kebersamaan, dan “jidal”. Berbantah-bantahan, berdebat tak karuan (Q.s.Al Baqarah : 192).

Kecintaan kepada tanah air, patrotisme, selalu dikumandangkan oleh para jamaah haji Indonesia, pada setiap kesempatan berdo’a pada saat dan tempat mustajab di Tanah Suci. Terutama ketika ketika wukuf di Arafah. Salah satu do’a “wukuf”  cinta tanah air, berisi permohonan agar  Tanah Air Indonesia, mendapat kesuburan, kemakmuran, keamanan, kesentosaan. Dijauhkan dari bencana alam, wabah penyakit, kerusakan dan kemungkaran, dan pembunuhan : “Allahumaj’al baldatana Indonesia, baldatan aminan muthma’inatan……. Allahumma annal ghala wal waba wal bala wal fahsya wal munkar wal baghya…….

Doa tersebut, mendengung di bumi Arafah. Menembus lapis-lapis langit, hingga tiba ke hadirat Allah SWT.

Akankah sekarang doa patriotik cinta NKRI itu  masih akan ada? Tergantung keputuan Kemenag 1 Juni mendatang. [  ]

Back to top button