Solilokui

Khayal Konyol Kejayaan Abadi

Maka barang siapa mengangan-angankan keabadian, kejayaan, kelestarian terus-menerus, hanyalah menapak di ruang kosong. Sebuah khayalan konyol yang dikategorikan “thulul amal”. Sebuah perbuatan yang dikecam keras Nabi  Muhammad Rasulullah Saw.

Oleh :  H.Usep Romli HM

Tidak ada yang kekal di muka bumi. Sebagaimana firman Allah SWT “Kullu man alaiha fanin”. Semua yang ada di muka bumi akan binasa (Q.s.ar Rahman : 26).

Yang kuat tidak selamanya kuat. Sebab proses kekuatan berasal dari kelemahan dan akan kembali kepada kelemahan pula. Penciptaan manusia menjadi contoh nyata tentang hal itu. Allah SWT menciptakan manusia dari setetes ar mani yang lemah, menjadi janin yang lemah, serta bayi yang dilahirkan dalam keadaan lemah pula. Kemudian atas izin dan perlindunganNya, bayi menjadi tumbuh sehat, kuat, hingga mencapai puncak sebagai manusia dewasa, matang, penuh semangat. Setelah itu, kembali harus menempuh proses menurun. Sakit-sakitan, tua, pikun, hingga meninggal dunia (Q.s.Rum : 54).

Usep Romli HM

Maka barang siapa mengangan-angankan keabadian, kejayaan, kelestarian terus-menerus, hanyalah menapak di ruang kosong. Sebuah khayalan konyol yang dikategorikan “thulul amal”. Sebuah perbuatan yang dikecam keras Nabi  Muhammad Rasulullah Saw.

Nilai-nilai keabadian dapat direngkuh, melewati batas kemampuan pisik yang terkena degradasi waktu dan usia. Yaitu dengan amal soleh. Perbuatan bajik yang senatiasa dikenang sepanjang hayat. Sumber doa dan kebahagian publik, yang akan mengantar pemiliknya hidup tenang di alam baka. Sodaqoh jariyah, ilmu bermanfat, dan anak soleh yang mendo’akan kedua orang tuanya adalah sumber kelestarian di dunia dan akhirat (hadis sahih).

Perguliran nasib yang konkret mungkin pula menimpa kita. Hari ini kita menjulang di atas, esok lusa terpuruk remuk di bawah. Itu merupakan sebuah peringatan terhadap sesuatu yang berjalan secara tidak semestinya. Alloh Maha Kuasa, menempatkan seseorang hari ini raja, besok lusa rakyat biasa. Hari ini mulia, esok lusa hina dina (Q.s. Ali Imron : 26)

Kisah di bawah ini, mungkin dapat menjadi acuan : seseorang melihat seseorang lain sedang bertawaf di Ka’bah. Di kelilingi banyak pengawal yang bertugas menyingkirkan orang , untuk melapangkan jalan. Dengan pongahnya, orang itu berthawaf tanpa memedulikan orang-orang yang tersuruk ke sana kemari oleh dorongan pengawal-pengawalnya.

Beberapa waktu kemudian, ia melihat seorang pengemis di gerbang kota Baghdad yang megah. Menadahkan mangkuk untuk meminta sekedar sedekah dari orang-orang lewat. Orang itu ingat sekali, pengemis tersebut adalah orang yang ditemuinya ketika thawaf dulu. Ya, yang berthawaf penuh kepongahan sambil dikawal para prajuritnya.

“Hai saudara, bukankah dulu engkau sangat kuasa. Sehingga berthawaf pun menggunakan pengawal untuk mengusir orang yang menghalangi jalan,”ia bertanya .

“Betul sekali. Memang itu aku. Dulu aku sombong di tempat orang-orang seharusnya merendahkan diri. Sekarang aku hina-dina di tempat orang-orang membanggakan diri, “jawab orang itu pelan.     

Hanya saja,  amal baik pengekal hidup di akhirat itu, sangat sulit dilaksanakan. Lebih sering  sekedar didambakan saja. Diangan-angankan. Sedikit sekali yang mampu merealisasikannya di tengah kehidupan dunia amat terbatas  ini. Semua orang sangat membenci amal buruk, tapi banyak sekali, justru yang berlomba-lomba melakukannya. Padahal amal baik dan amal buruk itu, akan menjadi racikan bekal dalam menempuh kehidupan selanjutnya setelah selesai lakon kita di muka bumi.

Ibnul Qayyim al Jauziyah, dalam kitab “Fawaidul Fawaidz”,  mengisahkan kondisi manusia ketika  berhenti hidup di dunia alias mati, lalu masuk alam kubur untuk menempuh tahapan hidup baru.

Begitu jasadnya tergeletak di lubang sempit, tiba-tiba datang cahaya benderang. Ruang kubur melebar ke mana-mana. Terang dan luas. Sebelum sempat habis kekagetan Si Mayat, datang pelayan-pelayan membawa aneka macam makanan yang lezat-lezat, alas tidur yang mewah-mewah, dan sebagainya, yang tak terbayangkan dapat diperoleh selama hidup di dunia.

“Apa ini ? Mengapa begini ?”teriak Si Mayat yang otaknya sejak dulu sudah membayangkan, kuburan itu gelap pengap, tak ada kemungkinan bergerak. “Inilah amal soleh, amal kebajikan yang engkau perbuat ketika hidup di dunia. Mereka akan menemanimu selama menunggu Hari Kebangkitan. Entah sehari, setahun, seribu tahun atau jutaan tahun mendatang. Tergantung kehendak Allah Maha Penentu. Nikmatilah rahmat kubur yang bersumber dari amal solehmu ini, “sebuah suara dari arah tak diketahui, menjelaskan. Lembut merdu penuh irama kasih sayang.

Sedangkan mayat  lain, berbeda. Begitu masuk , tiba-tiba lubang yang sudah sempit itu, mengkerut. Menjepit tubuhnya. Tiba-tiba pula, sesosok benda besar hitam, berbau busuk, datang mendesak. Gumpalan batu dan api datang menyambar. Sehingga Si Mayat megap-megap. Ia  berteriak-teriak : “Apa ini? Mengapa begini?”

“Inilah amal kejahatan yang kamu perbuat di dunia. Mereka akan menemanimu selama mengunggu Hari Kebangkitan. Entah sehari, setahun, seribu tahun, atau jutaan tahun mendatang. Tergantung kehendak Allah Maha Penentu. Rasakanlah azab kubur yang bersumber dari amal kejahatanmu ini, “sebuah suara dari arah tak diketahui, menjelaskan. Menggelegar menyakitkan telinga yang mendengarnya.

Pilihan perbuatan manusia di muka bumi, memang hanya dua. Bajik atau jahat. Kepada dua perbuatan itu, Allah SWT seolah-olah memberi tangguh. Yang bajik, seolah-olah tidak segera mendapat ganjaran. Yang jahat seolah-olah tidak mendapat hukuman. Sehingga bagi orang-orang yang tidak waspada, berbuat amal kebajikan sangat membosankan, dan berbuat amal keburukan sangat menyenangkan. [  ]

Back to top button