Spiritus

Ma’ruf Al-Kharki Kecil dan Pelajaran dari Malaikat

Ma’ruf pun berwasiat. “Apabila aku mati, lepaskanlah pakaianku, dan sedekahkanlah. Aku ingin meninggalkan dunia ini dalam keadaan telanjang seperti ketika dilahirkan dari rahim ibuku.”

JERNIH—Sebelumnya kita telah mengulas bahwa Ma’ruf Al-Kharki tergolong sufi penggagas paham cinta dalam dunia tasawuf. Beliau juga dianggap salah seorang sufi penerus Rabi’ah Al-Adawiyah, sufi pelopor Mazhab Cinta.

Suatu hari, beberapa orang Syiah mendobrak pintu rumah guru Ma’ruf Al-Kharki– Ali bin Musa bin Reza. Para penyerang itu juga menghajar Ma’ruf hingga tulang rusuknya patah. Ma’ruf tergeletak dengan luka cukup parah.

Melihat itu, muridnya, Sarri al-Saqathi berujar, “Sampaikan wasiatmu yang terakhir.” Ma’ruf pun berwasiat. “Apabila aku mati, lepaskanlah pakaianku, dan sedekahkanlah. Aku ingin meninggalkan dunia ini dalam keadaan telanjang seperti ketika dilahirkan dari rahim ibuku.”

                                                **

Sarri as-Saqathi meriwayatkan kisah: Pada suatu hari perayaan aku melihat Ma’ruf tengah memunguti biji-biji kurma.

“Apa yang sedang engkau lakukan?” tanyaku.

Ma’ruf menjawab, “Aku melihat seorang anak menangis. Aku bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Ia menjawab. “Aku adalah seorang anak yatim piatu. Aku tidak memiliki ayah dan ibu. Anak-anak yang lain memdapat baju-baju baru, sedangkan aku tidak. Mereka juga dapat kacang, sedangkan aku tidak.” Lalu aku pun memunguti biji-biji kurma ini. Aku akan menjualnya, hasilnya akan aku belikan kacang untuk anak itu, agar ia dapat kembali riang dan bermain bersama anak-anak lain.”

“Biarkan aku yang mengurusnya,” kataku.

Aku pun membawa anak itu, membelikannya kacang dan pakaian. Ia terlihat sangat gembira. Tiba-tiba aku merasakan seberkas sinar menerangi hatiku. Dan sejak saat itu, aku pun berubah.

                                                **

Suatu hari Ma’ruf batal wudu. Ia pun segera bertayammum. Orang-orang yang melihatnya bertanya, “Itu Sungai Tigris, mengapa engkau bertayammum?”

Ma’ruf menjawab, “Aku takut keburu mati sebelum sempat mencapai sungai itu.”

**

Ketika Ma’ruf wafat, banyak  orang dari berbagai golongan datang bertakziyah: Islam, Nasrani, Yahudi. Ketika jenazahnya akan diangkat, para sahabatnya membaca wasiat almarhum Ma’ruf: “Jika ada kaum yang dapat mengangkat peti matiku, aku adalah salah seorang di antara mereka.”

Kemudian orang Nasrani dan Yahudi maju, namun mereka tak kuasa mengangkatnya. Ketika tiba giliran orang-orang Muslim, mereka berhasil. Lalu mereka menyalatkan dan menguburkan jenazahnya.

                                                **

Salah satu amalan rutin yang dikerjakan Ma’ruf al-Karkhi adalah berpuasa. Suatu ketika, menjelang Ma’ruf meninggal, ia menderita sakit. Seorang laki-laki yang tak jelas agamanya datang menjenguk Ma’ruf, lalu menanyakan ihwal puasa yang dijalani Ma’ruf.

“Wahai Syekh, katakan kepadaku tentang amalan puasa yang engkau jalani?” tanya laki-laki itu.

“Puasaku ini sebagaimana puasa Nabi Isa AS,”jawab Ma’ruf.

“Wahai Syekh, katakan kepadaku tentang amalan puasa yang engkau jalani?”tanya laki-laki itu sekali lagi.

“Puasaku ini sebagaimana puasa Nabi Daud AS,”jawab Ma’ruf.

“Wahai Syekh, katakan kepadaku tentang amalan puasa yang engkau jalani?” tanya laki-laki itu, kembali menanyakan hal yang sama.

“Puasaku ini sebagaimana puasa Nabi Muhammad SAW,”jawab Ma’ruf.

Lelaki yang bertanya itu sepertinya belum puas dengan jawaban Ma’ruf al-Karkhi. Ia kembali menanyakan pertanyaan yang sama.

“Wahai Syekh, katakan kepadaku tentang amalan puasa yang engkau jalani?”tanya laki-laki.

“Aku menjadikan sepanjang hariku berpuasa. Namun jika ada orang yang mengajak atau mengundangku makan, maka aku akan makan tanpa mengatakan bahwa aku sedang berpuasa,”kata Ma’ruf al-Karkhi. Setelah mendapat jawaban itu, lelaki yang bertanya tadi berhenti bertanya.

                                                **

Al-Khaṭib al-Baghdadi bercerita dalam “Tarikh Baghdad”, bahwa suatu hari Ma’ruf al-Karkhi sedang dalam perjalanan, sementara ia pun sedang dalam keadaan berpuasa Sunnah. Di tengah perjalanan tiba-tiba ada orang dermawan yang menyedekahkan air.

Ma’ruf mendengar si dermawan itu berdoa, berharap orang yang meminum airnya mendapat rahmat dari Allah.

Saat doa itu didengar Ma’ruf al-Karkhi, ia pun segera membatalkan puasanya dengan air dari orang dermawan itu. Ma’ruf berharap dirinya juga mendapat rahmat Allah dari air yang ia minum.

                                                **

Kita tahu bahwa kedua orang tua Ma’ruf Al-Kharki, manakala Ma’ruf masih kecil adalah penganut Kristen.

Konon, “Ma’ruf mengajarkan agama yang dipeluknya dengan ucapan-ucapan yang tidak disukai kedua orang tuanya. Sehingga si Ibu berkata kepada sang ayah, “Anakmu ini masih sangat kecil, tidak pantas berkata-kata demikian. Jalan pikirannya telah dirusak oleh sebagian umat Islam, sebaiknya ia dilarang keluar rumah saja. Keputusan ini lebih baik untuk anak kita.”

Beberapa hari ia disekap dalam kamar rumahnya. Namun sang ayah tidak tega, lalu melepasnya. Akan tetapi Ma’ruf malah kembali mengunci diri di dalam kamar. Ia tidak mau keluar sebelum kedua orang tuanya memaksa untuk keluar kamar, sampai-sampai sang ayah bertanya, ‘Mau berapa lama lagi kamu akan mengunci diri dalam kamar?”

Ma’ruf menjawab, “Ayah, sebenarnya ketika aku berada di dalam kamar ini, aku mendapatkan seseorang yang mampu memberi pencerahan yang ayah ibuku sangka bahwa dia merusak jalan hidupku dan berdampak buruk pada ayah ibu berdua.”

Ayah Ma’ruf bertanya, “Siapa dia?”

Ma’ruf diam, tidak menjawab. Sang Ayah marah kepada si Ibu, “Ini gara-gara kamu! Anak kesayanganku jadi gila!”

Sang ayah lalu membawa Ma’ruf pergi menemui seorang pendeta, untuk menceritakan kejadian tersebut dan agar pendeta bersedia menjampi dan mengobatinya.

Sang pendeta bertanya kepada Ma’ruf, “Siapakah yang ayahmu maksud merusak jalan pikiranmu sehingga berdampak buruk kepada mereka berdua?”

Ma’ruf menjawab,”Hati kecilku! Dia senantiasa merenungkan siapa yang telah menciptakan langit dan bumi juga memikirkan mengapa bisa demikian indah!”

Sang pendeta bertanya lagi,”Kalau begitu, bagaimana menurut pendapatmu, wahai Ma’ruf, mengenai renunganmu itu?”

Ma’ruf menjawab, “Menurutku, di sana hanya ada satu Dzat yang mampu mengatur seluruh alam raya ini. Tidak boleh ada seorang pun yang menyerupai Dzat itu. Sebab sekiranya, ada tentu Ia ingin berbuat seperti yang telah diperbuat lainnya.”

Pendeta berkata, “Kalau demikian, tetaplah kamu di situ, sebentar lagi aku datang menemuimu.”

Kemudian pendeta kembali ke biaranya untuk mengambil tinta dan pena. Ia mengajukan beberapa pertanyaan kepada Ma’ruf, lalu menulis jawabannya. Selanjutnya pendeta berkata kepada Fairuz (ayah Ma’ruf), “Wahai Fairuz, sekiranya engkau berkata kepadaku bahwa anak ini adalah anakku, tentu aku akan mengatakan bahwa dia adalah salah satu murid para Malaikat.”

Fairuz bersama anaknya pulang dengan perasaan bahagia.

Ma’ruf berkata, “Peristiwa ini kemudian aku ceritakan kepada guruku Ali bin Musa ar-Ridha. Beliau pun berkomentar, “Memang kamu salah satu murid para malaikat.” [  ]

Sumber : “Anba’ Nujabail Abna”, “Tadzkiratul Auliya”

Back to top button