Veritas

Dituduh Menyebar Covid-19, Muslim India Menghadapi Ancaman Pembantaian

  • Berawal dari pertemuan Jamaah Tabligh di Delhi.
  • Muslim di sekujur India menghadapi tuduhan menyerang Hindu dengan menyebarkan virus korona.
  • Ada seruan boikot bisnis, pengusiran, dan pembantaian Muslim di seluruh India.
  • Pemerintah India mensponsori semua kekerasan itu.

New Delhi — Mehboob Ali baru pulang dari pertemuan keagamaan, ketika serombongan pemeluk Hindu menggeruduk rumahnya di Desa Harewali — pinggiran barat laut Delhi.

Ia diseret, dipukul dengan apa saja, sampai kepala, mulut, hidung, dan telinga mengeluaran darah. Kelompok pemeluk Hindu yang menyerangnya percaya Ali harus mati, sebelum Muslim taat itu melakukan jihad korona.

Ali dibawa ke kuil Hindu dipaksa menanggalkan Islam, jika ingin dibawa ke rumah sakit. Ali menolak.

The Guardian melaporkan lima hari setelah serangan itu keluarga Ali tak berani keluar rumah, karena khawatir ikut dituduh penyebar virus korona.

“Jika kami melaporkan kasus ini ke polisi, penduduk Hindu akan mengusir kami dari desa,” kata seoang anggota keluarga dekat Ali, yang berbicara tanpa menyebut nama.

Polisi mengatakan Ali hadir di Konvensi Muslim di Bhopal, beberapa pakan lalu. Ali ditahan di bangsal isolasi rumah sakit Lok Nayak Jai Prakash Narayan di Delhi kendadi tidak memiliki gejala.

Serangan terhadap Ali adalah gejala meningkatnya demonisasi komunitas Muslim India. Mereka menghadapi tuduhan tanpa dasar, sengaja menyebarkan virus Covid-19 ke mayoritas Hindu.

Mayoritas Hindu memboikot bisnis Muslim di sekujur India. Relawan Muslim mendistribusikan makanan, tapi menghadapi tuduhan telah meludahi makanan sebelum memberikannya ke penganut Hindu.

Poster-poster anti-Muslim bermunculan di banyak tempat di Delhi, Karnataka, Telangana, Madhya Pradesh, dan Himachal Pradesh.

Jamaah Tabligh

Persoalan dimulai ketika pertemuan Jamaah Tabligh di Nizamuddin, selatah Delhi, disebut polisi sebagai peristiwa yang bertanggung jawab atas penyebaran virus di sekujur India.

Pertemuan, yang diijinkan penguawa Delhi, dihadiri 8.000 orang. Ada ratusan orang asing di dalamnya. Usai pertemuan, peserta kembali ke desa-desa mereka.

Polisi memerintahkan penangkapan siapa saja yang mengikuti pertemuan itu. Sejauh ini 27 ribu anggota Jamaah Tabligh dikarantin di 15 negara bagian.

Di Uttar Pradesh, polisi menyediakan hadiah 10 ribu rupee, atau Rp 1,6 juta, kepada siapa saja yang memberi informasi tentang orang-orang yang menghadiri pertemuan di Delhi.

Kelompok Respon Ilmuwan India untuk Covid-19 mengatakan data yang tersedia tidak mendukung spekulasi Jamaah Tabligh sebagai penyebar virus korona. Sebab, pengujian di India sangat rendah, yaitu hanya 110 ribu tes. Pendudk India satu miliar lebih.

Yang paling banyak dites adalah Muslim, dan pemeluk Hindu sedikit. Akibatnya, Muslim terlihat menjadi pengidap paling banyak.

Angka ini digunakan Partai Bharatiya Janata (BJP) untuk menuduh Muslim dengan sengaja bermaksud menginfeksi jutaan pemeluk Hindu. Muslim, menurut BJP, sedang melakukan teroris korona di India.

Pemimpin senior BJP menuduh Jamaah Tabligh melakukan kejahatan Talibani. Setiap anggota Jamaah Tabligh disebut-sebut menjalankan fungsi sebagai bom manusia, tapi dengan kedok pasien Covid-19.

Mereka menyerukan pemimpin Jamaan Tabligh digantung. Jika tidak, anggota organsiasi itu akan meludahi dokter, staf medis, dan melempar botol botol air seni ke orang-orang Hindu.

Jamaah Tabligh menolak semua tuduhan itui, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan mayoritas yang menguasai media sosial.

Muncul tagar coronaJihad, coronaTerorrism, dan coronaBombsTabligh di Twitter. Media mainstream terlibat di dalamnya, dengan menyebut Jamaah Tabligh sebagai superspreaders.

Dr Zafarul-Islam Khan, ketua Komisi Minoritas Delhi, mengatakan tidak hanya Jamaah Tabligh yang berkumpul tapi komunitas keagamaan lain melakukannya. Namun, tuduhan pemeluk Hindu tetap pada orang Islam.

“Kami mencatat banyak gelombang serangan baru terhadap Muslim di seluruh India,” kata Dr Khan. “Ada pembicaraan soal boikot nasional, dan pelecehan besar-besaran terhadap Islam oleh kelompok Hindutva.”

Ada kampanye besar-besaran agar pemeluk Hindu tidak mengijinkan Muslim penjual buah dan sayur masuk ke wilayah mereka. Alasannya, penjual itu menyebarkan virus.

Sayed Tabrez dan Zareen, keduanya ibu dan anak, adalah dua dari tujuh relawan Muslim yang diserang anggota BJP lokal karena membagikan makanan ke orang miskin di Karnataka.

Manohar Elavarthy dari LSM Swaraj Abhiyan mengatakan ada puluhan serangan terhadap relawan Muslim dalam beberapa hari terakhir. Polisi juga terlibat dalam serangan itu.

Di Mangalore, poster-poster bertuliskan penolakan terhadap Muslim muncul di semua sudut. Tidak boleh ada pedagang Muslim masuk ke permukiman Hindu.

Di desa Ankanahalli yang didominasi Hindu, sebuah video dibagikan kepada seluruh penduduk. Video, ditonton The Guardian, memperlihatkan seorang kepala desa memperingatakna jika ada orang Hindu bergaul dengan Muslim akan didenda 500 sampai 1.000 rupee.

Menggunakan isu virus korona untuk mendiskriminasi Muslim adalah kampanye yang disponsori negara. Tujuannya, mengubah Muslim menjadi warga negara nelas dua di India.

Pandemi Covid-19 seolah dimanfaatkan dengan sangat baik oleh BJP, dan PM Narendra Modi, untuk menjalankan politiknya. Terlebih setelah UU Kewarganegaraan yang mengeliminasi hak Muslim diberlakukan.

Situasi bagi Muslim di India dipastikan akan menjadi sangat buruk dalam beberapa pekan ke depan. Equality Labs, organisasi hak asasi manusia Asia Selatan di AS, meneliti semua pidato Islamophobia di India dan mendesak WHO mengeluarkan pedoman soal hate speech berkaitan dengan Covid-19.

Muslim India kini menghadapi pembantaian sistematis yang disponsori pemerintahan Hindu.

Back to top button