Veritas

Hari Ini Satu Tahun Pandemi Covid-19

  • Banyak pakar masih berdebat pentingnya mencari asal virus.
  • Cina dituding banyak menahan informasi, atau menghancurkan bukti.
  • Ketika dunia sibuk mengatasi pandemi, Cina mampu mengendalikan virus sebelum vaksin ditemukan.

JERNIH — Mungkin tidak akan ada perayaan apa pun di Wuhan, Cina, ketika para ahli virus mengenang korban tewas pertama Covid-19, karena semua masih sibuk dengan pertanyaan mengapa tidak ada jawaban dari mana sumber virus korona.

Korban pertama itu seorang pria berusia 61 tahun yang biasa bekerja di pasar basah Wuhan, yang menjual semua hewan eksotis dilindungi dunia. Pasar itu masih ditutup, dan penjualan hewan dilindungi tidak ada lagi.

Kini, hampir dua juta orang di seluruh dunia tewas akibat pandemi Covid-19. Di Cina, pandemi terkendali sebelum vaksin yang ditemukan. Di berbagai belahan dunia, pandemi tak terkendali.

Hari-hari dunia setelah kematian pertama di Wuhan disesaki berita sekian ribu orang terjangkit, menjalani karantina, tewas, atau sembuh, Kota-kota terkunci, dengan ribuan orang tak bisa bergerak.

Di jalan-jalan, orang-orang bermasker dan menjaga jarak. Ada yang ketakutan luar biasa, ada yang tak percaya akan pandemi dan melanggar semua protokol kesehatan yang disarankan.

Ekonomi global babak belur akibat ribuan perusahaan tutup, jutaan orang kehilangan pekerjaan, dan miskin tiba-tiba. Tidak ada yang tahu sampai kapan pandemi berakhir.

Perselisihan

Virus yang memicu dunia bertekut lutut itu diketahui akhir 2019 di pasar basah Wuhan, Cina bagian tengah. Banyak orang yakin virus berasal dari salah satu hewan hidup yang dijajakan di pasar itu, salah satunya kelelawar.

Jejak virus berakhir di Wuhan, diselimuti campur-aduk petunjuk, teori konspirasi bahwa virus berasal dari Laboratorium Wuhan.

Pakar virus terkemuka mengatakan menetapkan sumber virus sangat penting untuk memadamkan wabah di masa depan sejak saat ini. Sumber virus juga memberi petunjuk yang dapat memandu lahirnya kebijakan apakah akan memusnahkan populasi hewan, mengkarantina orang terkena dampak, atau membatasi perburuan satwa liar dan interaksi manusia dengan hewan.

“Jika kami dapat mengidentifikasi mengapa virus terus bermunculan, kami dapat mengurangi pendorong yang mendasarinya,” kata Peter Daszak, presiden Eco-Health Alliance, LSM global yang fokus pada pencegahan penyakit menular.

Keraguan tentang Pasar Wuhan

Semula, Cina dipuji karena melaporkan virus dan melepas urutan gen tepat waktu. Padahal, wabah SARS merebak tahun 2002-2003 merebak, Cina menutupi.

Sebenarnya, otoritas Wuhan sempat berusaha menutupi wabah dan menghabiskan berminggu-minggu untuk menolak teori penularan dari dan ke manusia.

Awalnya, pejabat Cina dengan tegas mengatakan wabah dimulai di Pasar Makanan Laut Huanan di Wuhan. Tapi data Januari 2020 menunjukan beberapa kasus tidak berhubungan dengan pasar itu, tapi ke tempat lain.

Narasi Cina berubah lagi Maret 2020 ketika Gao Fu, pejabat pengendalian penyakit, mengatakan pasar bukan sumber virus. Pasar hanya tempat patogen berkemban biak.

Setelah itu, Cina gagal secara terbuka menghubungkan titik apa pun, dan hanya merilis sedikit informasi tentang sampelhewan dan lingkungan pasar untuk membantu penyelidik.

Itulah yang membuat pakar dari luar Cina menjauh. Terakhir, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengirim pakar kesehatan ke Cina, tapi Cina menolak memberi ijin masuk.

Cina, Sabtu 9 Januari 2021, mengatakan Beijing mempersiapkan tim beranggotakan 10 orang dan akan membuka pintu untuk ahli asing berkunjung ke Wuhan.

“Namun, waktu pastinya belum ditentukan,” kata wakil Menteri Komisi Kesehatan Nasional Zeng Yixin

Kasus Dingin

Muncul keraguan para ahli tidak menemukan apa-apa di Cina. Bukan tidak mungkin Cina telah menghancurkan atau menghabus bukti penting saat mereka panik menghadapi tekanan internasional.

“Setiap wabah berjalan dengan cara yang sama,” kata Daszak. “Cina tidak melakukan pekerjaan yang baik dalam penyelidikan hewan sejak awal.”

Dalam beberapa hal, kata Daszak, Cina terbuka tapi di sisi lain kurang terbuka. Alasan kerahasiaan tidak jelas. Yang pasti Partai Komunis Cina punya sejarah menekan informasi yang merusak secara politik.

Pelapor dan jurnalis warga yang membagikan rincian pekan-pekan awal yang menakutkan terhadap virus itu diberangus atau dipenjara.

“Beijing mungkin menyembunyikan penyimpangan regulasi atau investigasi, untuk menghindari rasa malu domestik dan pukulan balik global,” kata Daniel Lucey, ahli epidemiologi Universitas Georgetown.

Lucey menambahkan pasar bawah Wuhan mungkin bukan masalahnya. Dia mencatat virus sudah menyebar dengan cepat di Wuhan, Desember 2019, dan itu menunjukan virus muncul dan beredar lebih awal.

Virus mungkin butuh berbulan-bulan, atau mungkin bertahun-tahun, untuk mutasi yang diperlukan agar menjadi sangat menular dari dan ke manusia.

“Jadi, teori virus berasal dari pasar sama sekali tidak masuk akal,” kata Lucey.

Makin meragukan ketika Desember 2020 lalu Cina mengatakan jumlah kasus virus korona di Wuhan di awal pandemi mungkin lebih tinggi dari yang diungkap oleh angka resmi.

Kini, jejak virus menjadi dingin karena petunjuk selanjutnya hanya menambah kebingungan, termasuk temuan bahwa virus telah ada di Eropa dan Brasil sebelum mewabah di Wuhan.

Teori terakhir belum dikonfirmasi, tapi digunakan Cina untuk menangkis kesalahan.

Kita Makin Tidak Tahu

Daszak berharap sumber itu dapat ditemukan. Ia juga menyalahkan Presiden AS Donald Trump, yang terus menyerang Cina dan membunuh kerjasama dengan Beijing.

Yang menyakitkan Beijing adalah Trump menggunakan kata ‘virus Cina’ dan membangun teori konspirasi bahwa virus dibuat di laboratorium diWuhan.

“Saya yakin pada akhirnya kami akan menemukan spesies kelelawar pembawa virus, dan jalur penyebarannya,” kata Daszak.

Daszak boleh saja optimistis, tapi Diana Bell — pakar penyakit satwa liar Universitas East Anglia yang mempelajari virus Ebola, SARS, dan patogen lainnya — mengatakan fokus pada spesies asal terlalu salah arah.

Menurutnya, ancaman menyeluruh telah terungkap, yaitu perdagangan satwa liar global yang mendorong pasar sebagai tempat berkembang biak wabah.

“Spesies tidak masalah. Kita tidak perlu tahu sumbernya,” kata Bell. “Kita hanya perlu tahu cara menghentikan pencampuran hewan di pasar.”

Kita perlu menghentikan perdagangan satwa liar untuk konsumsi manusia.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close