Veritas

Jurnalis Maria Ressa dan Dmitry Muratov Rebut Hadiah Nobel Perdamaian 2021

Hadiah tersebut merupakan Hadiah Nobel Perdamaian pertama untuk jurnalis sejak Carl von Ossietzky dari Jerman memenangkannya pada tahun 1935 karena mengungkap program persenjataan kembali rahasia negaranya pascaperang.

JERNIH—Dua orang wartawan, Maria Ressa dan Dmitry Muratov, yang karyanya telah membuat marah penguasa Filipina dan Rusia, dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian, Jumat (9/10) lalu. Penghargaan itu diberikan, menurut Komite Nobel, sebagai penghormatan atas dukungan mereka terhadap hak kebebasan berbicara di bawah ancaman.

Keduanya dianugerahi Nobel, “Untuk perjuangan keduanya yang berani guna membela  kebebasan berekspresi” di negara mereka masing-masing,” kata Ketua Komite Nobel Norwegia, Berit Reiss-Andersen, dalam konferensi pers.

“Pada saat yang sama, mereka adalah perwakilan dari semua jurnalis yang membela cita-cita ini di dunia di mana demokrasi dan kebebasan pers menghadapi kondisi yang semakin buruk,”kata dia. “Jurnalisme bebas, independen, dan berbasis fakta berfungsi untuk melindungi dari penyalahgunaan kekuasaan, kebohongan, dan propaganda perang.”

Muratov mendedikasikan penghargaannya kepada enam kontributor untuk surat kabar Novaya Gazeta yang terbunuh karena mengungkap pelanggaran hak asasi manusia dan korupsi.

“Igor Domnikov, Yuri Shchekochikhin, Anna Politkovskaya, Stas Markelov, Anastasia Baburova, Natasha Estemirova– adalah orang-orang yang hari ini memenangkan Hadiah Nobel,” kata Muratov, membacakan nama-nama wartawan dan aktivis yang terbunuh, yang potretnya digantung di markas besar surat kabar Moskow tersebut.

Sementara Ressa—yang sejak 1998 hingga pertengahan 2000-an rantang-runtung di Indonesia, meliput berita untuk CNN Filipina, kemudian menjadi penyiar di RCTI— telah bertahun-tahun menghadapi kasus hukum di Filipina atas pekerjaannya di  situs berita Rappler. Ressa mengatakan, hadiah itu akan membantu misi organisasinya.

“Kami sedang melalui masa-masa kelam, masa-masa sulit, tetapi saya pikir kami mampu bertahan,” kata Ressa. “Kami menyadari bahwa apa yang kami lakukan hari ini akan menentukan seperti apa masa depan kami.”

Hadiah tersebut merupakan Hadiah Nobel Perdamaian pertama untuk jurnalis sejak Carl von Ossietzky dari Jerman memenangkannya pada tahun 1935 karena mengungkap program persenjataan kembali rahasia negaranya pascaperang.

Muratov, 59, adalah orang Rusia pertama yang memenangkan Nobel Perdamaian sejak pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev pada tahun 1990. Gorbachev sendiri telah lama dikaitkan dengan Novaya Gazeta, setelah menyumbangkan sebagian dari uang hadiah Nobelnya untuk membantu menyiapkan media tersebut di awal pasca-Soviet.

Ressa, 58, adalah pemenang pertama hadiah Nobel dalam bidang apa pun dari Filipina. Rappler, yang ia dirikan bersama pada tahun 2012, telah tumbuh menonjol melalui pelaporan investigasi, termasuk pembunuhan skala besar selama kampanye polisi melawan narkoba.

Pada Agustus lalu, pengadilan Filipina menolak kasus pencemaran nama baik terhadap Ressa, salah satu dari beberapa tuntutan hukum yang diajukan terhadap jurnalis yang mengatakan dia menjadi sasaran karena laporan kritis situs beritanya tentang Presiden Rodrigo Duterte.

Nasib Ressa, salah satu dari beberapa jurnalis yang dinobatkan sebagai Person of the Year Majalah Time tahun 2018 karena memerangi intimidasi media, telah menimbulkan kekhawatiran internasional tentang pelecehan pekerja media di Filipina, negara yang pernah dilihat sebagai pembawa standard kebebasan pers di Asia.

Di Moskow, Nadezhda Prusenkova, seorang jurnalis di Novaya Gazeta, mengatakan kepada Reuters bahwa seluruh rekannya sangat terkejut dan senang.

“Kami terkejut. Kami tidak menyangka,” kata Prusenkova. “Tentu saja kami senang dan ini sangat keren.”

Wartawan Rusia telah menghadapi lingkungan yang semakin sulit dalam beberapa tahun terakhir, dengan banyak yang dipaksa untuk mendaftar sebagai agen negara. “Kami akan memanfaatkan hadiah ini untuk kepentingan jurnalisme Rusia yang (pihak berwenang) sekarang coba tekan,” kata Muratov kepada Podyom, situs web jurnalisme di negara itu.

“Kami akan mencoba membantu orang-orang yang selama ini dikenal sebagai agen, yang sekarang diperlakukan seperti kotoran dan diasingkan dari negara ini.”

Reiss-Andersen mengatakan komite Nobel bermaksud penghargaan itu untuk mengirim pesan tentang pentingnya jurnalisme yang ketat pada saat teknologi telah membuatnya lebih mudah dari sebelumnya, namun digunakan untuk menyebarkan kebohongan.

“Kami menemukan bahwa orang-orang dimanipulasi oleh pers, dan … jurnalisme berkualitas tinggi berbasis fakta sebenarnya semakin terbatas,” katanya kepada Reuters.

Kremlin sejauh ini telah memberi selamat kepada Muratov. “Dia terus bekerja sesuai dengan cita-citanya sendiri, dia mengabdi pada mereka, dia berbakat, dia berani,” kata Juru Bicara Istana, Dmitry Peskov.

Penghargaan ini akan memberi kedua jurnalis visibilitas internasional yang lebih besar dan dapat menginspirasi generasi jurnalis baru, kata Dan Smith, direktur Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm.

“Kami biasanya berharap bahwa visibilitas yang lebih besar sebenarnya berarti perlindungan yang lebih besar untuk hak-hak dan keselamatan individu yang bersangkutan,” katanya kepada Reuters.

Hadiah Nobel Perdamaian akan diberikan pada 10 Desember, peringatan kematian industrialis Swedia Alfred Nobel, yang membangun penghargaan itu dalam wasiatnya tahun 1895. [Reuters]

Back to top button