67 Views
Veritas

Kaum ‘Ngeyel’ di Amerika: Jika Aku Harus Kena Corona, Ya Kena Aja!

Seorang manajer di satu call center Uline mengirimkan catatan kepada para karyawan. “Jika Anda, atau anggota keluarga, merasakan kedinginan atau alergi, atau apa pun selain dari Covid-19,” bunyi pesan itu,” Tolong jangan beri tahu rekan Anda tentang gejala & asumsi Anda. Dengan melakukan itu, Anda menyebabkan kepanikan yang tidak perlu di kantor.”

Oleh  :  John Branch*

NOVATO, California– Sebuah situs wisata pendakian di sisi timur Sierra Nevada yang terpencil  dan tertutup salju, di Bishop, California, akhir pekan lalu penuh sesak. Sama padatnya dengan hari libur apa pun, meskipun ada seruan untuk melakukan isolasi sebelum terjadinya gelombang virus corona yang diprediksi akan terjadi.

“Orang-orang sepertinya melakukan social distancing. Saya akan ke Bishop, tidak bisa lebih jauh dari itu,” kata warga dan pemandu pemanjatan, Jeff Deikis.

Ternyata kedai-kedai kopi dan tempat-tempat minum bir dipenuhi orang. Di luar Bishop, empat jam perjalanan dari Los Angeles dan enam jam dari San Francisco, para pendaki mendaki batu-batu besar dan ngarai di dekatnya. Mereka berbagi udara segar dan, mungkin saja, penyakit menular.

“Para pendaki dari seluruh negeri telah mendatangi Bishop, seolah-olah pandemi global hanya semacam halangan dari tanggung jawab,” ujar sebuah situs blog pendakian.

Di seluruh Amerika Serikat, dari pantai Florida hingga pegunungan California, kasino hingga taman nasional, masih banyak orang yang menolak untuk mengasingkan diri, bekerja dari rumah dan melakukan isolasi di tengah meningkatnya penyebaran virus corona ke seluruh negeri dan menutup hampir semua aspek kehidupan Amerika.

Turis dan penduduk Florida berkumpul di Clearwater Beach di Clearwater, Florida pada 18 Maret , foto New York Times

Mereka adalah para pembangkang dan orang-orang yang menolak percaya.Orang-orang yang mengabaikan otoritas pemerintah setempat yang tengah berupaya membendung penyebaran Corona. Mungkin juga mereka adalah para pejabat yang berkerumun di podium ruang rapat Gedung Putih, tidak melakukan apa yang justru mereka katakan.

Mereka semua adalah orang-orang yang menolak panggilan untuk isolasi, melihat lebih banyak peluang baik daripada risiko manakala berkumpul. Mereka menyatukan kepercayaan akan kekebalan. Seperti di masa krisis nasional lainnya, apa yang mereka lakukan mengungkap sejatinya hubungan antara individu dan masyarakat, dan tanggung jawab kita kepada orang lain.

“Jika saya harus kena corona, ya saya akan kena corona,”kata seorang penginjil saat diwawancarai sebuah stasiun tv di Florida, yang disebarkan secara luas. “Pada akhirnya, saya tidak akan membiarkan corona menghentikan saya berpesta.”

Di bawah tekanan, baik sosial maupun pemerintahan, jumlah mereka menyusut dari hari ke hari. Dampaknya pada penyebaran virus mungkin tidak pernah diketahui.

Kelompok penolak ini kebanyakan anak muda, terbebas dari struktur sekolah dan pekerjaan, mungkin juga mereka baru kenal tanggung jawab sosial. Tetapi banyak yang lebih tua percaya bahwa sejumlah tempat umum yang masih buka—yang semakin berkurang jumlahnya, cukup bersih dan menghindarkan mereka terpapar penyakit.

Beberapa tidak ingin membatalkan rencana yang jauh-jauh hari dibuat, misalnya pernikahan. Yang lain hanya ingin pergi ke luar, hanya untuk meyakinkan diri bahwa mereka tidak sendirian. Bagi yang lain, berkumpul bukanlah pilihan. Beberapa mungkin pekerja yang ditekan majikan, dan mereka lebih takut kehilangan pendapatan daripada penyebaran virus.

Sementara banyak toko kelontong, pompa bensin dan restoran take-out tetap terbuka, membuat definisi ‘bisnis penting’ menjadi terbuka untuk interpretasi.

Orang-orang berbelanja di Union Square Farmers Market di Manhattan pada 14 Maret lalu. Foto The New York Times

Di Rhode Island, di antara beberapa bisnis disebut mengabaikan peringatan untuk melakukan social distancing adalah Wonderland, sebuah klub telanjang. Pekan lalu pengunjung yang masih dimungkinkan datang karena klub tetap buka, masih bisa menyaksikan tap dance, akhir pekan lalu. (Namun situsnya bilang, saat ini ‘ditutup sementara’.)

GameStop, sebuah jaringan gerai permainan video, diprotes para karyawannya ketika memerintahkan ribuan tokonya untuk tetap buka. Manajemen menolak permintaan otoritas setempat untuk tutp, karena–menurut karyawannya, manajemen percaya mereka masuk katagorisasi “ritel penting”.

Di California, Tesla, pembuat mobil listrik mewah, untuk sementara waktu menentang perintah otoritas setempat untuk menutup bisnis. Mereka tetap mempekerjakan 10.000 pekerja pabriknya tetap masuk kerja. Kamis (19/3) lalu Tesla mengatakan akan menunda operasi mereka, mulai Senin (23/3) besok.

Di Midwest, Uline, distributor utama bahan pasokan industri, mempertahankan tenaga kerjanya sepanjang pekan, meskipun ada keluhan dari karyawan, termasuk yang berdesakan di call center, bekerja berdampingan di bilik masing-masing.

“Tidak ada yang benar-benar berubah,”kata seorang karyawan. “Hanya sedikit ketegangan.”

Orang-orang berkumpul di “The Fly,” area tepi sungai yang populer di Audubon Park di New Orleans pada 18 Maret. Foto The New York Times

Para karyawannya menerima email pada Kamis lalu, dari Keluarga Uihlein, pemilik perusahaan senilai 5,8 miliar dolar AS dan donor besar untuk Partai Republik itu. Email berisi ucapan terima kasih atas dukungan karyawan, sembari mengatakan bahwa “Gedung Putih memanggil kami dua kali, dengan pesanan besar minggu ini”.

Pada hari yang sama, seorang manajer di satu call center Uline mengirimkan catatan kepada para karyawan. “Jika Anda, atau anggota keluarga, merasakan kedinginan atau alergi, atau apa pun selain dari Covid-19,” bunyi pesan itu,” Tolong jangan beri tahu rekan Anda tentang gejala & asumsi Anda. Dengan melakukan itu, Anda menyebabkan kepanikan yang tidak perlu di kantor. ”

Ternyata banyak orang Amerika secara sukarela berkelana ke dunia yang ternoda kuman sekadar untuk menghabiskan waktu. Sementara kasino-kasino besar di Las Vegas dan Atlantic City tutup awal minggu ini, kasino-kasino seperti Chukchansi Gold di California, justru  menjanjikan para pelanggan peningkatan kebersihan, sebuah muslihat marketing di dunia kartu remi dan mesin slot.

Lalu satu demi satu kasino-kasino itu ‘melipat’ diri. Tiba-tiba Chukchansi Jumat (20/3) mengumumkan mereka akan tutup malam itu. Kasino Valley View, dekat San Diego, berencana tutup hingga Minggu malam dari hari Jumat, bersama beberapa kasino lain di Florida.

Dengan begitu banyak tempat ditutup—tidak ada mal, taka da bisokop, jutaan orang mencoba melarikan diri ke ruang terbuka. Kadang-kadang menciptakan keramaian mereka sendiri. Trotoar-trotoar di sekitar Tidal Basin di Washington, D.C, macet parah, manakala orang-orang datang untuk melihat mekarnya bunga sakura.

Tidak ada tempat yang begitu kontradiktif dalam menyikapi krisis yang ada lebih dari Florida. Foto-foto memperlihatkan pantai-pantai yang sesak dipenuhi pengunjung. Mengakhiri tiba-tiba liburan musim semi, ternyata susah. Beberapa anak muda yang kelihatan sangat menyukai sinar matahari dan bir, seolah yakin mengandalkan masa muda mereka sebagai tameng. Mereka abai bahwa mereka dapat membawa pulang virus saat kembali ke orang tua dan kakek nenek mereka.

Orang-orang masih makan dan berbelanja di Clearwater, Florida pada 19 Maret. foto The New York Times

“Sepertinya ini meledak di wajah saya,” kata Parker Simms, seorang mahasiswa dari Universitas Kentucky yang datang ke Fort Lauderdale, Sabtu lalu, dengan 50 teman dan rencana besar. “Semua meledak selama liburan musim semi saya.”

Dalam perdebatan antara ekonomi dan epidemiologi, para pejabat lokal umumnya mengambil sisi uang dan senang-senang. Namun di akhir pekan ini, banyak yang bergabung dengan tren untuk melakukan lock down.

Pada hari Kamis (19/3), pantai di Fort Lauderdale kosong melompong, kecuali kursi-kursi yang bertumpuk dan menara penjaga pantai. Sekelompok mahasiswa dengan tas selempang dan topi jerami berjalan menuju sebuah SUV yang menunggu menuju bandara.

Tidak semua pengunjung pantai adalah anak muda. Seorang pensiunan dokter dan “pendeteksi logam” yang menyebut diri Larry Leguire, 68, dari Columbus, Ohio, telah berada di Florida sejak Desember. Pada hari Kamis (19/3) di Clearwater Beach, ia menemukan empat cincin, dua di antaranya ia percaya adalah emas, ditambah beberapa koin, kaleng aluminium, pembuka botol dan tutup botol.

“Gila di sini kemarin,” kata Leguire. “Anda lihat juga kan? Hari ini orang jauh lebih sedikit.”

Leguire berkata bahwa dia dan istrinya menjaga jarak dari orang lain dan mengenakan sarung tangan dan masker di toko bahan makanan. Dia tidak senang saat mengetahui bahwa pantai ditutup Jumat malam.

“Pantai adalah hidupku, dan tanpa pantai, rasanya, mengapa harus di Florida?” dia berkata. “Lebih baik aku pulang ke rumah dan menahan diri di rumahku di Columbus, Ohio.”

Pertemuan formal seperti pemakaman dan pernikahan dibatalkan atau dipertimbangkan kembali. Pada pernikahan di halaman belakang dekat Anaheim, California, pada Sabtu malam lalu seorang DJ bernama Amanda B sangat gugup melakukan pertunjukannya. Dia tidak menjabat tangan pengantin pria, tidak pula membiarkan siapa pun menyentuh mikrofonnya.

“Pada saat itu, sarannya adalah bahwa pertemuan itu dihadiri 50 orang atau kurang,” kata dia beberapa hari kemudian. “Tapi sungguh, saya tak akan melakukannya lagi.”

Devora Lea Khafif berfoto bersama para tamu setelah upacara pernikahannya. Foto The New York Times

Di Brooklyn, orang-orang Yahudi Hasid menentang perintah isolasi dan mengadakan pernikahan; yang lain terus berkumpul untuk berdoa. Di Fort Lauderdale, Florida, pernikahan yang direncanakan untuk akhir Maret dipercepat dan segera menyusut. Charlotte Jay dan Blake Parker, keduanya berusia 29 tahun, memanggil rabi mereka, mengundang selusin kerabat dekat ke kondominium milik orang tua Parker, dan bersiap-siap untuk menggelar pesta.

Tisu dan pembersih tangan Clorox menyambut para tamu di teras terbuka. Ibu mempelai laki-laki memainkan “All You Need Is Love” dari Beatles di ponselnya. Perencana pernikahan menyiarkan langsung acara untuk 225 tamu itu.

“Ayah saya dan saya membersihkan tangan kami, melingkarkan lengan dan berjalan menyusuri lorong,” kata Charlotte. “Kami bahkan tidak saling memeluk atau mencium. Siku ayahku menabrak Blake. Lalu sikunya menabrakku. “

Yang lain mencoba berlaku normal, meskipun kontrasnya dengan mudah dikenali. Dermaga Santa Monica California ditutup, taman hiburannya sunyi, tetapi peselancar terus mengendarai ombak di bawahnya.

Pada hari Rabu sore di Distrik Fairfax Los Angeles, sekelompok pelari meneteskan keringat di jalan-jalan yang hampir kosong. Di Pasar Erewhon, satu mil jauhnya, baik orang setengah baya dan milenial menyeruput kopi dan mengunyah wortel panggang organik dan bit di berbagai meja di luar ruangan.

Di Pan Pacific Park di dekatnya, para pemain bola basket mengisi lapangan dan para penggila fitness mengangkatturunkan kettlebell ke rumput. Minggu terasa lebih santai tanpa banyak memikirkan keadaan darurat global akibat pandemi.

Di Moab, Utah, sebuah daerah yang terkenal dengan panjat tebing dan bersepeda gunung di dekat Taman Nasional Arches, otoritas kesehatan menutup hotel untuk semua orang, kecuali penduduk setempat atau mereka yang bepergian untuk bekerja setelah eksekutif dari Rumah Sakit Regional Moab 17 meminta negara untuk membantu.

Itulah yang menjadi perhatian di Bishop. Koalisi Pendaki Area Bishop akhirnya meminta para pendaki untuk tidak datang ke Bishop saat ini. “Kami khawatir apa yang akan terjadi jika Bishop berubah menjadi kelompok kecil virus Coronanya sendiri,” kata Deikis, wakil presiden asosiasi para pendaki.

Tidak ada yang tak kebagian efek dari virus corona, bahkan di ujung benua. Di Key West, Florida, pelampung merah, hitam dan kuning yang menandai titik paling selatan di Amerika Serikat adalah hot spot bagi wisatawan. Antrean terbentuk setiap hari, sepanjang hari, untuk bisa berfoto di depan pelampung yang menyatakan “90 mil dari Cuba.”  Pelampung itu disimpan dulu minggu ini dalam upaya menjaga agar wisatawan tidak berkumpul di sana. “Itu adalah terpal paling selatan!” seorang turis menyindir.

Kay Seeling, 69, dan dua temannya yang melakukan perjalanan ke Florida dari Seattle seminggu yang lalu, tidak mengharapkan krisis akan mengikuti mereka. Sekarang mereka hanya memiliki sedikit pilihan, karena bar dan banyak restoran tutup. “Kami mengambil tindakan pencegahan,” kata Denise Algie, seorang teman, menunjuk botol pembersih tangan di dekatnya.

“Kami tidak,” Nona Seeling membantah. “Kami punya masker, tetapi tidak kami kenakan.”

“Lagipula kita akan mati karena sesuatu di zaman kita ini,” kata Nona Algie. “Kita tidak bisa menghentikan kehidupan.”

Mereka melompat ke atas kereta golf sewaan mereka dan pergi. Perhentian berikutnya: naik kapal udara di Florida Everglades. Mereka berharap itu masih dibuka. [ The New York Times]

* John Branch adalah seorang reporter olahraga. Dia memenangkan Hadiah Pulitzer 2013 untuk penulisan feature “Snow Fall,” sebuah cerita tentang longsoran yang mematikan di Negara Bagian Washington, dan juga seorang finalis untuk penghargaan itu pada 2012. Untuk artikel ini ia dibantu Audra Burch dan Joseph B. Treaster dari Miami; Frances Robles dari Key West, Fla .; Amaris Castillo dari Tampa, Fla .; Adam Popescu dari Los Angeles; dan Sapna Maheshwari dan Niraj Chokshi dari New York.

Tags

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close