Veritas

Kepala Eijkman Institute Bantah Indonesia tak Punya Alat Deteksi Virus Corona

Menurut Amin saat ini  prediksi itu tentu sudah berubah karena faktor yang dipakai pun. Penelitian Lipsitch tersebut memang dilakukan sebelum ada intervensi negara-negara untuk mencegah penyebaran virus corona

JAKARTA— Artikel di surat kabar Australia Sydney Morning Herald, Jumat (7/2) lalu  yang menyebutkan bahwa Indonesia belum memiliki peralatan tes khusus untuk mendeteksi positif tidaknya seseorang tertular virus corona, dibantah Kepala Lembaga  Biologi Molekuler Eijkman Institute,Amin Soebandrio. Indonesia sudah memiliki alat deteksi berupa PCR dan sequencing.

Pernyataan tersebut disampaikan Amin kepada media Pemerintah Jerman, Deutsche Welle.  “Segera setelah Sydney Morning Herald mempublikasikan hal itu, hari itu juga sebetulnya kita sudah punya sistem yang direkomendasikan WHO yang one step saja dengan primer yang spefisik untuk virus corona Wuhan,”kata Amin, sebagaimana dilansir DW.

Menurut Amin, ada alat pendeteksi virus corona yang dimiliki Indonesia yaitu Polymerase Chain Reaction atau PCR dan sequencing. PCR berfungsi untuk melihat apakah ada dalam tubuh pasien keluarga dari virus corona, sementara alat sequencing berguna untuk menentukan lebih detil jenis virus corona tersebut, apakah SARS, MERS atau virus corona jenis baru asal Wuhan.

Seorang tenaga medis yang cantik tengah melakukan pengecekan…cek…cek…

Fakta masih bebasnya Indonesia dari virus corona juga membuat sejumlah kalangan kuatir. Amin mencontohkan hasil penelitian ahli epidemiologi, Marc Lipsitch, dari Harvard TH Chan School of Public Health mengatakan, Indonesia melaporkan nol kasus terkait virus corona. Namun menurut Lipsitch bisa saja sebenarnya sudah ada beberapa kasus yang tidak terdeteksi, sebagaimana dilansir VOA News.

Dengan perkiraan seperti itu Lipsitch mengatakan sistem kesehatan di Indonesia dan Thailand mungkin tidak dapat mendeteksi virus corona asal Wuhan.

Perkiraan Marc Lipsitch itu diambilnya berdasarkan dua faktor. Pertama, dia melihat jarak Indonesia, Thailand, dan Kamboja cukup dekat dengan Cina. Kedua, banyak penumpang yang melakukan perjalanan dari atau ke Wuhan dari negara lain di seluruh dunia. “Lebih banyak penumpang dari dan ke Wuhan, berarti kemungkinan ada lebih banyak kasus,” kata Lipsitch.

Jika prediksi tersebut benar, Lipsitch mengkhawatirkan virus corona Wuhan yang tidak terdeteksi dapat memicu potensi epidemi yang lebih besar lagi.

Riset yang dilakukan Lipsitch tersebut merupakan satu dari tiga studi terbaru yang memprediksi kemungkinan virus corona Wuhan sudah menyebar di Indonesia. Sayangnya tak satu pun dari penelitian tersebut melalui proses ilmiah normal, yakni ditinjau oleh ahli lain di luar tim. Sementara para ilmuwan tersebut langsung mengunggah temuannya secara daring serta pada server pracetak, sehingga informasi tersebut langsung menyebar luas ke masyarakat luas.

Sebelumnya, media Australia The Sydney Morning Herald pada Jumat (07/02), menyatakan Indonesia belum mempunyai alat tes khusus yang diperlukan untuk mendeteksi kasus positif virus corona dengan cepat. Indonesia, tulis SMH,  menggunakan ala tes pan-coronavirus yang bisa mengidentifikasi semua jenis virus dari keluarga corona, termasuk flu biasa, SARS dan MERS. Alat tersebut memerlukan waktu hingga lima hari untuk memastikan apakah seseorang benar-benar positif mengidap virus corona jenis baru atau tidak.

Kepala Badan Litbang Kesehatan (Balitbankes) Kementerian Kesehatan, dr. Siswanto, kepada Kompas.com mengatakan, penelitian yang dilakukan Harvard tersebut hanya berdasarkan kalkulasi matematis, hingga belum bisa dipastikan kebenarannya.

“Kalau diprediksi harusnya ada enam kasus, ternyata sampai hari ini tidak ada, ya harusnya justru kita harus bersyukur. Kita sudah teliti dengan benar. (Penelitian ahli Harvard) itu hanya prediksi saja,” ujar Siswanto.

Lebih jauh Amin bahkan menegaskan bahwa hasil penelitian tersebut seharusnya sudah tidak relevan. “Pada saat tulisan itu disiapkan, kira-kira dua pekan lalu, dan prediksi itu tentu saat ini sudah berubah lagi karena faktor yang dia pakai itu dinamis,” kata Amin. Penelitian Lipsitch tersebut memang dilakukan sebelum ada intervensi negara-negara untuk mencegah penyebaran virus corona.

“Waktu itu penerbangan (dari dan ke Cina) tinggi. Tapi sekarang sudah ditutup, sudah distop. Tentu ceritanya akan sangat berbeda,” kata dia.

Amin juga menegaskan, hingga saat ini dirinya tidak melihat ada kelompok-kelompok pasien yang mengalami gejala penyakit serupa dan secara bersamaan. Balitbangkes yang mengeluarkan hasil pemeriksaan terhadap orang yang dicurigai terinfeksi penyakit corona juga tidak menemukan bukti tersebut.

“Jadi memang kita tidak bisa memaksakan diri untuk menyatakan positif. Tidak ada buktinya juga kalau kita mau bilang sudah positif,” kata dia.

Sementara itu laporan terbaru soal virus corona menyebutkan angka kematian yang terjadi hingga Senin (10/02) telah melampaui 900 orang. Sementara jumlah pasien terinfeksi 2019-nCov secara global telah melebihi 40.000 kasus.

Angka kematian itu disebut-sebut telah melebihi korban meninggal akibat virus SARS yang juga mewabah pada tahun 2003. Kala itu, SARS menewaskan 774 orang di seluruh dunia.

Hingga berita ini diturunkan, Indonesia masih bebas dari virus corona. Namun Badan Kesehatan Dunia (WHO) beberapa waktu lalu meminta pemerintah Indonesia untuk memaksimalkan pengawasan dan deteksi virus corona.

WHO mengatakan Indonesia perlu meningkatkan persiapan menghadapi virus corona karena negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand telah mendeteksi virus tersebut di wilayah masing-masing. Dengan jumlah penduduk 270 juta orang, Indonesia belum melaporkan satu kasus pun terkait virus corona. [DW/VOA News/ https://www.hsph.harvard.edu/news]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close