DesportareVeritas

Maradona, TV Hitam Putih Merk Johnson, dan Kelahiran Legenda

Ruang keluarga di rumah saya di Rawa Bengkel, Cengkareng Barat, hanya berisi dua orang; saya dan kakak saya Slamet Nugroho. Kami duduk di depan televisi hitam-putih merk Johnson, dengan aki penuh setrum di bawahnya.

Acara yang kami saksikan bersama adalah pertandingan Argentina versus Indonesia di penyisihan grup Piala Dunia Junior 1979. Kami bisa menyaksikan laga itu sore hari, karena perhelatan berlangsung di Jepang.

Saya tahu Diego Maradona dari Majalah Olympic, yang salah satu penulisnya adalah ayah saya, tapi tak pernah melihatnya bermain. Maklum, menayangkan siaran langsung sepakbola saat itu adalah sesuatu yang mewah bagi satu-satunya televisi di Indonesia, yaitu TVRI.

Selain Maradona, nama lain yang saya kenal di timnas Argentina adalah striker Ramon Diaz. Di Indonesia, saya hanya kenal striker Bambang Nurdiansyah, dan penjaga gawang Endang Tirtana. Sebab keduanya sering ditulis media, dan keluarga saya adalah pelanggan tiga koran harian.

Pertandingan berlangsung, tim Indonesia yang dilatih Sucipto Suntoro tertekan sejak menit pertama. Panjang lapangan sepakbola yang 110 meter hanya digunakan setengahnya sepanjang laga.

Penjaga gawang Argentina Sergio Garcia relatif ‘nganggur’ dah hanya mondar-mandir di bawah mistar, atau terdiam sejenak menyaksikan laga setengah lapangan sejauh 55 meter dari tempatnya berdiri.

Mata kakak saya terus tertuju ke Maradona, yang meliuk-liuk seenak perut di pertahanan Indonesia, dan nyaris tak bisa dihentikan. Saya lebih suka melihat gerakan Ramon Diaz, yang sibuk mencari posisi dan menunggu umpat Maradona.

Maradona dan Diaz bergantian mencetak gol dalam 45 menit babak pertama. Di babak kedua, Argentina-Indonesia masih bermain setengah lapangan, dan nyaris tidak ada pemain Indonesia yang mendekati pertahanan Argentina.

Tidak ada gol di babak kedua. Argentina kehilangan selera mencetak gol lagi. Indonesia tak mampu mengatasi defisit gol memalukan.

Dua puluh menit sebelum laga usai, layar televisi merk Johnson 14 inch di depan kami tiba-tiba mengecil. Garis atas dan bawah gambar seolah berkejaran ingin menyatu.

Penyebabnya, suplai listrik dari aki — yang relatif baru dicas sehari sebelumnya — mengecil. Kakak saya bingung dengan situasi ini. Kakak saya mengatakan pasti ada yang tak beres dengan sel aki, yang membuat listrik tak bisa tertampung di seluruh sel.

Sebelum laga usai, garis atas dan bawah di layar televisi menyatu, dan televisi hitam-putih merk Johnson itu mati. Kami tak sempat menyaksikan Maradona merayakan kemenangan usai laga, dan tim Indonesia keluar dengan kepala tertunduk.

Sejak saat itu, orang-orang di Rawa Bengkel ‘ngomongin’ Maradona. Kakak saya mengatakan Maradona mengubur Mario Kempes, bintang dadakan yang mengantar Argentina ke podium juara Piala Dunia 1978.

“Maradona adalah masa depan sepakbola Argentina,” kata kakak saya saat itu.

Saya nggak terlalu yakin. Sebab, ya Mario Kempes itu. Bukan tidak mungkin Maradona bernasib seperti Kempes. Meledak-ledak di turnamen, ‘kempes’ di level klub profesional.

Laga kedua Maradona yang saya saksikan adalah final Piala Dunia Junior 1979. Kali ini saya dan kakak saya bertarun. Saya pegang Uni Soviet, kakak saya mengungguli Argentina dengan Maradona di dalamnya.

Untuk menjamin pasokan listrik, agar gambar tak mengecil, ayah saya beli aki baru sebagai cadangan. Aki lama masih digunakan. Layar hitam putih televisi merk Johnson dilapisi kaca tipis warna-warni.

Orang bilang itu mah bukan televisi berwarna, tapi tipi dengan layar bekelir. Masa bodo lah. Yang penting mata tak lagi disajikan hitam-putih, tapi ada warna-warna lain.

Laga Uni Soviet vs Argentina sangat menarik, karena mempertemukan dua mazhab sepakbola; Eropa dan Amerika Latin. Namun ada satu yang tidak saya perhatikan saat itu, yaitu catatan pertandingan Uni Soviet untuk sampai ke final.

Uni Soviet mencapai final dengan cara tertatih-tatih. Dikalahkan Uruguay di babak penyisihan, menang tipis atas Polandia dan menang adu penalti lawan Paraguay.

Argentina memenangkan semua pertandingan untuk sampai ke final, dengan Maradona sebagai arsitek serangan. Tak heran jika pasar taruhan, dan sekujur publik sepakbola dunia, mengunggulkannya.

Stadion Nasional Tokyo sedemikian meriah. Sekitar rumah saya sepi, karena semua orang berada di rumah untuk nonton Maradona.

Dua mazhab sepakbola bertemu. Uni Soviet bermain dengan umpan-umpan panjang, dan hanya menempatkan striker Igor Ponomaryov sendirian di depan. Argentina memperagakan umpan-umpan pendek, skill tinggi setiap pemain, dan Maradona yang dengan mudah melewati dua atau tiga pemain sebelum melepas umpan.

Tidak ada gol di babak pertama. Di babak kedua, Ponomaryov membuka skor lewet gol tandukan ke gawang Argentina. Saya berteriak. Kakak saya senyum-senyum.

Setelah itu, laga berlangsung setengah lapangan. Uni Soviet tertekan hebat. Hugo Alves menyamakan kedudukan menit ke-68. Belum lagi Uni Soviet mampu memobilisasi tim, Ramon Diaz mencetak gol kedua, tiga menit setelah gol Alvez.

Lima menit kemudian, atau menit ke-76, Maradona mencetak gol ketiga. Kakak saya menarik, seraya berteriak; “Tiga gol dalam delapan menit. Itu hanya bisa dilakukan tim ‘para dewa’.” Saya terduduk tanpa kata.

Uni Soviet mengalami demoralisasi. Yang bisa dilakukan adalah menahan Argentina tak mencetak gol-gol berikut sampai babak kedua usai.

Kami menyaksikan Argentina menerima trofi, dan berpesta, sebab layar televisi normal. Aki lama masih berguna membuat kami bahagia. Aki lama belum berguna.

Yang tidak kami sadari saat itu adalah kami sedang menyaksikan sejarah kelahiran seorang legenda bernama Diego Maradona.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close