- Sepanjang aksi demo, muncul suara-suara kelompok monarki yang menghendaki Keluarga Shah Iran kembali berkuasa.
- Media Barat memberitakan hal itu, para aktivis terkaget-kaget. Muncul kekhawatiran suara pedemo dibelokan.
JERNIH — Sepekan setelah Iran secara brutal menupas aksi protes anti-rezim, jalanan Tehran — dan sejumlah kota lainnya — relatif teanng. Namun, sesuatu terjadi di rumah-rumah ketika para aktivis menyaksikan siaran BBC Persian, Voice of America, dan Iran International.
Media-media itu menggambarkan Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang kini hidup di pengasingan di AS, sebagai pemimpin gerakan aksi-protes yang menewaskan ribuan orang. Kepada The New Arab, sejumlah aktivis terkejut melihat kenyataan betapa aksi protes mereka direduksi menjadi agenda kaum monarkis di luar negeri.
Hamid, aktivis yang tertembak di kaki saat berdemo 9 Januari lalu, mengatakan khawatir tuntutan para demonstran tidak didengar pemerintah Iran.
“Ketika saya menonton saluran asing, saya hanya bisa meliaht video orang-orang meneriakan dukungan untuk monarki,” kata Hamid. “Saya berdemo, dan meneriakan Matilah diktator. Kami tidak menginginkan raja. Kami tidak menginginkan mullah. Mengapa kami tidak melihat hal-hal itu dalam berita.”
Menurut Hamid, yang ikut alam demo tahun 2022 setelah kematian Mahsa Amini, mengatakan slogan mendukung monarki dalam demo kali ini terasa lebih lantang. “Menyebut Pahlavi sebagai pemimpin rakyat adalah mengkhianati darah orang-orang yang terbunuh dalam demo saat ini. Orang-orang itu tidak tertarik pada Pahlavi,” katanya.
Gerakan yang Dibelokan
HRANA dan Organisasi Hak Asasi Manusia Iran mengatakan lebih 3.400 orang tewas dalam demo. Jumlah korban sebenarnya, menurut kedua organisasi itu, mungkin jauh lebih tinggi karena akses informasi di dalam Iran terbatas.
Menariknaya, tidak seluruh Iran larut dalam demo. Shafi, lelaki berusia 32 tahun, mengatakan suasana di wilayah suku Kurdi sangat berbeda dari apa yang ditayangkan di saluran televisi asing berbahasa Persia.
“Saya tidak tahu apa yang terjadi di Tehran dan kota-kota besar lainnya, tapi kami tidak memiliki pendukung Shah Iran di sini,” katanya. “saya tidak mengatakan mereka tidak ada, tapi mereka tidak terlihat.”
Menurutnya, cara media asing meliput peristiwa menjelang demo berdara 8 dan 9 Januari terasa seperti dorongan propaganda untuk kubu Pahlavi.
“Saluran-saluran itu melaporkan seolah Pahlavi menyerukan protes dan orang-orang turun ke jalan,” katanya. “Kenyataannya, orang-orang berada di jalan dan Pahlavi mengatakan sesuatu.”
Alasan Ekonomi
Protes antirezim terbaru dimulai 28 Desember 2025 di Grand Bazaar Tehran, setalah penurunan tajam nilai mata uang nasional Iran. Kerusuhan dengan cepat menjalar ke kota-kota lain, an bentrokan mematikan terjadi di Azna, Fasa, Arak, kuhdasht, dan Mallard.
Partai-partai Kurdi menyerukan pemogokan setelah pemerintah menidak keras aksi protes. Kota-kota di sebelah barat Iran mengalami penutupan seara luas.
“Ini bukan kali pertama Kurdistan mengalami pemogokan. Selama gearkan Jina, kurdi juga mengorganisir pemogokan besar-besaran, tapi sekarang protes ini tidak terlihat,” kata Shafi.
Ketakutan Lama, Revolusi 1979
Roya, pria berusia 73 tahun, aktif dalam perjuangan menggulingkan Shah Iran tahun 1979. Ia masih ingat bagaimana saat proses penggulingan berlangsung Radio BBC berbahasa Persia mengagungkan seorang fasis seperti Ayatollah Khomeini, meski kelompok nasionalis dan sayap kiri berjuang bertahun-tahun dan kehilangan ratusan orang.
“Sekarang, kami melihat hal serupa ketika jurnalis memberi tahu Reza Pahlavi bahwar oang-orang di Iran menerikan namanya,” kata Roya.
Roya merujuk pada konferensi pers di Washington pada 17 Januari, ketika Reza Pahlavi mendesak Presiden Donald Trump untuk menyerang Iran. Saat itu Reza Pahlavi juga mengatakan siap kembali memimpin Iran.
“Di awal konferensi pers, Reza Pahlavi berbicara kepada warga Iran dalam Bahasa Inggris, seolah=olah ia berbicara kepada orang lain selain rakyat Iran,” kata Roya.
Farhad, berusia 28 tahun, menyaksikan langsung bagaimana kelompok pendukung monarki hadir dan meneriakan slogan-slogan. Namun, katanya, Pahlavi tampaknya tidak memimpin gerakan monarki ini.
“Bagaimana mungkin sebuah bangsa kembali ke kediktatoran yang sudah ditolak hanya untuk menghindari diktator lain,” kata Farhad. “Kejahatan Republik Islam Iran tak ada habisnya, tapi orang Iran tidak bodoh dan menerima kembali kediktatoran imperialis.”
