Oleh : Romy Sastra
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti datang tak berpintu terhadap kehidupan. Perbincangan tentang kecerdasan buatan atau AI tak harus di kampus top, lembaga penelitian modern, atau instasi pemerintahan terkait saja. Ia sudah menjadi konsumsi pembahasan di berbagai komunitas bahkan dalam suasana santai sekalipun.
Saya kerap mengikuti perkembangannya. Bagi saya ini adalah dunia baru tanpa disadari, ternyata telah berkembang cukup pesat, dan sudah lama ada di dunia. Wejangan tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut seperti memasuki ruang kuliah, momen itu mengalir begitu saja, sambil menikmati kopi dan pisang goreng.
Sebuah pertemuan bersama orang yang tepat dan dapat menjelaskan semua hal baru itu tentu sangat bermanfaat. Ketika ketua Jagat Sastra Milenia (JSM), Riri Satria dengan suasana santai namun serius membahas AI yang merupakan hasil karya manusia, bagaimana penemuan itu bisa digunakan untuk kemaslahatan sekaligus dimanfaatkan untuk hal yang baik.
Saya yang sangat awam tentang teknologi AI ini merasa bahwa saat ini AI merupakan teknologi yang telah menjadi bagian yang hampir tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, baik itu di berbagai bidang profesi dan pekerjaan, kreativitas seni, transportasi, olah raga, dan sebagainya. Tanpa disadari, manusia modern bergantung pada AI untuk berbagai aktivitas, mulai dari mencari informasi, berkomunikasi, belajar, hingga mengambil keputusan. Menurut saya, kehadiran AI memang membawa banyak manfaat, namun jika tidak disikapi secara bijak, AI juga berpotensi menjadi ancaman serius bagi kemandirian berpikir dan nilai-nilai kemanusiaan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa AI memberikan kemudahan yang luar biasa. Dalam dunia pendidikan, AI membantu siswa dan guru mengakses informasi dengan cepat serta menyediakan metode pembelajaran yang lebih interaktif. Di bidang pekerjaan, AI mempercepat analisis data, menghemat waktu, dan meningkatkan efisiensi. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, AI hadir melalui peta digital, rekomendasi konten, hingga asisten virtual yang mempermudah berbagai urusan. Bagi saya, kondisi ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi kebutuhan.
Namun di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul kekhawatiran yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah meningkatnya ketergantungan manusia terhadap AI. Banyak orang mulai menyerahkan hampir seluruh proses berpikirnya kepada kemajuan teknologi, termasuk dalam menulis, menyusun ide, hingga membuat keputusan. Jika kebiasaan ini terus berlanjut, manusia berisiko kehilangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, bahkan daya analisis. AI yang seharusnya membantu justru berpotensi melemahkan peran manusia itu sendiri. Jangan-jangan nanti AI semakin cerdas dan manusianya semakin bodoh.
Selain ketergantungan, penyalahgunaan AI juga menjadi persoalan yang tidak bisa dianggap remeh. AI dapat dimanfaatkan untuk membuat konten palsu, manipulasi gambar dan video, hingga penyebaran informasi yang menyesatkan. Riri Satria menjelaskan bahwa fenomena ini disebut deepfake dan gambar animasi atau video buatan AI yang sulit dibedakan dari karya manusia menunjukkan betapa tipisnya batas antara kenyataan dan rekayasa digital.
Ketika Riri Satria mendemokan bagaimana teknologi deepfake bekerja di handphone, saya terkesima. Terkesima itu terhadap dua hal, yaitu kecanggihan teknologinya serta bagaimana nanti dampaknya. Bayangkan, identitas dan kejadian yang melibatkan manusia dapa dibuat menjadi kebohongan digital, ilusi visual, yang semuanya sudah pasti hoaks.
Menurut saya, kondisi ini sangat berbahaya karena dapat merusak kepercayaan publik terhadap informasi, bahkan memicu konflik sosial akibat hoaks manipulasi opini. Seiring perkembangan waktu, perang opini di sosial media akan terus meningkat dan dahsyat menciptakan krisis yang lebih dahsyat.
Lebih jauh lagi, ada persoalan etika yang perlu menjadi perhatian bersama. AI tidak memiliki nurani, empati, maupun tanggung jawab moral. Semua hasil yang diciptakan AI sepenuhnya bergantung pada data dan perintah manusia. Jika data yang digunakan sarat kepentingan tertentu, maka AI dapat memperkuat ketidakadilan dan diskriminasi. Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa menyerahkan keputusan penting sepenuhnya kepada AI tanpa pengawasan manusia adalah langkah yang sangat berisiko. Manusia harus tetap yang memegang kendalinya.
Di era teknologi seperti sekarang, tantangan terbesar bukanlah bagaimana menciptakan AI yang semakin canggih, melainkan bagaimana manusia tetap menjadi subjek utama dalam penggunaan teknologi. Kita perlu menyadari bahwa AI hanyalah alat, bukan pengganti akal, nilai moral, dan tanggung jawab manusia. Literasi digital menjadi hal yang sangat penting agar masyarakat mampu memahami cara kerja AI, menyaring informasi secara kritis, dan tidak mudah tertipu oleh konten buatan teknologi.
Menurut pandangan saya, keseimbangan adalah kunci utama. AI boleh dan perlu digunakan untuk mendukung aktivitas manusia, tetapi batasan harus tetap dijaga. Manusia tidak boleh kehilangan kendali atas teknologi yang diciptakannya sendiri. Pendidikan, regulasi, dan kesadaran etis harus berjalan seiring agar AI benar-benar membawa manfaat jangka panjang.
Pada suatu saat di mana perkembangan itu dengan segala kecanggihannya, AI berkemungkinan akan ditinggalkan oleh manusia. Kemajuan AI tersebut akan menciptakan kejenuhan tersendiri, manusia akan kembali ke pelestarian tradisi dan budaya. Demi menyikapi kebijaksanaan masa lalu yang lebih terjaga keorsinalitas kehidupan dan kearifan budaya di tengah masyarakat.
Sebagai penutup saya berpendapat bahwa, AI adalah kebutuhan di zaman modern, namun bukan berarti manusia harus sepenuhnya bergantung pada AI ke depannya. Jika digunakan secara bijak, AI dapat menjadi alat yang membantu kemajuan peradaban.
Sebaliknya, jika disalahgunakan atau dijadikan sandaran utama dalam berpikir dan bertindak, AI justru dapat mengancam kemandirian manusia. Pada akhirnya, masa depan teknologi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihannya, tetapi oleh kebijaksanaan manusia dalam menggunakannya. Sebab kecanggihan teknologi modern seperi AI tidak bisa mengalahkan kecanggihan kecerdasan alami Ilahiah manusia.
Jakarta, 31 Desember 2025
***
BIODATA
Romy Sastra seorang penyair pegiat literasi berdarah Minang menetap di Jakarta Barat. Namanya mulai dikenal sejak berkiprah di kancah sastra Indonesia tahun 2015. Semakin berkibar setelah puisinya meraih Anugerah Puisi Terbaik Pertama di media Apajake tahun 2023, disusul dengan Juara III Lomba Cipta Puisi Nasional bertema “Jejak Seni dan Dakwah dalam Langkah Sang Pendiri: Ambo Dalle” pada tahun 2024.
Hingga kini, Romy telah menerbitkan tiga buku puisi tunggal: Tarian Angin (2019) dan Alegori (2023), serta Heraldik Berwajah Seribu (2025). Karya-karyanya juga tersebar di lebih 100 antologi puisi bersama, melibatkan penulis dari Indonesia, Malaysia, hingga Kanada. Bagi Romy Sastra, puisi bukan sekadar bentuk ekspresi estetika, melainkan ruang spiritual untuk menyuarakan kegelisahan, harapan, dan nilai-nilai kehidupan yang tak lekang oleh zaman. Email: romysastra76@gmail.com
