Taipei 101 dirancang untuk melawan gempa dan topan—bukan untuk dipanjat manusia. Namun bagi Alex Honnold, struktur bertingkat, permukaan licin, dan pusaran angin justru menjadi medan baru untuk membuktikan keberanian sejatinya.
WWW.JERNIH.CO – Alex Honnold adalah simbol keberanian ekstrem di era modern. Namanya melekat pada istilah free solo—memanjat tanpa tali pengaman, tanpa jaring keselamatan, dan tanpa ruang untuk kesalahan. Setelah menaklukkan tebing-tebing alami paling brutal di dunia, Honnold kembali mencuri perhatian dengan menghadapi tantangan yang sama sekali berbeda: Taipei 101, ikon arsitektur Asia yang menjulang di jantung kota Taipei.
Jika El Capitan di Yosemite menawarkan granit kasar yang “jujur” terhadap genggaman jari, Taipei 101 justru menghadirkan musuh yang lebih licik. Baja, kaca, dan angin kencang di ketinggian ekstrem menciptakan medan vertikal yang asing bagi naluri seorang pendaki.
Aksi ini bukan hanya pertunjukan kekuatan fisik, melainkan demonstrasi kontrol mental yang nyaris tak terbayangkan—berdiri ratusan meter di atas tanah, di tengah kota yang hiruk-pikuk, dengan ribuan pasang mata menatap dari bawah.

Ia melakukan pemanjatan Taipei 101 pada 25 Januari 2026, sebuah aksi yang ditayangkan secara langsung—dengan sedikit jeda—dalam acara spesial Netflix berjudul Skyscraper Live dan menyedot perhatian penonton di seluruh dunia.
Dalam waktu sekitar 90 menit, atau hampir satu setengah jam sejak memulai dari dasar gedung setinggi 508 meter tersebut, Honnold berhasil mencapai puncak, menandai salah satu pencapaian free solo urban paling menonjol dalam kariernya dengan memadukan presisi teknik, kekuatan fisik, dan fokus mental di bawah sorotan publik serta tantangan struktural sebuah ikon arsitektur.
Taipei 101 sendiri bukan gedung sembarangan. Dengan tinggi 508 meter dan 101 lantai di atas tanah, bangunan ini dirancang sebagai mahakarya teknik modern. Arsitek C.Y. Lee & Partners membentuknya menyerupai batang bambu yang tumbuh ke langit—simbol ketahanan dan fleksibilitas.
Di dalamnya, sebuah tuned mass damper berupa bola baja seberat 660 ton digantung untuk meredam guncangan akibat gempa dan topan. Namun, justru desain bertingkat inilah yang bagi pendaki menghadirkan pijakan unik sekaligus berbahaya, karena setiap “ruas” bangunan membuka diri pada paparan angin kencang di atas 400 meter.
Bagi Alex Honnold, tantangan ini selaras dengan perjalanan hidupnya. Lahir di California pada 1985, ia membangun reputasi bukan melalui kemewahan, melainkan pengorbanan. Bertahun-tahun tinggal di dalam van demi mendekatkan diri ke tebing-tebing impian, Honnold menjelma menjadi wajah olahraga ekstrem modern.
Dunia mengenalnya lewat free solo legendaris di El Capitan pada 2017—memanjat rute Freerider setinggi lebih dari 900 meter dalam waktu kurang dari empat jam, sebuah pencapaian yang diabadikan dalam film dokumenter pemenang Oscar, Free Solo. Deretan aksinya di Moonlight Buttress dan proyek ambisius Triple Crown di Yosemite semakin menegaskan reputasinya, sementara pendirian Honnold Foundation menunjukkan sisi idealismenya di luar tebing.
Namun, memanjat gedung pencakar langit—atau buildering—adalah dunia yang berbeda. Permukaan kaca dan logam tidak memiliki tekstur alami seperti batu; sedikit embun atau keringat saja cukup membuat pijakan menjadi licin. Dari sisi psikologis, tantangannya pun berubah.
Jika di alam musuhnya adalah gravitasi dan kondisi batuan, di kota ia harus berdamai dengan kebisingan, perhatian publik, serta tekanan lingkungan urban yang konstan.
Secara teknis, Taipei 101 menghadirkan kompleksitas yang jarang ditemui pada gedung modern lain. Struktur bertingkat delapan segmen—masing-masing terdiri dari delapan lantai—menciptakan geometri yang disebut flaring outward.
Artinya, pemanjat tidak sepenuhnya bergerak vertikal; ada kemiringan negatif yang memaksa tubuh “menggantung” (overhang) lebih berat pada kekuatan jari dan lengan. Transisi antarsegmen menjadi momen paling kritis, ketika sudut bangunan berubah tajam dan menuntut manuver presisi di ketinggian ratusan meter.
Material bangunan semakin memperberat tantangan. Kaca double-glazed nyaris tanpa gesekan, sementara rangka aluminium dan baja dapat menjadi sangat panas atau dingin, mengurangi sensitivitas jari.
Di atas 300 meter, angin tidak lagi stabil. Desain gedung yang memecah hembusan angin justru menciptakan pusaran turbulen kecil yang bisa datang tiba-tiba dari samping atau bawah.
Ditambah kelembapan tinggi khas Taipei, permukaan bangunan sering terasa “berkeringat”, membuat setiap micro-hold—celah panel 1–2 cm, baut eksternal, atau rain guard kecil—menjadi taruhan hidup dan mati. Maka makin lengkap lah tantangan panjat gedung sungguh berbeda dengan tebing.
Perbandingan dengan tebing alami memperjelas perbedaan ini. El Capitan menawarkan sudut yang variatif dan tumpuan alami yang “bercerita” kepada pendaki. Taipei 101 sebaliknya: vertikal, repetitif, dan dingin.
Justru pola yang berulang itulah yang melelahkan secara mental, sementara faktor X-nya bukan batu rapuh, melainkan angin kencang dan permukaan licin.
Pada akhirnya, aksi Alex Honnold di Taipei 101 membuktikan bahwa batas antara tantangan alam dan arsitektur manusia dapat dijembatani oleh ketenangan pikiran yang absolut. Ini bukan tentang menaiki “tangga raksasa”, melainkan tentang membaca struktur buatan manusia dengan insting yang sama tajamnya seperti membaca tebing granit purba. Di ujung jari dan langkah sunyinya, kota dan alam bertemu—dan sekali lagi, Honnold berdiri di antara keduanya.(*)
BACA JUGA: Sasha DiGiulian dan Pemanjatan Epik 23 Hari di El Capitan