JERNIH – Pemerintahan Donald Trump secara mengejutkan mengakui bahwa militer Amerika Serikat saat ini “belum siap” untuk mengawal kapal-kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz. Pernyataan ini muncul di tengah keberhasilan Iran memblokade jalur pelayaran strategis tersebut, yang memicu gejolak hebat di pasar energi global.
Menteri Energi AS, Chris Wright, mengungkapkan bahwa aset militer Amerika saat ini sedang dikerahkan sepenuhnya untuk misi lain, yakni menghancurkan kapasitas manufaktur dan pertahanan Iran secara permanen.
Meski sebelumnya Presiden Trump sempat mengancam akan mengerahkan Angkatan Laut AS untuk membuka jalur, Chris Wright menegaskan bahwa rencana tersebut belum bisa direalisasikan dalam waktu dekat.
“Kami belum siap. Seluruh aset militer kami saat ini fokus untuk menghancurkan kemampuan ofensif Iran dan industri manufaktur yang mendukungnya,” ujar Wright kepada CNBC, Kamis (12/3/2026). Ia menambahkan bahwa AS ingin memastikan Iran tidak lagi mampu membangun rudal atau melanjutkan program nuklirnya di masa depan.
Wright menggambarkan krisis ini sebagai “penderitaan jangka pendek untuk keuntungan jangka panjang,” dengan prediksi bahwa perang ini akan berlangsung dalam hitungan minggu, bukan bulan.
Mojtaba Khamenei: Selat Hormuz Tetap Tertutup!
Di pihak lawan, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, memberikan pernyataan publik pertamanya sejak menggantikan ayahnya yang terbunuh, Ali Khamenei. Ia menegaskan bahwa blokade Selat Hormuz adalah harga mati dalam perang ini.
“Keinginan rakyat adalah melanjutkan pertahanan yang efektif dan memberikan efek jera,” tulis Khamenei dalam pernyataan resminya. “Taktik penutupan Selat Hormuz harus terus digunakan.”
Militer Iran bahkan secara provokatif menyatakan “menyambut” jika Angkatan Laut AS mencoba melakukan pengawalan, mengisyaratkan kesiapan mereka untuk menyerang pasukan AS di celah perairan yang sempit tersebut.
Harga BBM Melonjak, Trump Sebut AS Untung
Blokade ini telah mengubah peta harga minyak dunia menjadi sangat tidak stabil. Harga minyak sempat menyentuh $120 per barel pada hari Minggu, melonjak drastis dari harga awal sebesar $70 sebelum konflik pecah pada 28 Februari. Sementara rata-rata harga bensin di Amerika Serikat naik menjadi $3,60 per galon, dari sebelumnya $2,94 pada bulan lalu.
Menariknya, Presiden Donald Trump justru melihat celah keuntungan di balik krisis ini. Melalui media sosialnya, Trump menyatakan bahwa sebagai produsen minyak terbesar di dunia, AS diuntungkan secara finansial saat harga melonjak.
“Amerika Serikat adalah produsen minyak terbesar di dunia. Jadi, saat harga minyak naik, kita menghasilkan banyak uang,” tulis Trump. Namun, ia menekankan bahwa prioritas utamanya tetaplah menghentikan Iran dari kepemilikan senjata nuklir.
Kebijakan AS yang membiarkan Selat Hormuz tertutup demi fokus menghancurkan infrastruktur Iran menunjukkan pergeseran strategi yang berisiko. Meskipun AS memiliki ketahanan energi domestik, gangguan pasokan ke Asia dan Eropa tetap akan memicu inflasi global yang bisa memukul balik ekonomi Amerika di masa depan.
