Site icon Jernih.co

AS Endus Rencana Busuk Israel Membunuh Para Negosiator Ulung Iran

Pemandangan puing-puing gedung sekolah akibat serangan AS dan Israel, di Hormozgan, Iran pada 5 Maret 2026 (Foto: Getty)

Sejak awal perang meletus pada 28 Februari—yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei—AS memfokuskan serangannya pada kekuatan angkatan laut dan rudal Iran. Sebaliknya, Israel justru bergerak agresif memburu kepala para pemimpin Iran, termasuk membunuh Ali Larijani dan Kamal Kharazi.

JERNIH — Di balik meja runding yang dingin, sebuah operasi intelijen mematikan rupanya sedang mengintai. Para pejabat dan mantan pejabat Amerika Serikat (AS) meyakini kuat bahwa Israel sempat merancang plot rahasia untuk membunuh dua negosiator top Iran, yakni Menteri Luar Luar Negeri Sayyed Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, di tengah sensitifnya negosiasi gencatan senjata musim semi ini.

Laporan investigasi The New York Times (NYT) mengungkapkan bahwa kekhawatiran Washington begitu serius hingga para pejabat AS bergerak di bawah radar, meminta bantuan negara-negara regional untuk memperingatkan Teheran. AS cemas jika pembunuhan ini benar-benar terjadi, pembicaraan damai akan kolaps seketika dan menyeret kawasan tersebut ke dalam perang total yang lebih mengerikan.

Laporan NYT membeberkan bahwa gesekan kepentingan antara Washington dan Tel Aviv mulai menajam sejak April lalu, tepat ketika negosiasi gencatan senjata dimulai. AS fokus untuk penyelesaian diplomatik lewat negosiasi, termasuk kesepakatan Juni terkait keamanan Selat Hormuz dan isu nuklir. Sementara Israel memandang kerangka damai tersebut gagal memenuhi ambisi utama mereka, yaitu penggulingan rezim (regime change) di Iran dan penghancuran total kemampuan rudal Teheran.

Sejak awal perang meletus pada 28 Februari—yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei—AS memfokuskan serangannya pada kekuatan angkatan laut dan rudal Iran. Sebaliknya, Israel justru bergerak agresif memburu kepala para pemimpin Iran, termasuk membunuh Ali Larijani dan Kamal Kharazi, yang ironisnya saat itu justru tengah aktif menjalin komunikasi diplomasi dengan Washington.

The Wall Street Journal bahkan sempat melaporkan pada Maret lalu bahwa nama Araghchi dan Ghalibaf berada dalam daftar target pembunuhan teratas militer Israel, sebelum akhirnya “dihapus sementara” saat meja perundingan dibuka.

Jet Tempur Israel Intai Pesawat Ghalibaf

Salah satu detail paling mencekam dalam laporan NYT terjadi pada bulan April. Saat itu, Ghalibaf sedang dalam perjalanan pulang usai terbang ke Islamabad untuk melakukan pembicaraan dengan Wakil Presiden AS, JD Vance.

Di tengah penerbangan kembali ke Teheran, tim keamanan Iran mendeteksi dua jet tempur Israel menyusup ke ruang udara mereka, diduga kuat bersiap menyergap pesawat delegasi tersebut.

Pesawat Ghalibaf terpaksa melakukan pendaratan darurat di Kota Mashhad—bandara terdekat dari perbatasan Pakistan. Demi keselamatan, seluruh delegasi akhirnya terpaksa melanjutkan sisa perjalanan ke Teheran lewat jalur darat selama delapan jam.

Kisah Dua Negosiator yang Selamat dari Reruntuhan

Kedua negosiator ulung Iran ini nyatanya adalah para penyintas perang yang tangguh. Laporan intelijen menyebutkan Mohammad Bagher Ghalibaf dilaporkan sudah dua kali dievakuasi dari reruntuhan bangunan sepanjang perang, termasuk saat jet Israel membombardir bunker rahasia tempat berkumpulnya pejabat tinggi Iran.

Sementara Abbas Araghchi (Menlu Iran) dalam wawancaranya dengan Al Mayadeen awal Juni lalu, mengaku berada langsung di dalam kantor mendiang Ayatollah Ali Khamenei saat serangan udara pertama menghantam di jam-jam awal perang. Araghchi berhasil ditarik keluar dari puing-puing bangunan hidup-hidup saat bom masih berjatuhan di sekitarnya.

Ketegangan ini kembali memuncak setelah Menteri Perang Israel, Israel Katz, melemparkan ancaman terbuka pada hari Rabu. Katz menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Sayyed Mojtaba Khamenei, kini telah “ditandai untuk mati” (marked for death), sambil mengejek para negosiator Iran hanya sebagai “pedagang yang pintar”.

Merespons ancaman tersebut, Menlu Araghchi langsung meradang lewat akun X-nya. Ia menegaskan bahwa AS telah berkomitmen untuk menahan sekutunya tersebut, dan memperingatkan bahwa setiap ancaman terhadap pemimpin atau rakyat Iran akan “menerima respons kuat seketika.”

Senada dengan Araghchi, Utusan Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, telah mengirimkan surat resmi kepada Sekretaris Jenderal PBB dan Presiden Dewan Keamanan. Iravani mengecam pernyataan Katz sebagai “tindakan nyata dari terorisme negara” dan bagian dari kebijakan sistematis Israel untuk melenyapkan garis keturunan kepemimpinan Iran.

Exit mobile version