Site icon Jernih.co

AS ‘Menjajah’ Venezuela, Nicolas Maduro dan Istri Tiba di New York Sebagai Penjahat

JERNIH Presiden AS Donald Trump berjanji menempatkan Venezuela berada di bawah kendali Washington untuk sementara. Pejabat Venezuela yang setia kepada Presiden Nicolas Maduro berjanji melawan.

“Kami tidak bisa mengambil risiko orang lain mengambl alih Venezuela yang tidak memikirkan kepentingan rakyat,” kata Trump selama konferensi pers di Mar-a-Lago di Florida.

Namun, Trump tidak memberi jawaban spesifik atas pertanyaan berulang tentang bagimana AS akan mengambil alih dan menjalankan Venezuela. Ia haya mengatakan; “Orang-orang yang berdiri di belakang saya, sepertu Menlu Marco Rubio dan Menteri Pertahanan (Menhan) Peter Hagseth, akan mengawasi negara itu.”

Trump juga mengatakan terbuka untuk mengirim pasukan AS ke Venezuela. “Kami tidak takut dengan pasukan darat.”

Di New York, pesawat yang membawa Nicolas Maduro dan istrinya; Cilia Flores, mendarat Sabtu 3 Januari malam. Sebuah video memperlihatkan pesawat menarat bagian utara New York, dan orang-orang berseragam FBI menaiki pesawat setelah mendarat.

Sesuai dakwaan Pengadilan New York, AS akan memperlakukan Maduro dan istri sebagai penjahat, bandar narkoba, dan orang paling buruk. Maduro akan bernasib sama dengan Manuel Noriega, pemimpin Panama yang digulingkan AS lewat invasi militer tahun 1989.

Tidak jelas bagaimana Trump mengontrol Venezuela. Pasukan AS tidak memiliki kendali atas negar itu, dan pemerintah Maduro tampaknya masih berkuasa dan tidak punya keinginan bekerja sama dengan Washington.

Wapres Panama Delcy Rodriguez seharusnya menggantikan Maduro dan memimpin Venezuela. Namun, Delcy tampil di televisi bersama pejabat lainnya untuk mengecam invasi AS dan penculikan terhadap Maduro.

“Kami menuntut pembebasan Presiden Nicolas Maduro dan Cilia Flores,” kata Delcy Rodriguez, seraya menyebut Maduro sebagai satu-satunya presiden Venezuela.

Di Venezuela, situasi berjalan seperti biasa. Sebagian jalanan tenang, dan tentara berpatroli di beberapa bagian Caracas. Kerumunan kecil pendukung Maduro berkumpul di satu titik di ibu kota.

“Saya seang, tapi sempat ragu ini akan terjadi karena seperti di film,” kata Carolina Pimentel, pedagang berusia 37 tahun di kota Maracay. “Saya merasa setiap saat semua orang akan keluar merayakan kejatuhan Maduro.”

Exit mobile version