JERNIH – Sebuah objek luar angkasa berukuran raksasa dilaporkan tengah bergerak mendekati planet kita. Asteroid yang diberi nama 2026 JH2 tersebut dijadwalkan melintas dalam jarak yang secara astronomis sangat dekat, bahkan lebih dekat dibandingkan jarak Bumi ke Bulan.
Batuan antariksa yang baru ditemukan ini akan mencapai titik terdekatnya dengan Bumi pada Senin, 18 Mei 2026, pukul 21:23 GMT (atau Selasa, 19 Mei 2026, pukul 04:23 WIB). Jarak lintasan asteroid ini diperkirakan hanya sekitar 90.000 kilometer (56.000 mil) dari permukaan planet kita. Angka tersebut kurang dari seperempat (0,24) jarak rata-rata Bumi ke Bulan.
Meskipun terdengar dramatis dan menegangkan, para astronom mengonfirmasi bahwa masyarakat tidak perlu panik karena asteroid ini memiliki peluang nol persen untuk menabrak Bumi.
Berdasarkan pengamatan para ahli, asteroid 2026 JH2 diperkirakan memiliki dimensi lebar antara 15 hingga 34 meter (49–110 kaki). Ukuran ini membuatnya sebanding dengan bangunan kecil atau gedung bertingkat.
Sebagai perbandingan, ukuran asteroid ini mirip dengan Meteor Chelyabinsk yang sempat menggegerkan dunia saat meledak di langit Rusia pada tahun 2013 silam. Karena ukurannya yang relatif kecil dan sifatnya yang sulit memantulkan cahaya di kegelapan ruang angkasa, batuan ini baru berhasil dideteksi oleh para astronom pada tanggal 10 Mei 2026—hanya berselang seminggu sebelum mendekati Bumi.
Berikut adalah rincian data teknis dari asteroid 2026 JH2 yang melintas malam ini:
- Waktu Pendekatan Terdekat: Senin, 18 Mei 2026 (Pukul 21:23 GMT).
- Estimasi Ukuran Objek: 15 meter – 34 meter (49 – 110 kaki).
- Jarak Terdekat (Closest Approach): 0,24 LD (Lunar Distance / Jarak Bulan) atau ± 90.000 km.
- Tingkat Kecerahan (Magnitudo): Menyentuh angka 11,8 saat melintas.
- Status Keamanan: Aman (Peluang tabrakan 0%).
Cara Menonton Asteroid Raksasa
Bagi para pencinta astronomi dan pengamat langit (stargazer), momen ini menjadi kesempatan langka yang menarik untuk diamati. Saat ini, posisi 2026 JH2 sudah mulai terlihat di langit malam tepat setelah matahari terbenam.
Jalur pergerakannya terpantau sedang melintasi area konstelasi Ursa Major (Beruang Besar) dan konstelasi Leo. Seiring posisinya yang semakin merapat ke Bumi, tingkat kecerahannya akan meningkat hingga mencapai magnitudo 11,8.
Meskipun asteroid ini terlalu redup jika dilihat menggunakan mata telanjang, Anda yang memiliki teleskop kecil di rumah masih bisa menangkap pergerakan batuan ini dengan jelas saat melintas. Selain itu, masyarakat juga dapat melacak posisi astronomisnya secara real-time dengan memanfaatkan aplikasi astronomi gratis seperti Sky Tonight.
Pertanyaan yang sering muncul adalah seberapa dekat jarak yang dianggap berbahaya, dan apakah ada potensi asteroid sejenis benar-benar menghantam Bumi di masa mendatang?
Hingga laporan ini diturunkan, para ilmuwan internasional menegaskan bahwa tidak ada bukti kuat yang menunjukkan asteroid-asteroid yang masuk dalam daftar pantauan ini berada pada jalur tabrakan dengan Bumi dalam waktu dekat. Pengawasan ketat terus dilakukan menggunakan jaringan teleskop global untuk memastikan keselamatan planet kita dari ancaman tak terduga dari luar angkasa.
