Site icon Jernih.co

Atas Desakan AS, Israel Bekukan Operasi Militer ‘Sensitif’ di Lebanon Selatan

Bangunan-bangunan yang hancur di pinggiran selatan Beirut setelah serangan Israel selama invasinya ke Lebanon. (Foto: Getty)

JERNIH— Ketakutan Washington akan terseretnya Israel ke dalam pusaran perang terbuka skala penuh dengan Iran akhirnya terbukti lewat manuver politik terbaru. Kepemimpinan politik Israel secara mendadak menginstruksikan militernya (IDF) untuk membekukan seluruh operasi militer yang diklasifikasikan sebagai proyek “sensitif” di wilayah Lebanon Selatan, Jumat malam hingga Sabtu (11/7/2026).

Pemberitaan dari lembaga penyiaran publik Israel, Kan, menyebutkan bahwa maklumat pembekuan ini akan berlaku sampai batas waktu yang belum ditentukan. Langkah ini diambil menyusul tekanan hebat dari Gedung Putih yang meminta kejelasan situasi atas eskalasi AS-Iran di Selat Hormuz, serta demi menjaga jalannya negosiasi rahasia antara Israel dan Lebanon di Eropa.

Meskipun jenis operasi “sensitif” yang dibekukan tidak dirinci demi kerahasiaan militer, para pejabat tinggi Washington khawatir bahwa jika pertempuran di Lebanon memburuk, hal itu akan otomatis memicu keterlibatan langsung Iran. Teheran sendiri sejak awal bersikeras bahwa Lebanon harus dimasukkan ke dalam paket Nota Kesepahaman (MoU) damai dengan AS.

Seorang sumber internal keamanan Israel membocorkan strategi ofensif Tel Aviv yang sebenarnya. Israel sebenarnya sudah bersiap memanfaatkan momentum serangan Iran minggu ini sebagai alasan untuk meluncurkan serangan udara berskala masif ke jantung wilayah Iran. Namun, menyusul tekanan berat dari Gedung Putih, militer Israel diperintahkan untuk menahan rencana tersebut guna menghindari perluasan konfrontasi yang tak terkendali.

Meski operasi berkategori sensitif dibekukan, baku tembak konvensional tetap membara sepanjang Jumat malam hingga Sabtu pagi ini. Jet tempur dan artileri Israel dilaporkan masih membombardir wilayah Kfar Tebnit—sebuah kota strategis yang menghadap ke jalur pendekatan utama di Kegubernuran Nabatieh.

Di wilayah ini, pasukan darat Israel telah beroperasi selama berminggu-minggu demi mencoba merebut Ali al-Taher Ridge (Bukit Ali al-Taher).

Di sisi lain, Kan melaporkan bahwa militer Israel sebenarnya diproyeksikan mulai menarik diri dari beberapa “zona percontohan” (pilot zones) di Lebanon Selatan minggu ini. Penarikan mundur ini sengaja dijadwalkan bertepatan dengan putaran baru perundingan damai antara Lebanon dan Israel yang akan digelar di Roma, Italia.

Guna mematangkan skenario penarikan mundur militer Israel dari desa Zawtar al-Gharbiya dan Froun, delegasi militer dari Komando Pusat AS (CENTCOM) dijadwalkan bakal segera mendarat di Beirut dalam beberapa hari ke depan.

Laporan investigasi dari Financial Times (FT) mengungkapkan beberapa poin krusial dari draf perjanjian rahasia tersebut. Perjanjian tersebut berisi detail teknis mengenai penempatan tentara reguler Lebanon (LAF) untuk mengisi kekosongan wilayah yang ditinggalkan oleh mundurnya pasukan Israel.

Meskipun kerangka kerja ini dibrokeri langsung oleh AS dan ditandatangani pada 26 Juni lalu, kelompok perlawanan Hizbullah secara tegas menolak mentah-mentah kesepakatan tersebut.

Hizbullah dengan tegas menolak seruan untuk melucuti senjatanya selama pendudukan dan agresi Israel di tanah Lebanon belum berhenti total. Sejak perang pecah Maret lalu, serangan Israel ke Lebanon tercatat telah membantai lebih dari 4.300 orang tewas dan melukai ribuan warga sipil lainnya. Narasi damai di Roma diprediksi akan berjalan sangat alot dan buntu.

Exit mobile version