Demam emas AI semakin liar. Analis kini menaikkan target pendapatan industri semikonduktor hingga triliunan dolar, meski sektor ponsel pintar dan PC masih lesu.
WWW.JERNIH.CO – AI benar-benar menjadi “emas” baru. Kali ini yang berkomentar analis Bank of America (BofA), Vivek Arya, yang menyatakan peningkatan besar terhadap prospek semikonduktor global.
Ia menaikkan target pendapatan tahun 2026 menjadi Rp21.710 triliun alias terjadi lonjakan sebesar Rp5.010 triliun) dari estimasi yang diberikan bank tersebut empat bulan lalu. Menurut Arya, Nvidia dan Broadcom terus menjadi motor penggerak ambisi AI tersebut.
“Kami terus melihat AI/pusat data mendorong mayoritas keuntungan (melalui komputasi, jaringan, memori), dengan sektor industri berkontribusi pada pertumbuhan melalui pengisian kembali inventaris dan peningkatan robotika,” kata Arya.
BofA memperkirakan total pasar semikonduktor akan mencapai tonggak Rp33.400 triliun) pada tahun 2030. Ini menyiratkan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 20% hingga akhir dekade ini, lebih dari dua kali lipat tingkat pertumbuhan rata-rata industri sebesar 9% selama 10 tahun terakhir.
Untuk mencapai garis finis tersebut, Arya berpendapat bahwa industri sedang memasuki periode “intensitas logika terdepan,” di mana kompleksitas desain chip memerlukan peningkatan alat-alat khusus.
Bagi investor yang ingin memanfaatkan momentum ini, BofA melipatgandakan dukungan pada pemimpin “komputasi AI,” termasuk Marvell Technology dan Advanced Micro Devices (AMD).
Di luar chip itu sendiri, BofA menandai peluang pada peralatan pembuatan chip melalui nama-nama seperti Applied Materials dan Lam Research. Arya juga menunjuk pada pemulihan yang akan datang bagi perusahaan perangkat lunak Electronic Design Automation seperti Cadence dan Synopsys. Saat sektor yang lebih luas stabil, nama-nama ini berfungsi sebagai strategi “beli cangkul dan sekop” untuk fase desain ledakan AI.
Namun, laporan tersebut juga mengungkapkan keretakan di pasar perangkat keras yang lebih luas. Sementara AI sedang meledak, sektor konsumen tradisional seperti ponsel pintar dan PC terus menjadi hambatan signifikan bagi industri.
Arya memperingatkan bahwa permintaan konsumen bisa tetap lesu hingga tahun 2027, yang akan terus membebani prospek pemain seperti Qualcomm dan Skyworks. Proyeksi yang terbagi ini menunjukkan bahwa meskipun angka utama tumbuh, keuntungan semakin terkonsentrasi pada segelintir pemain berharga tinggi.
Kesenjangan ini sangat mencolok. Model BofA menunjukkan terjadi lompatan 43% (YoY) dalam komputasi dan penyimpanan. Dan, penurunan 9% dalam komunikasi nirkabel.
Terdapat juga tantangan matematis yang meningkat terhadap prakiraan chip yang agresif ini. Analisis BofA menunjukkan bahwa agar vendor chip dapat mencapai target penjualan tahun 2027, belanja modal (capital expenditure) awan global perlu menyediakan sekitar Rp16.700 triliun) atau jauh lebih tinggi dari konsensus saat ini sebesar Rp14.562,4 triliun.
Pertumbuhan tersebut bukannya tidak mungkin — perusahaan mencatat bahwa belanja modal dari program swasta besar seperti Stargate, dana kekayaan negara (sovereign funds), dan korporasi dapat meningkat pesat tahun ini.
Namun, hal ini memberikan tekanan besar pada raksasa teknologi seperti Microsoft dan Google untuk tetap menginjak pedal gas, terlepas dari apakah mereka melihat pengembalian nyata dari investasi AI raksasa mereka. Jika para penyedia layanan skala besar (hyperscalers) mendapati diri mereka memiliki kapasitas berlebih atau jika monetisasi perangkat lunak AI melambat, ekspektasi tinggi untuk pemain chip mungkin akan berakhir sebagai sekadar sensasi (hype) daripada kenyataan.(*)
BACA JUGA: Chip ‘Otak Manusia’ dari Inggris, Revolusi AI 2.000 Kali Lebih Hemat Energi
