Site icon Jernih.co

Bermodus ‘Pejuang Demokrasi’, Miliarder China Guo Wengui Divonis 30 Tahun Akibat Penipuan Besar-besaran

Guo Wengui dan Steve Bannon (Foto: AFP)

JERNIH — Kedok pahlawan demokrasi yang selama ini dipakai oleh miliarder pelarian asal China, Guo Wengui, akhirnya runtuh sepenuhnya di ruang pengadilan Amerika Serikat. Pada Senin, Hakim Federal Analisa Torres resmi menjatuhkan vonis 30 tahun penjara kepada taipan bisnis tersebut atas skandal penipuan finansial raksasa yang merugikan ribuan orang di seluruh dunia.

Pria yang sempat masuk dalam jajaran orang terkaya di China ini terbukti secara licik memanfaatkan sentimen politik untuk menguras kantong para korbannya demi membiayai gaya hidupnya yang super mewah. Selain hukuman kurungan badan yang sangat lama, hakim juga memerintahkan penyitaan aset senilai USD 889 juta (sekitar Rp14,5 triliun) sebagai uang pengganti kerugian para korban.

Guo Wengui—yang juga dikenal dengan nama alias Miles Guo dan Ho Wan Kwok—melarikan diri dari China pada tahun 2015 setelah tersandung masalah hukum di negaranya. Begitu tiba di New York, AS, pengusaha real estate ini langsung memoles citranya sebagai kritikus garis keras Partai Komunis China (CCP) dan pembela fanatik gerakan demokrasi.

Namun, alih-alih berjuang demi ideologi, status baru tersebut justru dijadikan umpan bisnis ilegal. Juri pengadilan menyatakan Guo terbukti bersalah atas serangkaian tindak pidana penipuan, pelanggaran pasar modal, penipuan elektronik, hingga pencucian uang yang dilakukannya sepanjang tahun 2018 hingga 2023.

“Dia memangsa orang-orang yang tulus ingin membawa demokrasi ke China. Dia merampas uang mereka hanya agar dia bisa hidup dalam kemewahan,” tegas Hakim Analisa Torres saat membacakan amar putusannya di pengadilan Manhattan.

Sebelumnya pada tahun 2023, Biro Investigasi Federal (FBI) melakukan penggerebekan mengejutkan dan menangkap Guo langsung di apartemen mewah miliknya yang menghadap langsung ke Central Park, Manhattan.

Dalam persidangan, Hakim Torres sempat membacakan potongan surat dari para korban yang menggambarkan dampak psikologis dan finansial yang mengerikan akibat ulah Guo. Banyak dari mereka kehilangan seluruh tabungan seumur hidup, mengalami gangguan kecemasan parah, hingga dikucilkan oleh keluarga sendiri akibat pilihan investasi yang salah.

Seorang korban bernama Wei Chen, yang hadir langsung sebagai saksi di persidangan, menyampaikan pernyataan emosional di depan hakim. “Penipuan yang dilakukan Guo telah menghancurkan hidup saya dan seluruh keluarga saya,” tuturnya pilu.

Jaksa penuntut umum menyebut skala penipuan Guo sangat “mencengangkan” karena telah meninggalkan puing-puing kehancuran bagi ratusan keluarga, baik secara finansial, emosional, maupun psikologis. Ironisnya, Guo dinilai sama sekali tidak menunjukkan rasa penyesalan. Ia justru bersikeras mengklaim bahwa tindakannya tidak merugikan atau membuat siapa pun kehilangan uang.

Alibi Politik dan Hubungan Gelap dengan Steve Bannon

Di dalam ruang sidang, Guo sempat mengeluhkan kondisi kesehatannya dan mencoba membela diri dengan narasi politik. Ia menegaskan bahwa niat utamanya datang ke Amerika Serikat semata-mata adalah “untuk menghancurkan” Partai Komunis China.

Tim pengacara Guo bahkan berargumen secara tertulis bahwa klien mereka adalah korban perburuan politik yang masif dan mengancam nyawa oleh rezim CCP. Mereka mengklaim hukuman penjara yang lama ini justru akan memvalidasi kampanye hitam pemerintah China untuk membungkam para pembangkang politik di luar negeri.

Namun, rekam jejak Guo di AS memang sarat kontroversi. Selama menetap di New York, ia menjalin hubungan erat dengan tokoh sayap kanan AS sekaligus mantan penasihat Donald Trump, Steve Bannon. Bersama Bannon, Guo mendirikan kelompok lobi anti-CCP bernama New Federal State of China.

Kedekatan keduanya makin disorot publik ketika pada tahun 2020 lalu, Steve Bannon ditangkap oleh otoritas AS tepat di atas kapal pesiar (yacht) mewah milik Guo Wengui. Bannon kala itu ditangkap atas kasus penggelapan dana publik terkait proyek pembangunan tembok perbatasan AS-Meksiko, yang merupakan program ikonik kampanye pilpres Donald Trump tahun 2016.

Exit mobile version