Site icon Jernih.co

Blunder Geopolitik! Drone Rusia Hantam Kapal Kargo China di Ukraina Tepat Sehari Sebelum Putin Temui Xi Jinping

Foto: AFP

JERNIH – Sebuah insiden militer yang sangat sensitif terjadi di Laut Hitam. Pasukan Rusia dilaporkan melancarkan serangan udara masif semalam menggunakan ratusan pesawat nirawak (drone) ke wilayah Ukraine, di mana salah satu serangan tersebut secara tidak sengaja menghantam sebuah kapal kargo milik China.

Ironisnya, insiden salah sasaran ini terjadi tepat satu hari sebelum Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan terbang ke Beijing untuk mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping.

Otoritas pelabuhan Ukraina melaporkan bahwa serangan drone Rusia pada Senin malam menghantam dua kapal sipil komersial yang sedang mendekati pelabuhan di wilayah Odesa—sebuah pusat maritim vital bagi ekspor pertanian Ukraina. Kedua kapal tersebut masing-masing mengibarkan bendera Kepulauan Marshall dan Guinea-Bissau.

Angkatan Laut Ukraina mengonfirmasi bahwa salah satu kapal yang terkena dampak adalah KSL Deyang, sebuah kapal kargo milik perusahaan China yang diawaki oleh kru berkewarganegaraan China dan beroperasi di bawah bendera Kepulauan Marshall. Pihak militer Ukraina juga merilis foto yang menunjukkan bagian lambung kapal KSL Deyang tampak hangus sebagian akibat hantaman tersebut.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, langsung memberikan kecaman keras melalui media sosialnya atas insiden ini. “Drone menyerang Odesa dan salah satu UAV (unmanned aerial vehicle) menghantam kapal milik China. Pihak Rusia tidak mungkin tidak tahu kapal apa yang sedang berada di laut tersebut,” tegas Zelenskyy.

Meski mengalami kerusakan fisik pada lambung kapal, juru bicara Angkatan Laut Ukraina, Dmytro Pletenchuk, memastikan bahwa situasi dapat segera dikendalikan oleh para awak kapal tanpa adanya korban jiwa.

Juru bicara Angkatan Laut Ukraina menyampaikan kepada kantor berita AFP bahwa tidak ada satu pun kru kapal—yang semuanya merupakan warga negara China—mengalami luka-luka. Setelah dihantam oleh drone jenis Shahed pada malam hari, kru kapal berhasil mengatasi dampak kerusakan secara mandiri. Kapal KSL Deyang tetap melanjutkan pelayaran menuju pelabuhan tujuan.

Sumber dari kantor berita Reuters menyebutkan bahwa kapal Deyang sedang dalam kondisi kosong tanpa muatan saat serangan terjadi. Kapal tersebut sedianya tengah bergerak menuju Pelabuhan Pivdennyi di wilayah Odesa untuk mengangkut muatan konsentrat bijih besi.

Serangan yang mengenai kapal China ini merupakan bagian dari gelombang pemboman terbesar Rusia akhir-akhir ini. Presiden Zelenskyy membeberkan bahwa dalam semalam saja, pasukan Rusia menggempur wilayah Ukraina dengan total 524 drone tempur dan 22 rudal, termasuk kombinasi rudal balistik serta rudal jelajah.

Rusia sendiri memang tercatat rutin menargetkan kapal-kapal sipil di area pelabuhan Odesa sejak memulai invasi penuhnya ke Ukraina empat tahun lalu. Namun, hantaman pada aset sekutu terdekatnya kali ini diprediksi akan menciptakan situasi yang canggung di meja diplomasi.

Insiden ini terjadi di waktu yang sangat krusial, tepat sebelum kunjungan kerja dua hari Vladimir Putin ke Beijing. Pertemuan tersebut dirancang untuk mempererat hubungan ekonomi dan militer antara kedua negara adidaya tersebut.

Selama ini, Beijing konsisten memposisikan diri sebagai pihak yang netral dalam konflik Ukraina-Rusia dan berulang kali menyerukan pembicaraan damai untuk mengakhiri perang. Namun, di sisi lain, China tidak pernah secara resmi mengutuk aksi Moskow yang mengirimkan pasukannya ke Ukraina sejak Februari 2022. Hantaman drone di Odesa ini tentu akan menjadi ujian tersendiri bagi diplomasi “kemitraan tanpa batas” antara Putin dan Xi Jinping.

Exit mobile version