JERNIH – Empat tank Merkava Israel hancur setelah melewati alat peledak improvisasi (IED) yang telah ditanam sebelumnya di Lebanon Selatan di tengah pelanggaran gencatan senjata Israel yang terus berlanjut.
Para pejuang Perlawanan Hizbullah, Minggu (19/4/2026) menargetkan konvoi lapis baja di Lebanon selatan. Menurut pernyataan yang dirilis oleh kelompok Perlawanan, sebuah konvoi Israel yang terdiri dari delapan kendaraan lapis baja sedang bergerak pada tanggal 19 April, dari kota Taybeh menuju pos terdepan al-Sal’a lama dekat Deir Seryan ketika dihantam oleh rangkaian alat peledak yang telah ditanam sebelumnya.
Peristiwa itu melibatkan beberapa bom yang diledakkan dalam dua gelombang berturut-turut antara pukul 15.40 dan 16.40 waktu setempat. Ledakan tersebut mengakibatkan hancurnya empat tank Merkava, yang terlihat dilalap api setelah ledakan.
Serangan itu terjadi ketika pasukan pendudukan Israel terus mengabaikan perjanjian gencatan senjata, dengan pelanggaran berulang. Pergerakan konvoi lapis baja itu sendiri merupakan bagian dari aktivitas militer Israel yang sedang berlangsung di daerah tersebut.
Mengutip Al Mayadeen, sekitar pukul 18.00, pasukan Israel dilaporkan bergerak untuk menarik tank-tank yang rusak dari lokasi tersebut setelah serangan itu. Operasi ini menggarisbawahi kesiapan operasional berkelanjutan dari Perlawanan Islam di Lebanon selatan, khususnya dalam memanfaatkan langkah-langkah pertahanan yang telah direncanakan sebelumnya terhadap pasukan pendudukan Israel.
Sementara itu, komando militer Israel mengumumkan bahwa seorang tentara cadangan Israel tewas dan sembilan lainnya terluka dalam insiden alat peledak improvisasi di Lebanon selatan pada hari Sabtu. Laporan menunjukkan bahwa insiden tersebut terjadi di desa perbatasan Kfar Kila, di seberang Metulla, yang telah mengalami periode pendudukan dan serangan militer Israel cukup lama sejak perang 66 hari di Lebanon pada 2024.
Pada hari Minggu, media Israel melaporkan bahwa seorang tentara Israel tewas dan sembilan lainnya terluka, termasuk satu luka serius, setelah sebuah bom meledak di daerah yang didudukinya di Lebanon selatan. Tentara tersebut bertugas di Batalyon ke-7106 Brigade Regional ke-769 “Hiram”.
Menurut penyelidikan militer awal, insiden itu terjadi selama operasi di wilayah pendudukan Israel, di mana sebuah kendaraan teknik terkena bom rakitan (IED) yang ditanam di area tersebut. Pasukan yang mengamankan mesin tersebut terjebak dalam ledakan, mengakibatkan banyak korban jiwa. Para korban luka diterbangkan ke rumah sakit, sementara rezim Israel mengatakan pasukannya melancarkan serangan balasan di dekat area tersebut setelah ledakan.
Sehari sebelumnya, media Israel melaporkan bahwa prajurit cadangan lainnya, seorang perwira bintara, tewas dan tiga tentara terluka dalam ledakan serupa di desa Jebbayn, Lebanon selatan. Pasukan tersebut dilaporkan sedang memeriksa sebuah bangunan untuk mencari senjata ketika alat tersebut meledak.
Komando militer Israel belum memberikan komentar terkait penyergapan di Deir Seryan, namun laporan media Israel menyebutkan bahwa total 36 tentara tewas atau terluka antara hari Sabtu dan Minggu.
Serangan dan Pendudukan Terus Berlanjut di Lebanon Selatan
Komando militer Israel telah mengumumkan bahwa pasukannya akan beroperasi di apa yang disebut “zona pertahanan maju” di wilayah selatan Lebanon yang diduduki, membentang dari Ras al-Bayyada di pesisir hingga Shebaa di timur. Zona ini dipandang sebagai pendahuluan bagi pendudukan Israel yang berkepanjangan dan upaya untuk mendorong para pemukim masuk ke wilayah Lebanon.
Pengumuman ini merupakan bagian dari upaya rezim Israel untuk memberlakukan status quo baru di wilayah yang berjarak 8-10 km dari lokasi Israel di wilayah pendudukan Lebanon, Palestina, dan Suriah. Namun, Perlawanan Islam di Lebanon menekankan bahwa gencatan senjata harus mencakup penghentian total pelanggaran Israel, termasuk serangan dan perusakan properti.
Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem menyatakan bahwa Perlawanan tetap siap untuk menanggapi setiap agresi, menekankan bahwa gencatan senjata tidak dapat bersifat sepihak dan harus dihormati oleh kedua belah pihak.
Ia menguraikan prioritas utama untuk fase selanjutnya, termasuk penarikan penuh Israel dari wilayah Lebanon yang diduduki, pemulangan penduduk yang mengungsi ke desa mereka, dan peluncuran upaya rekonstruksi yang didukung di tingkat nasional dan internasional. Sheikh Qassem juga menekankan pentingnya memperkuat kedaulatan Lebanon, menjaga persatuan internal, dan mencegah campur tangan asing.
