Ketika negara membalas protes dengan peluru dan menyebut korban sebagai “teroris”, Bruce Springsteen menjawab dengan lirik. Maka Streets of Minneapolis bukan lagu belaka, melainkan dakwaan moral terhadap negara yang mulai takut pada kebenaran.
WWW.JERNIH.CO – Bruce Springsteen tidak sedang merilis lagu. Ia sedang mengajukan gugatan moral. “Streets of Minneapolis” karya musik baru dari seorang ikon rock Amerika, melainkan sebuah dakwaan terbuka terhadap negara yang—dalam narasi Springsteen—telah kehilangan batas antara penegakan hukum dan teror kekuasaan.
Gedoran Springsteen kontan bikin Gedung Putih panas kuping. Mulai gelisah. Tak pelak tembang ini menyentuh inti paling rapuh dari rezim mana pun: klaim atas legitimasi moral.
Dalam lagu tersebut, Springsteen mengabadikan dua nama yang oleh negara hampir saja dihapus dari ingatan publik: Alex Pretti dan Renee Good, sama-sama berusia 37 tahun, sama-sama warga sipil, dan sama-sama tewas ditembak agen federal dalam rentang waktu kurang dari tiga minggu.
Good, seorang ibu tiga anak, ditembak oleh petugas ICE saat berusaha meninggalkan lokasi protes. Pretti, seorang perawat ICU, ditembak oleh petugas CBP. Keduanya tidak bersenjata. Keduanya kemudian dengan cepat dilabeli negara sebagai “ancaman,” “teroris domestik,” atau “calon pembunuh”—klaim yang, menurut rekaman video, bertentangan dengan fakta di lapangan.
Springsteen menulis lagu ini tepat pada hari Alex Pretti tewas. Ia merekam dan merilisnya hampir tanpa jeda. Kecepatan ini penting: “Streets of Minneapolis” lahir bukan dari kalkulasi industri musik, melainkan dari kemarahan moral yang mentah.
Dalam unggahannya, Springsteen menyebut apa yang terjadi di Minneapolis sebagai state terror—teror negara. Sebuah frasa yang jarang digunakan dalam wacana arus utama Amerika, dan karena itu sangat mengganggu bagi kekuasaan.
Lirik Amarah
Secara lirik, lagu ini brutal dalam kejujurannya. Tidak ada metafora romantis, tidak ada simbolisme samar. Springsteen menyebut langsung: “King Trump’s private army from the DHS / Guns belted to their coats.”
Jelas ini bukan hanya kritik kebijakan, melainkan sindiran terhadap konsentrasi kekuasaan yang mempersonalisasi aparat negara. Ketika penegak hukum digambarkan sebagai “tentara pribadi,” Springsteen sedang menuduh bahwa hukum tidak lagi bekerja atas nama publik, melainkan atas nama seorang raja modern yang alergi terhadap perbedaan.
Baris “there were bloody footprints where mercy should have stood” menjadi pusat etik lagu ini. Di tempat yang seharusnya diisi belas kasih, negara justru meninggalkan jejak darah. Dan Springsteen menolak membiarkan korban menjadi statistik anonim.
Bahkan ia menyebut nama mereka, berulang-ulang. Dalam tradisi balada rakyat Amerika, menyebut nama adalah bentuk perlawanan: menolak penghapusan, menolak normalisasi kematian.
Lebih jauh, “Streets of Minneapolis” secara terbuka menuduh pemerintah berbohong. Springsteen menyindir “dirty lies” yang datang dari figur-figur kunci seperti Stephen Miller dan Kristi Noem—para arsitek narasi resmi yang menyebut korban sebagai pelaku kekerasan. Di sini, musik berubah menjadi kontra-arsip: ia berdiri berseberangan dengan siaran pers, membongkar bahasa birokrasi yang dingin dan menggantinya dengan kesaksian emosional. Jika negara berkata “ancaman,” Springsteen menjawab “manusia.”
Isu profiling rasial muncul tanpa kompromi. “If your skin is black or brown, my friend / You can be questioned or deported on sight.” Ini adalah tuduhan langsung bahwa hukum tidak diterapkan secara setara. Dalam lagu ini, warna kulit tak cuma merujuk pada identitas—ia adalah vonis awal. Springsteen tidak mencoba menyenangkan pendengar yang ragu; ia memaksa mereka memilih posisi.
Gedung Putih Marah
Reaksi Gedung Putih justru memperkuat argumen lagu tersebut. Juru bicara Abigail Jackson menyebut karya ini sebagai “lagu acak dengan pendapat yang tidak relevan dan informasi yang tidak akurat.” Tentu saja pernyataan ini terdengar lebih seperti upaya meredam kebakaran daripada klarifikasi substantif.
Mestinya pemerintah jika benar-benar yakin dengan kebenarannya tidak perlu meremehkan musik. Mereka cukup menunjukkan fakta. Namun yang terjadi justru sebaliknya: defensif, sinis, dan penuh pengelakan.
Donald Trump sendiri bukan orang baru dalam konflik dengan Springsteen. Sejak masa kampanye 2016, The Boss telah menyebut Trump sebagai “kandidat paling berbahaya dalam hidup saya.”
Dalam tur di Inggris, Springsteen menyebut pemerintahannya “korup, tidak kompeten, dan berkhianat.” Respons Trump kala itu adalah amarah personal: menyuruh Springsteen “tutup mulut” dan bahkan menyerukan penyelidikan. Pola ini konsisten: kritik dijawab bukan dengan debat, melainkan intimidasi.
Namun “Streets of Minneapolis” tidak berdiri sendiri. Ia adalah kelanjutan logis dari sejarah panjang Springsteen sebagai suara politik Amerika. “Born in the U.S.A.” sering disalahpahami sebagai lagu patriotik, padahal ia adalah ratapan pahit tentang veteran Vietnam yang dikhianati negaranya sendiri.
Lantas “American Skin (41 Shots)” lahir dari kemarahan atas penembakan Amadou Diallo, seorang imigran tak bersenjata. Polanya jelas: ketika negara menembak warga yang tidak berdaya, Springsteen menulis lagu.
Yang membuat lagu ini begitu mengganggu bagi kekuasaan adalah kesederhanaannya. Ia tidak menawarkan solusi kebijakan, tidak menyodorkan jargon akademik. Ia hanya bertanya—dengan nada yang menyakitkan—negara macam apa yang menembak perawat dan ibu lalu menyebutnya teroris?
Dan siapa yang sebenarnya lebih berbahaya: warga sipil yang berteriak di jalan, atau negara yang menjawabnya dengan senjata otomatis?
Pada akhirnya, “Streets of Minneapolis” mengingatkan kita bahwa musik masih bisa menjadi ruang perlawanan yang efektif. Ketika hukum berbicara dengan moncong senjata dan propaganda, Springsteen menjawab dengan gitar, suara serak, dan nama-nama korban.
Ia menolak lupa. Dan justru karena itulah Gedung Putih gempar. Bukan karena lagu ini tidak relevan—melainkan karena ia terlalu relevan. Dalam hati Springsteen bilang, “Kau gunakan senjata, aku lawan dengan gitarku!” (*)
BACA JUGA: Bruce Springsteen: Donald Trump Menang, Saya Pindah ke Irlandia
