HUT 50 tahun Impala UB ditandai pula dengan dilepasnya sebuah buku. Hadir dalam versi cetak dan digital. Sebuah karya yang lahir dari rajutan ingatan kolektif lintas generasi sepanjang setengah abad (1976–2026). Temukan renyahnya kisah penjelajahan, riset gua yang memukau, hingga romantisme domestik yang akan membuat Anda tersenyum sekaligus berkaca-kaca.
WWW.JERNIH.CO – Buku “SCARF IMPALA” bukanlah sebuah kitab sejarah yang kaku. Jika Anda membuka lembar demi lembar buku ini untuk mencari deretan angka tahun yang berurutan secara klinis atau catatan literatur yang membosankan, Anda tak bakal menemukan.
Buku ini adalah sebuah anomali yang indah. Ia lahir dari rahim kegerahan, kegeraman yang dirawat secara positif, serta inisiatif yang berkejaran dengan waktu. Hanya dalam waktu pengerjaan yang teramat singkat—sekitar dua bulan saja—dan di tengah keterbatasan sumber daya manusia, buku ini berhasil mewujud menjadi sebuah karya yang utuh.
Bagaimana mungkin sebuah buku setebal ini, yang merangkum perjalanan setengah abad (1976–2026) organisasi pencinta alam tertua di Universitas Brawijaya, diselesaikan secepat itu?
Jawabannya ada pada tekniknya: Storytelling (Bercerita). Buku ini memilih jalan sebagai penutur kisah, bukan pencatat kronologis. Keterbatasan waktu dan SDM justru memaksa para anggotanya melepaskan gaya bahasa baku ala akademisi, lalu menggantinya dengan gaya bertutur yang jujur, mengalir, cair, bahkan terkadang membanyol dan jenaka.
Ia ditulis lewat ingatan kolektif yang para penceritanya dihimpun lewat metode word of mouth lintas generasi. Hasilnya? Sebuah buku yang renyah (crunchy), “maknyus”, dan memikat dari halaman pertama hingga terakhir.
Scarf Oranye: Cermin, Kompas, dan Nafas Persaudaraan
Judul buku ini sendiri diambil dari identitas paling sakral bagi setiap anggotanya: SCARF. Namun, di balik selembar kain oranye yang mencolok itu, sang penyusun menjadikannya sebuah akronim yang brilian: Sekumpulan CeritA Realita dan Fakta. Buku ini memantulkan kilasan peristiwa, emosi, dan dedikasi yang pernah membakar semangat para petualang di setiap masanya. Jadi sama sekali tidak menjustifikasi dirinya sebagai Buku Sejarah.
Namun buku ini -seperti yang diungkapkan dalam pengantarnya- bertindak sebagai Cermin dan Kompas. Ia adalah cermin tempat para anggotanya berkaca, melihat kembali tapak-tapak kaki yang lelah, lutut-lutut yang bergetar menahan beban ransel, dan keteguhan hati yang menolak untuk berbalik arah di tengah badai gunung, tingginya tebing, derasnya jeram, atau gelapnya gua. Di saat yang sama, ia adalah kompas ilmiah dan spiritual untuk menatap ke mana organisasi ini harus melangkah di masa depan.
Buku ini menegaskan satu hal penting: sejarah tidak boleh hanya menjadi abu dingin yang tertiup angin zaman, ia harus menjadi api yang terus menghangatkan perjalanan dari satu era menuju era yang tak terhingga.
Simfoni Cerita: Dari Puncak Carstensz hingga Kehangatan Sekretariat
Kekuatan utama buku ini terletak pada keberagaman sudut pandang penulisan (angle). Karena ditulis oleh siapa saja—mulai dari para pendiri angkatan pionir tahun 1970-an hingga anggota muda era digital—buku ini menjelma menjadi mosaik pengalaman yang luar biasa kaya.
Anda akan diajak melintasi batas-batas geografi dan emosi:
- Merasakan ketegangan epik Ekspedisi Brawijaya Irian Jaya (EBI) pertama dan kedua saat pataka kebanggaan organisasi berhasil dikibarkan di puncak vertikal nan beku Carstensz Pyramid.
- Ikut berdecak kagum membaca tulisan gerombolan penelusur gua (caver) era 2000-an yang menyuguhkan penjelajahan lorong gelap bumi dengan sentuhan riset ilmiah yang memukau.
- Kisah pendakian Gunung Fuji berbekal atribut kaus organisasi. Ada pula pendakian Kinabalu yang menargetkan lebih dari satu puncak. Plus menjejak Gunung Semeru via jalur tak biasa.
- Hingga diajak tersenyum simpul (atau bahkan berkaca-kaca) saat membaca kisah-kisah domestik penuh romantisme: tentang kehangatan teras Sekretariat 2.0, banyolan tenda, aksi stop polusi kampus yang berujung sidang evaluasi, hingga kisah legendaris Pak Toyib, sang sopir bus rektorat yang setia mengantar mimpi anak-anak muda ini ke kaki gunung.
Semua cerita ini tidak ditulis dengan jarak. Mereka ditulis dengan kedekatan batin yang intim, membuat pembaca luar sekalipun bisa merasakan desau angin gunung dan dinginnya air gua yang mereka tempuh.
Sebuah Buku untuk Jiwa-Jiwa Perantau
“SCARF IMPALA” membuktikan bahwa keterbatasan waktu, dana, dan SDM bukanlah tembok penghalang untuk melahirkan karya monumental. Dengan memilih teknik storytelling, buku ini berhasil melompati sekat-sekat kaku sejarah literatur. Buku ini tidak menceritakan benda mati; ia menceritakan manusia, emosi, kesalahan yang mendewasakan, dan ikatan persaudaraan yang ditempa oleh alam bebas tanpa ikatan darah.
Buku ini adalah bacaan wajib bagi siapa saja yang merindukan makna sebuah proses, esensi dari sebuah komitmen, dan keindahan dari sebuah perjalanan hidup. Disusun dalam waktu singkat, namun kenangan di dalamnya akan menetap abadi. Bersiaplah untuk tertawa, terhanyut, atau bahkan meneteskan air mata haru saat membaca setiap episodenya.
Pesan di dalamnya sangat inklusif dan relevan bagi siapa pun yang ingin membawa perubahan hidup, terutama di tengah era yang sarat pencitraan, ketidakjujuran, dan pudarnya rasa persaudaraan.(*)
