Burung Cendet, adalah predator kecil yang cerdas dan lincah, dikenal sebagai “Jagal Kecil” Asia. Ia juga burung kicauan dengan karakter fighter sejati, terkenal karena kicauannya yang tajam dan perilaku menusuk mangsa pada ranting tajam.
WWW.JERNIH.CO – Kasus penangkapan lima ekor burung Cendet oleh seorang warga lanjut usia, Kakek Masir, di kawasan konservasi Taman Nasional (TN) Baluran, Situbondo, Jawa Timur, baru-baru ini menyita perhatian publik. Peristiwa ini bukan hanya sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga menyoroti dilema mendalam yang kerap terjadi antara upaya pelestarian alam dan tantangan pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat yang hidup di sekitar area konservasi.
Objek utama dalam perkara ini, burung Cendet, yang di kalangan penggemar dikenal sebagai burung kicauan yang agresif, memiliki profil menarik dalam ekosistem dan status hukumnya.
Burung Petarung
Secara ilmiah, burung yang akrab disebut Cendet atau Pentet ini merupakan anggota dari famili Laniidae. Di Indonesia, spesies yang paling umum diperdagangkan dan dipelihara adalah Bentet Kelabu atau Cendet Jawa, yang memiliki nama Latin Lanius schach Linnaeus, 1758.

Varian yang spesifik disebut-sebut dalam kasus Baluran adalah Cendet Pilis, salah satu sub-spesies dari Bentet Kelabu. Burung ini memiliki julukan yang cukup sangar, yakni “Jagal Kecil” (Butcher Bird), dikarenakan kebiasaannya yang unik: mereka menusuk mangsa berukuran kecil, seperti serangga atau kadal, pada duri atau ranting tajam untuk disimpan atau dimakan, menyerupai cara penjagal menyimpan daging.
Cendet merupakan burung yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi dan dikenal sebagai burung kicauan yang kuat dan cerewet. Habitat alaminya sangat cocok dengan kondisi geografis TN Baluran, yaitu daerah terbuka seperti padang rumput (savana), perkebunan, tegalan, dan tepi hutan.
Di TN Baluran yang didominasi oleh sabana, Cendet merupakan salah satu kekayaan hayati yang mendiami ekosistem tersebut. Secara fisik, Bentet Kelabu (L. schach) memiliki ukuran sedang, sekitar 25 cm, dengan ciri khas kepala dan punggung abu-abu, ekor panjang, serta topeng hitam mencolok yang melintasi area mata hingga pipi. Mereka adalah predator yang efektif, biasanya bertengger di tempat tinggi untuk memantau pergerakan mangsa.
Burung ini adalah salah satu subjek yang menarik dalam studi ornitologi dan sangat populer di kalangan penghobi kicauan di Indonesia. Ia dikenal sebagai predator kecil yang cerdas, lincah, dan agresif, menjadikannya figur yang menonjol dalam ekosistem terbuka tempat ia berdiam.
Burung Soliter
Karakteristik utamanya sebagai burung petarung sejati ditopang oleh pola hidup yang soliter dan teritorial, yang ia pertahankan dengan vokal tajam dan sikap pantang menyerah.
Kekuatan Cendet terletak pada daya sebar geografisnya yang sangat luas, meliputi sebagian besar kawasan Asia. Di Indonesia, Bentet Kelabu mudah ditemui mulai dari Pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Bahkan, adaptabilitasnya yang tinggi memungkinkan spesies ini menjangkau wilayah Timur seperti Maluku dan Papua, serta mampu hidup dari pesisir hingga ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut (m dpl).
Kemampuan beradaptasi ini memungkinkannya mendiami berbagai vegetasi, mulai dari sabana yang gersang hingga kebun dan tepi hutan. Secara global, sebarannya membentang dari Asia Selatan (seperti India dan Sri Lanka) hingga Asia Timur (seperti Tiongkok), menunjukkan dominasi regionalnya di kawasan Palaearctic and Oriental Region.
Perilaku Cendet di alam liar adalah hal yang paling membedakannya dari burung kicauan lain. Sebagai burung yang sangat teritorial, terutama pejantan, mereka akan mempertahankan area kekuasaannya dengan agresif.
Namun, perilaku yang paling ikonik dan memberikannya julukan Long-tailed Shrike adalah kebiasaan impaling atau “menusuk” mangsa. Setelah berhasil menangkap serangga besar, kadal, atau tikus kecil, Cendet sering menusuk mangsa tersebut pada duri atau kawat berduri sebelum dikonsumsi.
Tindakan ini diperkirakan berfungsi sebagai cara menyimpan makanan (lardering), memecah mangsa yang terlalu besar, atau memudahkannya dalam proses makan. Kecerdasan perilaku ini, ditambah kemampuan beradaptasi dengan manusia, menjadikannya burung yang unik, meskipun di sisi lain ia rentan terhadap peningkatan birahi (over birahi) jika diberi stimulasi pakan (Extra Fooding/EF) atau penjemuran yang berlebihan.
Dalam siklus reproduksinya, Cendet menunjukkan pola yang teratur. Di Indonesia, musim berbiak Bentet Kelabu umumnya memuncak antara Mei hingga Agustus/Juli, disesuaikan dengan ketersediaan sumber daya pakan. Selama fase ini, pejantan akan meningkatkan intensitas kicauannya sebagai upaya menarik betina.
Setelah berpasangan, betina umumnya bertelur sebanyak 2 hingga 3 butir di sarang yang dibangun di semak atau pohon. Proses pengeraman telur, yang memakan waktu antara 14 hingga 21 hari, dilakukan secara bergantian oleh kedua induk, menandakan adanya kerja sama dalam membesarkan keturunan mereka.
Sebagai pemakan daging (carnivore/insektivora), diet Cendet sangat kaya protein. Di alam, menu utamanya terdiri dari serangga besar seperti belalang, jangkrik, dan kumbang, namun mereka tidak segan memangsa vertebrata kecil lainnya, termasuk kadal atau mamalia kecil.
Dalam pemeliharaan, burung ini membutuhkan voer yang dilengkapi dengan pakan tambahan (Extra Fooding) berupa jangkrik, ulat, atau cacing tanah untuk menjaga stamina dan kualitas kicauannya. Meskipun demikian, mereka juga dapat menyukai variasi nutrisi dari buah-buahan seperti pepaya atau pisang. Secara keseluruhan, Burung Cendet adalah representasi sempurna dari predator kecil yang tangguh dan cerdas, yang kekayaan perilakunya menjadikannya salah satu burung liar paling menarik di kawasan Asia.
Harga Cendet
Harga jual Burung Cendet atau Pentet di pasar Indonesia menunjukkan variasi yang signifikan, tergantung pada usia dan potensi burung tersebut. Untuk pemula atau yang mencari harga ekonomis, kisaran harga terendah berada pada kategori Anakan/Lolohan/Piyikan (Trotol), biasanya dibanderol antara Rp 200.000 hingga Rp 400.000, karena masih membutuhkan perawatan intensif.
Sementara itu, Cendet yang baru ditangkap dari alam atau Bahan/Muda Hutan (MH) cenderung sedikit lebih murah, yakni Rp 150.000 hingga Rp 350.000, namun membutuhkan proses penjinakan yang panjang. Burung Dewasa yang sudah jinak dan rajin berbunyi (gacor rumahan), seringkali dari jenis Madura atau Jawa Timur, berada di kisaran harga menengah, yaitu Rp 400.000 hingga Rp 900.000, dan ideal untuk dipelihara tanpa tujuan lomba.
Puncak harga Burung Cendet berada pada kategori Kualitas Kontes atau Eks Gantangan, di mana harganya melambung tinggi mulai dari Rp 1.000.000 hingga lebih dari Rp 5.000.000 untuk Cendet dengan mental tempur luar biasa dan isian lagu yang lengkap.
Dalam kasus yang sangat istimewa, apabila Cendet memiliki riwayat juara nasional yang teruji dan stabil di lapangan, harganya dapat mencapai nilai fantastis, yakni puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Kualitas kicauan, gaya bertarung, asal daerah (seperti Cendet Madura yang terkenal), dan piagam prestasi menjadi faktor utama yang menentukan nilai akhir dari burung predator kecil yang populer di kalangan penghobi ini.
Meskipun kasus penangkapan ini menimbulkan reaksi hukum, menarik untuk dicatat bahwa burung Cendet secara spesies bukanlah termasuk satwa langka dan dilindungi di Indonesia. Dalam skala global, Bentet Kelabu masuk dalam kategori Risiko Rendah (Least Concern / LC) menurut Daftar Merah (Red List) International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Demikian pula di tingkat nasional, spesies ini tidak tercantum dalam daftar satwa yang dilindungi oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK). Namun, status konservasi yang aman ini tidak serta merta membebaskan penangkapnya.(*)
BACA JUGA: Burung Liar Tertua di Dunia Bertelur di Usia 74 Tahun