Jernih.co

Catatan Tersisa di Balik Pembuatan Becoming Led Zeppelin

Dokumenter ini tidak hanya merayakan musik Led Zeppelin, tetapi juga menjadi bukti dedikasi tim produksi untuk menghormati warisan salah satu band terbesar dalam sejarah rock.

JERNIH – Kadang, sebuah film dokumenter menyimpan kisah yang jauh lebih liar dan memukau dibanding filmnya sendiri. Becoming Led Zeppelin adalah salah satunya—sebuah perjalanan panjang yang tak sekadar memburu gambar dan suara, melainkan memburu jiwa dari sebuah legenda.

Led Zeppelin bukanlah Queen, bukan pula band yang mudah tunduk pada narasi siap pakai. Mereka adalah para pengelana nada, yang mengukir jalannya sendiri, enggan terperangkap dalam drama murahan. Ketika dunia menunggu kisah mereka difilmkan, para dewa rock ini memilih berdiam… hingga datang sekelompok pemburu kisah yang tahu bagaimana menyapa sejarah.

Perburuan Arsip di Penjuru Dunia

Dipimpin oleh sutradara Bernard MacMahon dan produser Allison McGourty, tim ini menghabiskan lima tahun hidup mereka menjadi penjelajah waktu. Mereka menelusuri loteng-loteng berdebu, gudang-gudang tua, hingga ruang bawah tanah yang lembap di berbagai benua. Dari London hingga Los Angeles, dari Paris hingga pelosok Australia, bahkan menyeberangi Atlantik untuk sekeping film usang yang nyaris dilupakan.

Setiap temuan adalah serpihan mozaik. Foto-foto yang nyaris pudar, rekaman konser yang terperangkap dalam pita magnetik rapuh, dan potongan wawancara yang selama puluhan tahun terpenjara dalam arsip. McGourty menyebut proses ini sebagai arkeologi musik—sebuah pekerjaan yang menguras tenaga sekaligus menghidupkan kembali gairah. Mereka menggunakan teknik restorasi mutakhir untuk membangkitkan rekaman yang sudah berusia lebih dari setengah abad, hingga layak bersinar di layar IMAX.

Salah satu kisah paling mendebarkan terjadi di sebuah gudang arsip kecil di Kopenhagen. Di sana, mereka menemukan gulungan film yang berlabel samar: “Young English Band, March 1969“. Nyaris saja gulungan itu dibuang karena dianggap tak penting. Ketika diputar, ruangan sunyi: itu adalah rekaman langka konser Led Zeppelin di Denmark, hanya beberapa bulan setelah mereka merilis album pertama. Seandainya tim produksi terlambat beberapa minggu saja, sejarah itu mungkin sudah musnah di tempat sampah.

Sebuah Persetujuan yang Hampir Mustahil

Inilah dokumenter resmi pertama dalam setengah abad yang mendapat restu penuh dari Jimmy Page, Robert Plant, dan John Paul Jones—juga izin untuk menghidupkan kembali suara mendiang John Bonham melalui wawancara arsipnya. Restu seperti ini bukanlah perkara mudah. Page sendiri pernah menolak banyak tawaran dokumenter, menganggapnya “miserable”—terlalu banyak drama murahan, terlalu sedikit musik.

Titik balik datang ketika MacMahon dan McGourty menyerahkan sebuah buku berjilid kulit, berisi storyboard yang disusun dengan detil nyaris obsesif. Page menyebutnya the conduit—jembatan yang membangun rasa percaya. Sejak saat itu, Led Zeppelin pun mau membuka pintu sejarahnya.

Harta Karun dari Ujung Dunia

Salah satu momen magis adalah ditemukannya rekaman wawancara langka John Bonham dengan penyiar radio Sydney, Graeme Berry. Arsip ini tidur puluhan tahun di National Film and Sound Archive of Australia. Bonham terkenal jarang bicara pada media, apalagi sejujur itu. Dalam rekaman tersebut, terdengar tawa, gurauan, dan percikan pemikiran seorang drummer yang hidupnya terhenti di usia 32 tahun.

Musik Sebagai Pusat Semesta

Banyak dokumenter gagal karena terjebak membicarakan skandal dan konflik personal. Becoming Led Zeppelin menolak jebakan itu. Jimmy Page memastikan setiap lagu diputar utuh, seolah penonton sedang berada di tengah konser tahun 1970-an—merasakan petikan gitar yang memanjat langit, dentum drum yang menggetarkan dada.

Ada satu momen yang membekas: di sebuah studio restorasi di London, Jimmy Page datang diam-diam untuk mendengar langsung hasil pemulihan audio konser mereka di Royal Albert Hall tahun 1970. Ruangan itu gelap, hanya ada layar besar dan suara Led Zeppelin muda yang kembali hidup. Page duduk terpaku, dan ketika lagu terakhir usai, ia hanya berkata pelan, “It’s like meeting an old friend… one you thought you’d never see again.”

Standing Ovation yang Menggema

Pemutaran perdananya di Festival Film Venesia 2021 menjadi ujian pertama. Ketika lampu ruangan menyala, penonton berdiri. Tepuk tangan itu berlangsung selama sepuluh menit penuh—sebuah pengakuan yang membuat MacMahon dan McGourty berdiri kaku, mata mereka basah.

Becoming Led Zeppelin bukan hanya sebuah dokumenter. Ia adalah surat cinta untuk sebuah band yang pernah mengubah wajah musik dunia. Sebuah perjalanan melintasi waktu, di mana setiap nada, gambar, dan kata adalah upaya untuk menghidupkan kembali nyala api yang pernah membakar jutaan hati.(*)

BACA JUGA: Becoming Led Zeppelin, Dokumenter Resmi Mengungkap Asal-Usul Legenda Rock

Exit mobile version