Site icon Jernih.co

Darah dan Dolar: Skandal ‘Insider Trading’ Para Penjudi di Balik Serangan AS-Israel ke Iran

Taruhan dalam jumlah besar ditempatkan hanya beberapa jam, bahkan menit sebelum serangan militer dimulai, memicu kemarahan para pembuat kebijakan yang menilai ada pihak yang memanen “uang darah” dari informasi rahasia militer.

JERNIH – Sementara dunia menahan napas menyaksikan ledakan rudal di Teheran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sekelompok orang justru merayakan keuntungan finansial yang masif. Skandal besar kini mengguncang Washington setelah munculnya dugaan kuat mengenai insider trading pada platform pasar prediksi seperti Polymarket dan Kalshi.

Data menunjukkan bahwa taruhan dalam jumlah besar ditempatkan hanya beberapa jam—bahkan menit—sebelum serangan militer dimulai, memicu kemarahan para pembuat kebijakan yang menilai ada pihak yang memanen “uang darah” dari informasi rahasia militer.

Sorotan tajam tertuju pada seorang pengguna Polymarket dengan nama samaran “Magamyman”. Investor anonim ini dilaporkan meraup keuntungan lebih dari US$500.000 (sekitar Rp7,9 miliar) hanya dalam satu hari.

Anggota DPR AS dari California, Mike Levin, mengungkapkan temuan yang mengejutkan. “Magamyman” memasang taruhan bahwa Khamenei akan kehilangan kekuasaan saat probabilitas di pasar hanya sebesar 17%. Taruhan pertama ditempatkan tepat 71 menit sebelum berita serangan pecah ke publik.

Tak hanya itu, firma analitik Bubblemap mendeteksi akun-akun lain seperti “Planktonbet” dan “nothingeverhappens911” yang baru dibuka pada Februari dan secara eksklusif hanya bertaruh pada nasib Iran dalam kurun waktu 24 jam sebelum serangan.

Pasar prediksi memungkinkan orang membeli “saham” berdasarkan hasil peristiwa dunia nyata. Jika peristiwa terjadi (misal: AS menyerang Iran), nilai saham menjadi maksimal. Praktik ini kini digugat secara etis.

“Haruskah kita berjudi atau menciptakan pasar berjangka atas demokrasi kita sendiri? Haruskah kita melakukan ini pada geopolitik dan perang?” tanya Ryan Kirkley, CEO Global Settlement. “Olahraga adalah hiburan, bertaruh di sana adalah satu hal. Tapi sangat berbeda ketika kita bicara tentang supremasi hukum, integritas demokrasi, dan keselamatan nyawa orang.”

Gelombang Penolakan Lintas Partai

Kemarahan ini menyatukan politisi dari spektrum kiri maupun kanan. Dari sisi Demokrat, Senator Chris Murphy menyebut taruhan ini “gila” dan berjanji akan memperkenalkan undang-undang sesegera mungkin untuk melarang pasar prediksi yang melibatkan konflik bersenjata. “Orang dalam pemerintahan yang tahu hasilnya bisa mencurangi permainan,” tegasnya.

Semantara dari Partai Republik, Mantan Direktur Anggaran Gedung Putih era Trump, Mick Mulvaney, meluncurkan koalisi “Gambling Is Not Investing”. Sementara Gubernur Utah, Spencer Cox, menyebutnya sebagai “perjudian murni” dan menuntut pelarangan total.

Satu hal yang menambah kompleksitas masalah ini adalah kedekatan kedua platform besar tersebut dengan lingkaran dalam Presiden Donald Trump.

Setelah penyelidikan Departemen Kehakiman dihentikan pada Juli 2025, perusahaan ini menerima pendanaan dari 1789 Capital, firma yang terafiliasi dengan Donald Trump Jr. Anak sulung Presiden itu kini menjabat sebagai dewan direksi Polymarket.

Donald Trump Jr. juga bergabung sebagai penasihat strategis di Kalshi pada Januari 2025. Selain itu, beberapa mantan staf Kalshi kini menduduki posisi strategis di pemerintahan Trump, termasuk di Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) dan Departemen Keuangan.

Menanggapi kecaman, Kalshi menerapkan kebijakan “Death Carveout”, yang melarang penarikan keuntungan jika hasil sebuah peristiwa melibatkan kematian atau pembunuhan. Kalshi mengklaim telah mengembalikan biaya dan kerugian bersih bagi pengguna di pasar Iran karena alasan etika.

Sebaliknya, Polymarket tetap bertahan. Platform berbasis kripto yang beroperasi offshore (di luar AS) ini berargumen bahwa pasar prediksi justru memberikan “kebijaksanaan massa” yang lebih akurat daripada berita di televisi untuk meramal masa depan dunia yang penuh ketidakpastian.

Hingga saat ini, Polymarket masih menghadirkan taruhan sensitif lainnya, seperti: “Apakah rezim Iran akan runtuh sebelum 2027?” dan “Siapa yang akan memasuki Iran pada 30 Juni?”.

Exit mobile version