Hanya dalam hitungan tahun, wanita tangguh berdarah Rusia-Amerika ini menyapu bersih gunung-gunung raksasa di atas 8.000 meter. Dari gemerlap panggung hiburan hingga menantang badai es abadi.
WWW.JERNIH.CO – Dunia pendakian gunung ekstrem diramaikan oleh kemunculan seorang srikandi tangguh bernama Nikol Algerdos Kovalchuk. Memiliki kewarganegaraan ganda Rusia dan Amerika Serikat, Nikol telah menorehkan tinta emas dalam sejarah alpinisme global.
Ia bukan pendaki biasa, melainkan potret nyata bahwa batasan fisik, usia, dan gender dapat dilampaui melalui disiplin tinggi. Di luar statusnya sebagai pendaki elite, Nikol adalah seorang pengusaha, filantropis, istri dari mantan bintang hoki es legendaris NHL Ilya Kovalchuk, serta ibu dari empat orang anak. Namun, sebelum dikenal sebagai penakluk badai es, kehidupan Nikol berada di bawah sorotan lampu yang sangat berbeda.

Jauh sebelum menapaki medan vertikal, publik Rusia mengenal Nikol dengan nama gadisnya, Nikol Ambrazaitis. Ia mengawali kariernya di dunia modelling dan industri hiburan, bahkan sempat menjadi bagian dari Mirage, sebuah grup musik pop vokal yang cukup populer di Rusia.
Setahun setelah menikah pada 2007, ia memilih menepi dari gemerlap panggung hiburan untuk fokus mengurus keluarga besarnya. Kendati demikian, hasratnya terhadap disiplin fisik tidak pernah pudar. Nikol mengalihkan energinya ke industri kebugaran (fitness enthusiast), menjadi filantropis, dan mendirikan lini pakaian aktifnya sendiri, BeEverything. Pondasi ketahanan fisik dari dunia kebugaran inilah yang kelak menjadi modal berharga ketika ia beralih ke salah satu olahraga paling mematikan di dunia.
Perjalanan Nikol di medan tinggi dimulai relatif terlambat, yaitu sekitar tahun 2019. Awalnya, ia hanya berniat melakukan proyek Seven Summits (mendaki tujuh puncak tertinggi di tujuh benua). Namun, pesona gunung-gunung raksasa di Asia mengubah haluan hidupnya secara dramatis.
Pada 16 Mei 2023, Nikol berhasil menginjakkan kaki di puncak Mount Everest (8.848 meter), menjadikannya orang berpaspor Rusia-Amerika pertama yang menaklukkan atap dunia tersebut. Keberhasilan ini memicu ambisi yang jauh lebih ekstrem: mendaki seluruh 14 puncak gunung dunia yang berketinggian di atas 8.000 meter (Eight-Thousanders) di sepanjang pegunungan Himalaya dan Karakoram.
Ketangguhannya teruji nyata saat ia menjelajahi Pakistan pada pertengahan tahun 2023. Bermitra dengan Elite Exped—agensi pendakian milik pendaki legendaris Nimsdai Purja—Nikol mencatatkan rekor mencengangkan. Dalam kurun waktu hanya 25 hari, ia sukses berdiri di empat puncak paling mematikan di dunia: Nanga Parbat (2 Juli), Gasherbrum II (17 Juli), Gasherbrum I (21 Juli), dan K2 (27 Juli).
Tanpa rasa takut, ia melanjutkan sapu bersih puncak-puncak raksasa lainnya seperti Manaslu, Dhaulagiri, Annapurna, hingga Makalu. Tidak hanya itu, pada 15 Desember 2024, ia sempat melipir dari pegunungan untuk menuntaskan tantangan South Pole Last Degree, melintasi derajat terakhir menuju Kutub Selatan menggunakan ski.
Puncak dari dedikasi luar biasa ini genap terjadi pada pertengahan tahun 2025. Nikol resmi menuntaskan misi 14 Puncak Tertinggi Dunia setelah mencapai puncak Kangchenjunga pada 21 Mei 2025. Hanya berselang beberapa minggu, tepatnya pada 6 Juni 2025, ia menggenapi proyek Seven Summits-nya di puncak Gunung Denali, Alaska.
Keberhasilan ganda ini mengantarkannya pada gelar langka “Double Grand Slam”, sekaligus menempatkannya di jalur elite dunia untuk meraih “True Explorers Grand Slam”, sebuah pencapaian yang hanya bisa diselesaikan oleh segelintir manusia di bumi.(*)
BACA JUGA: Dua Pendaki Putri Indonesia Kibarkan Merah Putih di Ama Dablam di Waktu Berbeda