Jernih.co

Dari Santo Valentine Sampai Meja Makan Romantis di Dago

Ilustrasi, dibantu Ai

“Sunset to Stars”: Cara Baru Merayakan Valentine di Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung. Berbeda dengan makan malam biasa, “Sunset to Stars” dirancang mengikuti ritme alam. Tamu datang saat matahari mulai turun di perbukitan Dago, lalu perlahan menikmati perubahan cahaya dari jingga senja ke gemerlap lampu kota Bandung di malam hari.

JERNIH– Hari Valentine selalu punya sejarah unik. Bermula dari kisah Santo Valentine di Roma abad ke-3—yang diam-diam menikahkan pasangan muda meski dilarang kaisar—hari ini berubah menjadi perayaan global tentang cinta, perhatian, dan… tentu saja, makan malam romantis. Dari Paris sampai Tokyo, dari restoran kecil sampai hotel mewah, Valentine identik dengan satu ritual klasik: dinner berdua di bawah cahaya lilin.

Di Indonesia, tradisi itu makin hidup. Data platform reservasi restoran menunjukkan, setiap 14 Februari, permintaan meja makan romantis melonjak hingga dua sampai tiga kali lipat dibanding hari biasa. Orang tak sekadar ingin makan enak, tapi mencari pengalaman emosional—pemandangan indah, musik lembut, dan suasana yang membuat waktu seolah melambat.

Tahun ini, tren itu ditangkap dengan apik oleh Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung lewat program khusus bertajuk “Sunset to Stars: Valentine Dinner with a View.” Sebuah konsep yang memadukan tiga hal yang selalu dicari pasangan di hari Valentine: makanan istimewa, suasana intim, dan pemandangan yang sulit dilupakan.

Dari Sunset ke City Lights

Berbeda dengan makan malam biasa, “Sunset to Stars” dirancang mengikuti ritme alam. Tamu datang saat matahari mulai turun di perbukitan Dago, lalu perlahan menikmati perubahan cahaya dari jingga senja ke gemerlap lampu kota Bandung di malam hari.

Meja ditata khusus dengan dekorasi romantis, cahaya lilin, dan iringan live acoustic music—sebuah detail kecil yang sering jadi pembeda antara “sekadar makan malam” dan “malam yang dikenang bertahun-tahun.”

Tak heran, banyak psikolog relasi menyebut bahwa makan malam romantis adalah salah satu bentuk ritual bonding paling efektif. Duduk berhadapan, tanpa gangguan, sambil berbagi makanan, membuat pasangan lebih mudah membuka percakapan personal—sesuatu yang justru sering hilang di tengah kesibukan harian.

Menu Valentine: Bukan Sekadar Makan, Tapi Cerita Rasa

Dengan harga IDR 688.000++ per pasangan, paket ini menyuguhkan set menu yang memang dirancang untuk berbagi, bukan untuk terburu-buru.

Perjalanan rasa dimulai dari amuse bouche berupa roti artisan hangat dengan herb butter—simbol klasik “pembuka percakapan” di meja makan romantis.

Lalu hadir grilled prawn salad dengan citrus vinaigrette yang segar, disusul cream of mushroom soup beraroma truffle oil, lembut dan hangat, cocok untuk suasana malam Dago yang sejuk.

Untuk hidangan utama, pasangan bisa memilih:

-Grilled beef tenderloin dengan potato gratin creamy, sayuran musiman, dan beef jus yang kaya, atau

-Pan-seared salmon fillet dengan saus lemon butter, mashed potato, serta tumisan asparagus, brokoli, dan baby carrot.

Sebagai penutup, dessert klasik yang nyaris wajib di hari Valentine: chocolate lava cake dengan lelehan cokelat di tengah, disajikan bersama vanilla ice cream dan strawberry coulis—kombinasi yang secara ilmiah (ya, benar-benar ilmiah) terbukti meningkatkan hormon dopamin dan serotonin, alias hormon bahagia.

Cokelat, Mocktail, dan Efek Psikologis Valentine

Bukan kebetulan cokelat selalu hadir di Hari Valentine. Dalam banyak riset, cokelat mengandung phenylethylamine, senyawa kimia yang juga muncul saat seseorang jatuh cinta. Karena itu, Swiss-Belresort menambahkan cokelat praline gratis dan mocktail spesial untuk pasangan sebagai bagian dari paket.

“Dengan lokasi di perbukitan Dago, pemandangan kota yang menawan, serta suasana yang hangat dan intim, ‘Sunset to Stars’ menjadi pilihan sempurna bagi pasangan yang ingin merayakan Hari Valentine secara elegan dan penuh makna,” kata Gerri Primacitra, General Manager Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung.

Dalam konteks modern, Valentine memang bukan lagi sekadar hari memberi bunga atau cokelat, tapi hari menciptakan memori. Psikolog sosial menyebut, pengalaman bersama—terutama yang melibatkan pancaindra seperti rasa, aroma, dan visual—akan tersimpan lebih kuat dalam ingatan dibanding hadiah fisik.

Dago, Golf Course 1917, dan Romantisme yang Tak Instan

Ada satu keunikan lain yang membuat lokasi ini berbeda. Swiss-Belresort Dago Heritage berdiri di kawasan Dago Heritage Golf Course, lapangan golf bersejarah yang dibangun sejak 1917—salah satu yang tertua di Indonesia. Artinya, romantisme di sini bukan buatan instan, tapi lahir dari lanskap alam dan sejarah panjang.

Dengan 161 kamar, fasilitas restoran, lounge, spa, gym, kolam renang air hangat berkonsep infinity view, hingga wine corner, hotel ini memang sejak awal dirancang sebagai destinasi escape dari hiruk-pikuk kota.

Di Hari Valentine, semua elemen itu disatukan dalam satu narasi sederhana: datang saat senja, pulang saat bintang. Dan mungkin, seperti legenda Santo Valentine berabad-abad lalu, yang tersisa bukan cuma foto Instagram—tapi cerita yang kelak diceritakan ulang: “Dulu kita pernah makan malam di Dago, ingat nggak?” [ ]

Exit mobile version