Ini dia Leonardo da Vinci Modern dari Meksiko. Di usia belia, David mencatatkan skor IQ yang melampaui Albert Einstein dan Stephen Hawking.
WWW.JERNIH.CO – Ini kisah bocah ajaib asal Meksiko bernama David da Vinci (atau sering dikenal dengan nama lengkap David Aguilar atau dalam beberapa literatur lokal disebut sebagai “The New Da Vinci”). Di usianya yang masih sangat belia, David tercatat memiliki skor Intellectual Quotient (IQ) yang sangat mencengangkan, yakni mencapai 162.
Angka ini secara teknis melampaui estimasi IQ milik dua pemikir paling berpengaruh dalam sejarah manusia, Albert Einstein dan Stephen Hawking, yang keduanya diperkirakan memiliki skor di kisaran 160.
David lahir dan tumbuh di lingkungan yang awalnya tampak biasa saja di Meksiko. Namun, tanda-tanda kejeniusannya mulai terlihat sejak ia masih balita. Di saat anak-anak seusianya masih belajar menyusun kalimat sederhana, David sudah menunjukkan ketertarikan yang mendalam pada struktur mekanika, matematika kompleks, dan literatur sains.
Kecepatan belajarnya yang eksponensial membuat para guru dan orang tuanya menyadari bahwa David bukan sekadar anak cerdas biasa. Setelah melalui serangkaian tes psikometri formal, hasil menunjukkan bahwa ia termasuk dalam kategori highly gifted atau anak dengan keberbakatan intelektual tinggi.
Untuk memberikan perspektif, rata-rata IQ manusia berada di angka 100. Seseorang dianggap “superior” jika memiliki IQ di atas 120, dan masuk kategori “genius” jika melampaui 140. Skor 162 milik David menempatkannya di persentil teratas populasi dunia—hanya sekitar 0,001% manusia yang memiliki kapasitas kognitif seperti ini.
Dengan IQ setinggi itu, David memiliki kemampuan menganalisis masalah kompleks dan menemukan solusi logis dalam hitungan detik. Ia juga dapat menyerap informasi dari buku atau jurnal ilmiah dengan kecepatan luar biasa.
BACA JUGA: Bocah Usia 11 Tahun Punya IQ Melebihi Albert Einstein dan Stephen Hawking
Dalam hal berpikir multidimensional ia bisa memahami konsep fisika dan teknik yang biasanya hanya diajarkan di tingkat universitas.
Julukan “da Vinci” tidak diberikan tanpa alasan. Selain kecerdasan logikanya, David menunjukkan bakat luar biasa dalam bidang teknik dan inovasi. Ia sangat mahir dalam merakit perangkat robotik dan memiliki pemahaman mendalam tentang mekanika. Salah satu pencapaiannya yang paling ikonik adalah kemampuannya membangun fungsionalitas prostetik atau alat bantu mekanis menggunakan blok mainan (LEGO) dengan presisi yang mengejutkan.
Kombinasi antara seni kreativitas dan ketajaman teknik inilah yang membuat publik menyamakannya dengan sang polimatik masa Renaisans, Leonardo da Vinci.
Meskipun memiliki otak yang luar biasa, perjalanan David tidak selalu mulus. Anak-anak dengan IQ setinggi ini sering kali menghadapi tantangan sosial. Sistem sekolah konvensional seringkali terasa terlalu lambat dan membosankan bagi mereka, yang bisa memicu rasa frustrasi.(*)
BACA JUGA: Sabrina Pasterski si Einstein Masa Depan yang Bikin Musk dan Bezos Kepincut
