Meskipun sukses mendominasi kancah domestik, Hansi Flick merasa skuad Barcelona saat ini belum cukup tangguh untuk menaklukkan Eropa. Apalagi usai digasak Atletico di Liga Champions.
WWW.JERNIH.CO – Hansi Flick tidak datang ke Barcelona hanya untuk menjadi pelatih transisi. Setelah berhasil mengamankan gelar domestik dan memperpanjang kontraknya hingga 2028, pelatih asal Jerman ini kini tengah merancang sebuah cetak biru ambisius untuk merombak total skuad Blaugrana.
Meski Barcelona saat ini mendominasi La Liga, kegagalan menyakitkan di perempat final Liga Champions 2025/2026 melawan Atletico Madrid menjadi pemicu utama mengapa Flick menuntut perombakan radikal di musim panas mendatang.
Alasan utama Flick adalah ketidakseimbangan profil pemain. Sejauh ini, Barcelona di bawah Flick dikenal sebagai mesin gol yang sangat produktif—mencatatkan lebih dari 300 gol dalam waktu relatif singkat. Namun, statistik menunjukkan sisi gelap: pertahanan mereka sangat rapuh saat menghadapi serangan balik cepat di level Eropa.
Flick menginginkan intensitas yang tidak bisa ditawar. Ia merasa beberapa pemain lama tidak lagi memiliki kecepatan fisik untuk menerapkan skema high-pressing dan garis pertahanan tinggi yang menjadi ciri khasnya.
Baginya, untuk memenangkan Liga Champions, Barcelona tidak bisa hanya mengandalkan bakat individu Lamine Yamal atau ketajaman Robert Lewandowski yang kian menua; mereka butuh kolektivitas fisik yang lebih tangguh.
Target Flick sangat jelas: mengembalikan trofi Liga Champions ke Camp Nou. Setelah mendominasi kancah domestik dengan meraih treble di musim pertamanya (La Liga, Copa del Rey, dan Supercopa), Flick merasa skuad saat ini telah mencapai batas maksimalnya secara mental dan fisik.
Perombakan ini bertujuan untuk menyuntikkan “darah baru” yang lebih lapar dan memiliki profil atletis yang lebih modern guna menandingi intensitas klub-klub seperti Manchester City atau Bayern Munich.
Langkah paling berani Flick adalah kesiapannya untuk melepas beberapa nama besar demi menyeimbangkan neraca keuangan dan ruang gaji (sesuai aturan 1:1 La Liga). Di antaranya; Ansu Fati, pemain yang sempat digadang-gadang sebagai pewaris Lionel Messi ini dikabarkan tidak masuk dalam rencana masa depan Flick akibat masalah cedera yang tak kunjung usai.
Lalu Robert Lewandowski, meski masih tajam, usianya yang mendekati masa pensiun dan gaji yang sangat tinggi membuat klub mulai mempertimbangkan tawaran dari MLS untuk memberikan ruang bagi striker yang lebih muda.
Marcus Rashford, pemain asal Inggris ini dilaporkan gagal meyakinkan Flick dalam sistem taktiknya dan kemungkinan besar akan dilepas untuk mendanai pembelian pemain baru.
Lantas ada Jules Kounde dan Marc Casado di mana nama-nama ini juga muncul dalam rumor bursa transfer sebagai aset yang bisa dijual dengan harga tinggi demi memberikan fleksibilitas finansial bagi klub.
Flick telah menyerahkan daftar keinginan kepada Direktur Olahraga, Deco. Fokus utamanya adalah lini pertahanan dan sayap kiri. Ada Alessandro Bastoni (Inter Milan), bek tengah asal Italia ini adalah target impian Flick. Bastoni dianggap sempurna karena kemampuan progresi bola dan kecepatannya dalam menjaga garis pertahanan tinggi.
Bernardo Silva (Manchester City) dengan kontrak yang mendekati akhir, Silva tetap menjadi prioritas untuk menambah kreativitas dan kontrol di lini tengah.
Flick tertarik pula ke Julian Alvarez (Atletico Madrid). Barcelona mencari striker masa depan untuk menggantikan Lewandowski, dan nama Alvarez berada di posisi teratas sebagai penyerang yang memiliki mobilitas tinggi sesuai selera Flick.
Nama Rafael Leao (AC Milan) masuk radar untuk sektor sayap, Leao menjadi kandidat utama untuk memberikan ledakan kecepatan di sisi kiri yang selama ini dianggap kurang maksimal.
Dengan kontrak baru hingga 2028, Hansi Flick memiliki otoritas penuh untuk membentuk tim sesuai visinya. Musim panas 2026 akan menjadi titik balik apakah revolusi “Flick-ball” ini mampu mengembalikan kejayaan Barcelona sebagai penguasa absolut sepak bola Eropa atau sekadar menjadi dominasi domestik yang semu.(*)
BACA JUGA: Revolusi Intensitas Hansi Flick, Raphina Cetak Hattrick
