Crispy

DEN Ungkap ‘Harta Karun’ Indonesia Senilai Rp15.000 Triliun, Apa Itu?

JERNIH — Indonesia kembali membuktikan dirinya sebagai negeri kaya raya yang dianugerahi mutu manikam di perut bumi. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mengungkapkan bahwa harta karun terbesar bangsa saat ini bukanlah emas atau tembaga, melainkan kombinasi nikel dan kobalt dengan nilai fantastis mencapai US$750 hingga US$800 miliar—atau setara Rp15.000 triliun.

Angka raksasa tersebut bersumber dari cadangan terbukti (mineable) sebanyak 52 juta ton nikel dan 1,2 juta ton kobalt yang sudah siap dieksplorasi.

Tim Ahli Pertambangan dan Mineral DEN, Nathaniel Adhynegara, menegaskan bahwa potensi Rp15.000 triliun ini setara dengan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia untuk lima tahun penuh.

“Kalau kita estimasi berdasarkan pasar LME (London Metal Exchange) saat ini, valuasinya untuk cadangan nikel sekitar 700 miliar dolar AS, sedangkan kobalt sekitar 50 miliar dolar AS. Totalnya 800 miliar dolar AS atau Rp15.000 triliun. Ini sangat penting untuk kita optimalkan agar dikelola sebaik-baiknya demi kemakmuran rakyat, jangan ugal-ugalan,” ujar Nathaniel di Jakarta, Minggu (30/8/2026).

Dampak kebijakan hilirisasi nikel yang digulirkan pemerintah kini mulai menunjukkan hasil spektakuler. Pertumbuhan smelter nikel—khususnya di kawasan Sulawesi—berkembang sangat pesat hingga mampu menyerap kapasitas produksi hingga 1,8 juta ton.

Peningkatan ini berdampak langsung pada nilai ekspor nasional yang melonjak tajam:

Indikator Kinerja HilirisasiCapaian Tren Perjalanan
Nilai Ekspor (2014)US$ 3 Miliar
Nilai Ekspor (2025)US$ 37 Miliar (Meningkat 12 Kali Lipat)
Volume Produksi (2025)Menembus angka 19 Juta Ton
Produk Turunan Saat IniNickel Pig Iron (NPI), Baja, MHP, dan MSP

Tidak berhenti pada produk setengah jadi seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) atau Mixed Sulphide Precipitate (MSP), pemerintah bersiap mendorong industri pertambangan nasional ke level yang lebih masif.

Fokus hilirisasi mendatang akan digeser lebih jauh ke ranah industri hilir akhir, yaitu manufaktur baterai lithium hingga perakitan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) secara mandiri. Langkah ini diambil untuk memastikan Indonesia tidak sekadar menjadi penyedia bahan mentah, melainkan pemain kunci dalam rantai pasok energi hijau global.

Back to top button